W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Etos Kerja Seorang Muslim

Oleh Ade K. Mulyana

“Setiap manusia adalah mati, kecuali mereka yang berilmu. Setiap yang berilmu ada dalam keadaan tertidur, kecuali mereka yang beramal. Setiap yang beramal adalah tertipu, kecuali yang ikhlas. Dan mereka yang ikhlas, akan senantiasa berada dalam kekhawatiran.” (Imam Syafii)

Sejalan dengan perkataan Imam Syafii ini, sangatlah masuk akal kalau kita mengatakan kunci pertama keberhasilan adalah pengetahuan dan keterampilan dalam mengerjakan sesuatu. Tak heran bila Hasan Al Banna menyebut al-fahm (pemahaman yang baik) sebagai hal nomor satu yang hams dimiliki seorang Muslim. Knowledge is power, demikian pepatah yang sering kita dengar. Kita haruslah senantiasa belajar dan memperkaya diri.

George Odiorne dalam bukunya Personal Effectiveness menyebutkan sebuah hasil penelitian bahwa kaum eksekutif yang berhasil di Amerika Serikat, menghabiskan rata-rata 15-20 jam seminggu untuk membaca di tempat kerja. Ini belum termasuk waktu membaca di luar itu. Tak hanya jumlah jam baca, tapi kualitas bacaan tentu menentukan juga.

Coba tengok negara tetangga kita Singapura. Pada bulan Agustus 1999, Departemen Tenaga Kerja Singapura mencanangkan program Manpower 21, untuk mengembangkan kekuatan tenaga kerja mereka. Salah satu realisasinya, didirikan program School for Lifelong Learning. Intinya memberi kesempatan para pekerja di semua level untuk terus belajar, bahkan bagi mereka yang sudah berada di level manajerial atas.

Konsep lifetime skill (satu keterampilan yang dapat bertahan dan digunakan terus sepanjang hayat) sudah mulai usang. Untuk mampu bersaing, kita harus selalu memperbaharui diri dengan menambah pengetahuan, keterampilan dan kompetensi baru. Membaca adalah gerbangnya dan menulis adalah alat untuk mengikatnya, begitu ungkapan kalimat hikmah.

Profesionalitas Amal (Professionalism)

Meski berpengetahuan luas dan berketrampilan tinggi, kita laksana orang tidur kalau tak menerjemahkan hal itu dalam karya nyata, demikian pesan Imam Syafii. Hasan Al Banna menempatkan al-amal (karya nyata) di tiga besar hal yang harus dimiliki Muslim. Tentu saja bukan sembarang kerja. Sering dikatakan kita harus profesional.

Edward Toupin, seorang penulis dan trainer kursus motivasi dan profesionalitas di AS, menyebutkan inti profesionalitas adalah motivasi terpusat, bertanggungjawab, terpercaya dan kompeten untuk menuju tujuan tertentu, dengan menghormati tata hubungan dan kemanusiaan yang berlaku.

Hal utama dalam profesionalitas adalah motivasi. Motivasi yang terpusat akan membuat kita mencurahkan perhatian penuh pada pekerjaan. Motivasi yang bertanggungjawab akan membuat kita bekerja sebaik mungkin dan tidak menyelewengkan amanah. Motivasi untuk kompetensi akan membawa kita berupaya untuk terus meningkatkan kualitas diri agar tak kalah dengan orang lain. Selain tanggungjawab dan kompetensi, yang termasuk profesionalitas adalah penghormatan tata hubungan nilai dan kemanusiaan. Sebagai contoh, mengenakan dasi sering dijadikan simbol profesionalitas. Berdasi an sich bukanlah bagian keprofesionalan. Tapi kalau kita harus berdasi karena akan berbicara di lingkungan yang menuntut demikian, itu bagian dari profesionalitas. Yaitu penghormatan pada tata nilai hubungan yang berlaku di lingkungan itu.

Mungkin banyak aspek lain tentang profesionalitas. Tapi yang jelas menurut Toupin, tujuan utama keprofesionalan agar kita dapat berkomunikasi dengan efektif dan performa kita efisien. Karena itulah, sikap profesional seharusnya dapat diwujudkan dalam pekerjaan apa pun dan oleh siapa pun. Profesionalitas bukanlah monopoli eksekutif bisnis, teknolog, ilmuwan atau sekelompok tertentu saja.

Terlebih kita sebagai seorang Muslim. Allah Yang Maha Kuasa mencontohkan karyanya yang profesional (itqan) dalam penciptaan segala sesuatu (QS An Naml: 88). Bahkan Allah pun menyindir mereka yang dalam beribadahnya tidak profesional, tapi hanya seadanya. Mereka beribadah secara amatiran, angin-anginan, hanya di pinggiran (alaa harfin) sebagaimana QS Al Hajj: 11 menyebutkannya.

Komitmen

Semua aktifitas kita akan berkisar pada tiga aspek: motivasi, cara dan tujuan atau hasil. Ketiga hal ini terkait. Tujuan yang jelas nampak akan menguntungkan, tentu membuat motivasi kita meningkat dan berupaya mengerjakan sesuatu sebaik mungkin.

Karena itulah hasil riset Universitas Delaware menyebutkan bahwa gaji bukanlah satusatunya faktor yang membuat karyawan komitmen dengan perusahaannya. Pemsahaan juga dianjurkan menciptakan suasana kerja nyaman, membuat kebijakan yang memperhatikan keluarga para karyawan, merangsang promosi (kenaikan tingkat), melibatkan karyawan dalam penetapan hal strategis, memberi sarana pengembangan diri, dan sebagainya. Semua nya bertujuan agar karyawan betah bekerja dan berkomitmen. Apalagi di dunia Barat memang berlaku ungkapan, “expect nothing, so I give nothing” (karena tidak melihat hasil atau imbalan (yang menguntungkan), buat apa bekerja keras.

Kiat-kiat ini sangat baik diterapkan bila kita berada di jajaran direksi sebuah perusahaan, atau bahkan kalau kita memimpin organisasi. Secara manusiawi, hal-hal ini perlu untuk mengikat komitmen karyawan atau anggota organisasi kita.

Meski demikian, Imam Syafii mensinyalir bahwa sebagian besar dari kita yang berkarya justru tertipu oleh tujuan seperti ini. Tujuan sekaligus motivasi utama yang mengharuskan kita berkomitmen dengan pekerjaan, semestinya keikhlasan. Meski berbeda urutan, Hasan Al Banna pun menyebutkan al-ikhlas sebagai karakter utama yang disyaratkan bagi seorang Muslim (beliau menempatkan al-ikhlas setelah al-fahmu, sebelum al-amal). Adakah hal yang lebih baik yang harus kita tuju selain keridhoan Sang Pencipta kita?

Berpengetahuan luas, profesional dalam beramal dan kejelasan komitmen (ikhlas) adalah hal yang harus mendasari etos kerja kita. Kalau tiga hal yang diungkapkan Imam Asy Syafii ini hidup kembali dalam diri kita, dengan izin-Nya, pintu keberhasilan akan terbuka. Meski demikian, Sang Imam menutup ucapannya dengan nasihat bahwa kita harus senantiasa khawatir. Terutama khawatir kalau karya amalan itu tidak diterima Allah swt.

Kita khawatir keikhlasan kita tidaklah murni, terkontaminasi berbagai kotoran duniawi. Kita juga khawatir apakah ilmu dan keterampilan sudah mencukupi, maka itu kita senantiasa melakukan upaya pengembangan diri. Dan segudang kekhawatiran lain yang membuat kita tidak merasa puas, hingga tetap berinovasi menciptakan kreasi baru.

Luar biasa memang etos kerja yang dianjurkan oleh Sang Imam besar ini. Mari kita sama-sama menumbuhkannya dalam diri masing-masing.

Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 81 Th. 5/Shafar 1425 H/2 April 2004 M

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: