W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Benalu

Oleh: KH. Rahmat Abdullah

Kecuali pada benalu teh yang diyakini berkhasiat menyembuhkan kanker, hampir semua jenis benalu dipandang negatif, meng-erogoti dan pengeretan. Ia bukan hanya menumpang, melainkan juga menghisap zat instan yang telah diproses dengan susah payah oleh mekanisme tumbuhan itu. Ia benar-benar pagar makan tanaman. Lihatlah mangsa-mangsanya. Mereka kurus kering kehilangan zat hara, sementara sang benalu subur makmur.

Dalam tubuh manusia, parasit ini berdomisili di tempat paling strategis. Ajaib, ada manusia beternak cacing dalam perutnya. Anak-anak itu menjadi buncit, tetapi minus gizi. Pandangan matanya tumpul, daya pikirnya lemah dan pertumbuhannya lamban, tersendat-sendat. Dalam tampilan memprihatinkan itu, mereka masih jadi sasaran kekesalan karena rewel.

Tikus bukan hanya menimbulkan kerugian berjuta-juta karena buku-buku berharga dilukainya, stelan jas yang mahal digerogotinya, kabel komputer dikeratnya atau makanan yang lezat dikacaunya, tetapi juga karena kotorannya. Bau kencingnya menyesakkan nafas. Bahkan, mengkhayalkannya saja dapat menimbulkan gatal-gatal badan atau flu sesaat. Mereka bergerilya, walaupun tak sampai menduduki seluruh ’kerajaan’ rumah kita, namun gerakannya yang laten selalu menyita perhatian dan waktu, bahkan harta.

Benalu Bangsa-Bangsa

“Kamu punya masalah, di Indonesia?” tanya seorang Prancis kepada seorang mahasiswa Indonesia yang sekarang sudah doktor.

“Ya, pasti, orang hidup ada saja problemanya,” jawab yang ditanya.

“Bukan, maksudku kau punya masalah dengan…,” disebutnya salah satu etnik yang punya sifat suka dagang, ulet, supel bergaul, punya budaya suap yang kuat dan berakar.

“Ya, itulah masalahnya, kamu dengan siapa?”

“Bangsaku punya masalah dengan Juift (Yahudi). Kau lihat toko-toko, kam-pus-kampus, konglomerasi dan semua simpul perekonomian, mereka yang menguasai dan bukan milik kami. Kami tidak menjadi tuan di negeri sendiri.”

Secuplik dialog tadi mungkin menjadi topik yang sama di Amerika, Jerman atau di Arab sendiri. Masalahnya apa bedanya benalu dengan spora. Jika yang ditumpangi senang, buat apa memikirkan harga diri bangsa? Spora itu telah membuat Hitler memanen buah kerjanya dan bangsa Jerman memetik pensiun pahit mereka entah untuk berapa tahun, windu atau abad lagi.

Benalu di Tubuh Umat

Status keumatannya tak tergugurkan. Darah mereka tak tertumpahkan kecuali bila ditemukan mereka angkat senjata. Betapa besar rencana Abdullah bin Ubay, kolaborator Yahudi dan musyrikin Quraisy? Tetapi ia (tak) pernah dikeluarkan dari status orang Islam. Isterinya tak otomatis tergugurkan seperti isteri orang yang pindah agama. Tetapi mereka kerap lepas dari delik hukum. Mereka tampil meyakinkan, berkata dengan multi makna dan berdiplomasi yang sukar ditandingi (QS 63:4).

Nubuwah dan khilafah harus memperlakukan mereka dengan arif, walaupun dalam statemen menyikapi mereka harus keras (QS 9:73 dan 66:9). Khalifah Umar hanya menyuruh stafnya untuk melihat, dalam shalat jenazah di Masjid, adakah Hudzaifah ikut serta? Bila tidak, itu tanda yang mati munafik. Kehormatan khilafah tak boleh dijatuhkan dengan menyolatkan musuh umat yang menyembunyikan kekufuran dalam diri mereka. Betapa kekuatan pesan Al Qur’an begitu terang menyoroti kemunafikan mereka, cukup menjadi lampu yang benderang.

Dalam kehidupan berbangsa, kerap kita lihat mereka yang tangannya berlumuran darah umat, perut mereka penuh dengan uang hasil kemiskinan bangsa dan otak mereka penuh jelaga korupsi, kolusi, nepotisme dan bapakisme (KKN-B). Dengan modal kecil, kadang selembar sorban dan sebuah kopiah-mereka panen besar. Ingatan rakyat terlalu tumpul untuk mengingat kelicikan para begajul sebelum mereka atau untuk sekedar menye-lamatkan diri dari intimidasi dan tipu daya mereka. Ada pepatah lama yang mencerminkan keberulangan masyarakat dalam ketertipuan. “Rahimallahu al sariqa al-awwal” (semoga Allah mengasihi pencuri terdahalu).

Benalu Ibadah

Ibadah, baik ritual maupun pengabdian yang luas tak kebal penyusutan, bahkan kepunahan. Pada mulanya adalah niat, pangkal dari segala aksi. Karenanya, para ulama menyebutkan hadist niat sebagai sepertiga ilmu. Tak cukup alasan untuk bosan mengkaji ikhlas.

Seorang imam tingkat kelurahan dari sebuah ormas besar umat, sampai mati menyeberang, murtad dan sangat serius dalam memusuhi agama dan umatnya ini dengan manipulasi, agitasi dan berbagai cara busuk lainnya. Ia kalah tarung dalam proses pemilihan kepala cabang ormas itu. Kecewa berat berlarut-larut, sampai seorang pendeta membaptisnya.

Bisa dibayangkan, mereka yang menjual akidahnya dalam bab yang mereka anggap rumit lainnya, seperti rejeki, asmara dan kedudukan, termasuk mereka yang takut berterus terang murtad, tetapi tak henti-hentinya memusuhi apa yang mereka anggap Islam jumud dan sebagainya. Bahkan dari sekilas kata yang mereka ucapkan-keluhan, pujian, cercaan, gerutuan, ataupun kritik-teraba penyimpangan niat itu. “Dan kamu benar-benar akan menge-nal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuat-an kamu.” (QS. 47:29-30).

Apa yang membedakan penawaran diri untuk melaksanakan suatu tugas atau posisi sebagai bentuk tanggungjawab dengan semata-mata ambisi pribadi? Sama dengan membedakan kepribadian Nabi Yusuf as dengan Abdullah bin Ubay. Yusuf si Benar, telah begitu panjang mengalami cobaan dan tempaan. Kematangan jiwanya nampak selalu meningkat dari tahun ke tahun.

Pertama, di masa remaja ia berhasil menolak rayuan Imraatul Aziz (isteri pembesar Mesir), dengan kalimat sempurna, “Aku berlindung kepada Allah.” (QS. 12:23). Ia tidak mengatakan malu atau takut diketahui orang atau tertangkap basah.

Kedua, dalam penderitaannya di penjara, tak pernah menyia-nyiakan peluang da’wah. “Wahai kedua penghuni penjara, ma-nakah yang baik, tuhan-tuhan yang berma-cam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (QS. 12:39-40).

Ketiga, saat datang utusan raja yang memintanya datang ke istana, ia tidak spontan pergi, malah disuruhnya utusan itu kembali (QS. 12:50). Sebelumnya, ia begitu berharap saat teman sepenjaranya dipekerjakan kembali di istana raja, dapat menyebut (kasus)nya, agar dapat pembebasan. Tetapi setan telah membuatnya lupa (QS. 12:42). Nyata, manusia tak boleh diandalkan, apa sulitnya menyebutkan seseorang yang bertahun-tahun bersama di penjara. Tentang ketegarannya menyuruh utusan raja kembali, Rasulullah saw berkomentar, “Semoga Allah merahmati saudaraku Yusuf, seandainya aku dalam posisinya, niscaya aku akan menyambut segera panggilan itu.” (Tafsir Al Qurthubi).

Dan saat saudara-saudara yang menzaliminya datang dalam keadaan miskin dan hina, dengan lapang hati ia maafkan mereka, “Hari ini tak ada dendam terhadap kalian…” (QS. 12:92)

Adapun Ibnu Ubay adalah prototipe seorang yang tak bisa memandang kebenaran kecuali bila keluar dari dirinya dan tak bisa menerima kehormatan kecuali bila jatuh ke atas dirinya.

Kolaborator atau komprador mungkin putera daerah atau kader unggulan pada setiap entitas. Judas Escariot (Yahuza) adalah benalu dalam entitas nabi Isa as, seperti sepuluh saudara nabi Yusuf, benalu dalam keluarga nabi Yaqub as. Mereka sama dalam darah dan sejarah.

Ada satu Musa dan satu Isa untuk satu Firaun, satu Samiri, satu Judas, satu Herodes dan satu Pontius Pylathus.

Hari ini ratusan Judas, Samiri, dan Firaun berkeliaran menjual aset bangsa yang dilindungi konstitusi, yang bekerja sama dengan ’penadah’ dan penjarah asing. Di mana gembala bagi domba yang bercerai-berai dimangsa serigala?

Majalah Tarbawai Edisi 81 Th. 5/Shafar 1425 H/2 April 2004 M