W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Dakwah yang Menegara

Oleh Anis Matta

Pengibar Bendera PKSDalam mihwar muassasi (tahap institusionalisasi), kita melakukan mobilitas vertikal untuk menginstitusikan dakwah dalam negara. Kepemimpinan dakwah mengalami pengembangan peran dan tugas, dari pengelolaan gerakan kepada pengelolaan negara. Penyebaran horizontal dalam bentuk penetrasi sosial-yang melahirkan fenomena islamisasi dan membentuk komunitas-komunitas muslim-telah meluas secara relatif dan memungkinkan untuk berkembang menjadi arus tuntutan publik yang kuat.

Yang terjadi dalam tahapan ini adalah sebuah transformasi strategis dari gerakan ke negara. Pada tahapan ini, dakwah mulai menegara. Hal ini terjadi dengan dukungan dari sejumlah kekuatan strategis, berupa basis kepemimpinan, basis sosial, basis wilayah, dan basis konseptual.

Akan tetapi, dalam proses menegara, kekuatan strategis di atas tidaklah cukup untuk menjadikan Islam dan kaum Muslimin sebagai pengelola utama negara. Kekuatan strategis tersebut merupakan kekuatan kualitatif yang tidak dapat berciri sendiri, dan karenanya, harus mendapatkan pembobotan dari kekuatan strategis yang lain. Beberapa kekuatan startegis yang lain adalah sebagai berikut.

Pertama, kekuatan kuantitatif. Dalam masyarakat demokrasi, kekuatan kualitatif sebuah kelompok harus dapat dibuktikan secara kuantitatif. Hal ini sebabkan metode pengukuran kuantitatif menjadi niscaya dalam masyarakat yang besar dan heterogen sehingga proses representasi harus dilakukan melalui penyederhanaan yang bersifat kuantitatif.

Pengukuran kuantitatif dalam sistem demokrasi dilakukan melalui pemilihan umum. Ini merubah paradigma pemenang: yang menang bukanlah partai terbaik, tapi partai terbesar. Oleh karena itu, faktor jumlah menjadi salah satu kekuatan strategis yang tidak dapat diabaikan. Rasulullah saw sendiri akan membanggakan jumlah umatnya yang banyak pada hari kiamat. Akan tetapi, selain itu, juga terdapat sebuah kenyataan bahwa kekuatan kuantitatif-pada saatnya-dapat dirubah menjadi kekuatan kualitatif. Kenyataan ini mengharuskan kita mengaitkan aktivitas-aktivitas dakwah dengan rencana pemenangan pemilu, dan berhitung bahwa harus ada sesuatu yang ingin saya sebut sebagai “efek kuantitatif” dari kebaikan-kebaikan yang kita tebar di tengah masyarakat. Kita harus berani untuk “kelihatan sedang berbuat baik”, dan mau “memperlihatkan bahwa kita selalu berbuat baik.”

Celakanya, di sini ada ironi tentang keikhlasan: ini bukan perbuatan riya, tetapi memang bisa menggoda ke arah sana. Namun, seperti kata Rasulullah saw bahwa kita memang harus menjadi “tahi lalat” di tengah masyarakat: kebaikan kita terlihat, dan hal itu mempuhyai efek kuantitatif-di mana popularitas orang soleh menjadi pesona yang menggoda masyarakat mengikuti jalan kebenaran. Jumlah yang banyak adalah kekuatan, dan kekuatan adalah kebaikan yang dicintai Allah SWT.

Kedua, koneksi politik. Dalam dunia politik, yang kita butuhkan bukan hanya pengikut (konstituen) tetapi juga kawan. Inilah seni yang paling rumit dalam dunia politik: bagaimana mengubah kekuatan penghambat menjadi kekuatan pendukung, dan bagaimana mengubah lawan menjadi kawan. Konstituen memberikan kita dukungan vertikal, tetapi kawan-kawan politik memberikan kita dukungan horizontal. Seribu kawan daiam politik tidaklah cukup, tetapi satu musuh itu sudah terlalu banyak.

Ancaman yang paling berat dalam dunia politik adalah isolasi. Walaupun kita tidak boleh takut terhadap isolasi, kita harus percaya bahwa itu akan sangat menghambat laju dakwah. Bahkan, konsep jihad dibuat untuk-salahsatunya-menerobos isolasi itu. Oleh karena itu, ketika kaum Muslimin memenangkan Perang Khandaq-yang merupakan mobilisasi terbesar yang dapat dilakukan kaum musyrikin Quraisy, Rasulullah saw langsung bersabda, “Sekarang kita yang akan menyerang mereka, dan mereka tidak akan pernah menyerang kita lagi.

Karena itu, seni berkawan dan seni berkoalisi, bukan hanya menuntut kemampuan mengartikulasikan diri dan nilai-nilai kita secara baik dan mempesona, melainkan juga: menuntut kemampuan memahami orang lain, memasuki ruang akal dan hati mereka, mengelola perbedaan-perbedaan menjadi kekuatan dinamis, dan mengantispasi potensi ancaman untuk tidak terkristalisasi menjadi kekuatan destruktif.

Paradigma Baru

Dua kekuatan di atas-kekuatan kuantitatif dan koneksi politik, sebenarnya dibangun dari sebuan paradigma dakwah yang melekat dalam mihwar muassasi. Kedua paradigma inilah yang akan memberikan kita arahan tentang bagaimana membangun kedua kekuatan tersebut.

Pertama, paradigma keterbukaan. Prinsip dasar dakwah adalah keterbukaan untuk semua manusia, baik muslim maupun non muslim. Hal ini disebabkan inti dari ajakan kepada mereka adaah untuk melakukan kebaikan dan mencesah kemungkaran. Karena itu, kita harus membuka diri untuk bergaul dengan mereka-dengan tetap menjaga ciri khas kits, bersikap lebih wajar terhadap perbedaan-perbedaan identitas, kultur, pikiran, dan juga nilai-nilai.

Kedua, paradigma objek dakwah. Paradigma kedua ini adaiai penajaman ternadap paradigma pertama. Hal ini dikarenakan dakwah ini untuk semua manusia maka kita harus memandang mereka sebagai objek dakwah! Inilah inti keunggulan kita, yang sekaligus menuntut kna bekerja lebih cerdas dan memahami dengan baik. Bukan saja bagaimana berbaur sekalipun berbeda, tetapi juga bagaimana mempengaruhi, merekrut, mengelola, mengayomi, melindungi, dan memimpin orang lain.

Yang pertama mengharuskan kita membuka diri dan hati kita bagi semua orang; biar kita belajar menjadi karpet empuk yang dapat diduduki oleh semua orang. Adapun yang kedua mangharuskan kita meningkatkan kemampuan mempengaruhi, mengorganisasi, dan memimpin orang lain.

Yang pertama terkait dengan wawasan dan karakter, sedangkan yang kedua terkait dengan kemampuan. Jadi, persoalannya bukan pada terbuka atau tidak terbuka, sektarian atau tidak sektarian, tetapi bagaimana mendasarkan keuntungan optimal dari keterbukaan tersebut untuk kepentingan dakwah.

Pada akhirnya, hal ini akan menempatkan para pergurus dan kader berada dalam lingkaran struktural kita, simpatisan dan pendukung berada dalam lingkaran kultural kita, dan koneksi politik beada dalam lingkaran pengaruh kita. Kader pemimpin yang kompeten, konstituen yang banyak, koneksi politik yang luas, dan kelompok pemikir strategi yang handal: itulah segenap kekuatan yang kita perlukan untuk menegara. Wallahu a’lam bish-shawwab.

Sumber: SAKSI No.16 Tahun III 15 Mei 2001

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo