W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Bekal Aleg Berjuang di Parlemen

Oleh Al Muzzamil Yusuf

Pengalaman 188 kader PKS yang berjuang di parlemen hasil Pemilu 1999 memperlihatkan dalam sistem demokrasi tugas ishlahul hukumah (perbaikan pemerintahan) tak hanya membutuhkan jumlah yang banyak (mayoritas), tapi juga wawasan, pengetahuan dan komitmen para aleg terhadap tugasnya. Jumlah yang banyak takkan berarti jika para aleg kehilangan orientasi perjuangannya.

Tugas pertama yang harus dijalani oleh para kader PKS adalah memperkuat dewan sehingga berfungsi sebagaimana mestinya. Sudah menjadi rahasia umum saat ini gedung dewan hanya menjadi ajang “dagang sapi” untuk kepentingan pribadi.

Dewan yang kuat, paling tidak, memiliki empat kemampuan yang berjalan optimal. Pertama, kemampuan menyerap dan menampung aspirasi rakyat. Kedua, kemampuan menjaring aspirasi tersebut. Ketiga, kemampuan lobi, negosiasi pada masyarakat dan internal dewan. Keempat, kemampuan merumuskan kebijakan/ peraturan/peruhdang-undangan.

Dewan akan berfungsi dengan baik jika dipenuhi oleh para aleg yang baik. Paling tidak ada 6 ciri aleg yang baik. Pertama, memiliki visi-missi yang jelas. Kedua, memiliki data/info yang dibutuhkan untuk menjalankan tugasnya, misalnya data undang-undang (UU), peraturan pemerintah, peraturan daerah, APBN/APBD, dan penunjang lain. Ketiga, memiliki staf ahli. Keempat, memiliki kemampuan membuat atau membaca peraturan/UU. Kelima, mampu membangun koalisi yang seide. Keenam, berani mengambil resiko.

Tugas itu dapat ditunaikan dengan baik jika para aleg aktif mencermati kondisi daerah yang menjadi tanggungjawabnya, banyak membaca, menyerap informasi dan juga menjalin komunikasi dengan massa pemilih. Tugas mengumpulkan informasi bisa dilakukan sendiri atau dilakukan tim yang dibentuk oleh ale bekerjasama dengan struktur partai hingg lever paling bawah (DPRa atau Korwe).

Memang tugas itu tidaklah ringan. Terbukti, saat peran dan ciri aleg yang baik itu disampaikan dalam sebuah training aleg, terdengar suara pesimistik dari para aleg yang baru terpilih, mengingat aleg PKS masih sedikit di tingkat nasional maupun lokal. Jika terjadi voting, sementara tak ada jaminan terjadi money politics dari berbagai kelompok yang berkepentingan menyogok aleg, akan sulit diharapkan muncul/menangnya UU peraturan yang kita perjuangkan.

Sikap pesimistik tersebut semestinya tak terjadi jika para aleg PKS menyadai bahwa fungsi mereka tidak terbatas padi aspek perjuangan pembentukan kebijakai (legislasi). Tapi, mereka juga memainkai dua fungsi lainnya. Fungsi lain yam dimaksud adalah:

1. Fungsi sebagai politisi
Dalam konteks budaya money politics yang kuat dalam pengambilan keputusan di Dewan, aleg-aleg PKS harus mengekspose hal ini ke media massa dan publik sekaligus, dengan minimal dua target, yaitu pressure (tekanan) publik dan media terhadap aleg yang korup, dan sekaligus investasi pemilu berikutnya. Memang untuk melakukannya dibutuhkan keberanian. Sebab, bukan tidak mungkin akan menuai ancaman, bahkan tindak kekerasan terhadap kita.

2. Fungsi sebagai dai
Sebagai dai, kita tidak boleh pesimis. Tugas kita hanya dua saja, yaitu amal ma’ruf nahi munkar (QS. 3:104/110) dan wata’awanu ’alal birri …(QS. 5:3). Dalam konteks pergaulan/lobi/aliansi pada sesama aleg/fraksi, dua prinsip itu kita gunakan. Menyeru/mendorong pada kebaikan tak bisa dilakukan sendiri, tapi juga harus membangun koalisi/ aliansi dengan kekuatan-kekuatan lain yang memiliki ide yang sama. Begitu juga ketika mencegah kerusakan dan kemunkaran.

Agar tugas aleg berjalan maksimal, yang tak kalah penting adalah fungsi pengawasan dari struktur dan seluruh kader. Struktur dan seluruh kader harus berperan sebagai pengawas kinerja aleg di dewan. Jangan segan-segan untuk memberikan masukan atau informasi penting, dan bahkan menegur jika aleg kelihatan ada kecenderungan untuk menyimpang.

Itulah hakikat oposisi kritis dan konstruktif. Pada tingkat yang lebih optimal, hubungan kita dengan mereka (aleg partai lain) bisa mengkristal menjadi hubungan “murabbi-mutarabbi” (guru-murid), atau minimal dakwah fardiyah. Jika fungsi kerja aleg tersebut dapat direalisir, maka kita telah mencapai dua target utama kaderisasi PKS: rijalud da’wah (fungsi dai) dan rijalud daulah (fungsi politisi).

Sumber: SAKSI No. 16 Tahun VI 9 Juni 2004

Dipublikasi ulang dengan sedikit pengeditan oleh Admin DPD PKS Sidoarjo