W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Gerakan Politik dan Dakwah Islam

PENDAHULUAN

Kalau kita memperhatikan peta politik dan memperhatikan partai-partai politik yang berdiri dan telah siap mengikuti pemilu (sebanyak 48 partai), akan terasa suatu keanehan. Aneh bahwa kondisi ini masih ada di jaman reformasi seperli sekarang ini.

Kalau hal seperti ini kita rasakan di jaman Demokrasi Terpimpin dan jaman Orde Baru, maka hal ini bukanlah merupakan suatu keanehan, bahkan merupakan suatu kemestian.

Di dunia ini, partai didirikan oleh sekelompok masyarakat sebagai wadah aspirasi politik dan realisasi cita-cita sosialnya. Kaum buruh mendirikan Partai Buruh sebagai wadah aspirasi politik dan realisasi cita-cita sosialnya. Mereka yang menginginkan pengaturan kesejahteraan masyarakat oleh negara, hilangnya perbedaan kelas dengan cara-cara damai dan konstitusional, akan mendirikan Partai Sosialis.

Mereka yang menginginkan hancurnya kapitalisme, perbedaan kelas dalam masyarakat dan berkuasanya kaum buruh, tani, proletar dengan cara revolusi dan perjuangan bersenjata akan mendirikan Partai Komunis. Mereka yang sangat mencintai tanah air, menginginkan keunggulannya, merdeka, mandiri, tidak dipengaruhi bangsa lain, akan mendirikan Partai Nasionalis.

Hal seperti ini masih bisa kita lihat di Indonesia sejak sebelum dan setelah kemerdekaan 1945 sampai dikeluarkannya Dekrit Presided pada 1959. Pada saat itu partai-partai yang berdiri sangat jelas warna ideologinya, PSI dengan ideologi Sosialismenya, PNl dengan ideologi Nasionalismenya, PKI dengan ideologi Komunismenya, Masyumi dan NU dengan Ideologi Islam Nasionalnya, sehingga massa mengambang yang jumlahnya 70% dari total penduduk indonesia pada saat itu secara sederhana dapat mengenal dan memilih partai sesuai dengan kecenderungan masing-masing.

Tidak mudah bagi penduduk Indonesia yang mayoritas masa mengambang untuk memilih salah satu diantara partai-partai yang baru didirikan pada pemilu tahun ini, kecuali hanya dengan berdasarkan pengenalan terhadap para tokohnya yang mempunyai kaitan dengan para tokoh partai tertentu dimasa lalu.

Memang, sejak Demokrasi Terpimpin sampai Orde Baru, masyarakat Indonesia mongalami proses deideologisasi, deislamisasi, dan demoralisasi. Betapa kuat bokas pengaruh proses deideologisasi, deislamisasi dan dernoralisasi tersebut, sampal-sampai 48 partai baru yang telah siap mengikuti pemilu belum terlihat secara jelas warna ideologinya. Padahal warna ideologi inilah yang akan memberi pengaruh sangat kual terhadap konsep dasar perubahan di segala bidang, baik di bidang ekonomi, politik, pendidikan maupun budaya masyarakat Indonesia. Tanpa ideologi yang mendasar, seluruh konsep perubahan hanya akan berbentuk program-prog ram jangka pendek yang bersifat pragmatis rasional, tanpa menyentuh hal-hal yang sifatnya esensial dan mempunyai pengaruh jangka panjang terhadap perubahan masyarakat Indonesia ke taraf kehidupan yang lebih baik, mulia dan terencana.

Dibutuhkan bahan minimal yang memadai untuk mengenal warna dasar atau campuran warna-warna dasar ideologi dari partai-partai yang baru lahir, sehingga bisa sedikit membayangkan program-program reformasi seperli apa yang akan ditawarkan oleh partai-partai baru tersebut di bidang ekonomi, politik, pendidikan dan budaya,

Semua program-program yang ditawarkan, secara langsung pasti akan mempunyai pengaruh kuat terhadap proses pertumbuhan generasi muda Indonesia yang akan melanjutkan tongkat estafet reformasi di segala bidang di masa-masa yang akan datang.

Mencermati secara teliti sejak dini dan menawarkan alternatif program yang lebih baik merupakan sebagian tanggung jawab dari para pemuda.

(Bersambung…)