W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Gerakan Politik dan Dakwah Islam

KRONOLOGI SEJARAH KEHIDUPAN

GERAKAN POLITIK ISLAM

Tidak bisa dipungkiri bahwa sejarah denyut gerakan dakwah Islam selama berabad-abad hampir tidak bisa dipisahkan dengan kejadian politik penting yang mempengaruhi kehidupan dan peradaban umat manusia di dunia.

Jaman Nubuwwah (610-632 M)

Pada tahun 610 M, ketika Muhammad SAW berusia 40 tahun, beliau menerima wahyu pertama di gua Hira. Masa-masa memulai dakwah Islam di kota Mekkah merupakan saat yang sangat sulit, berbagai macam cobaan, jasmani dan ruhani diterima oleh Rasul dan para sahabat. Selama 13 tahun Rasul menanamkan nilai-nilai tauhid, akidah dan keimanan kepada para sahabat generasi pertama. Inilah pembangunan pondasi awal yang sangat kuat dan pada saatnya akan mampu memikul beban dakwah yang sangat berat.

Pada September 622M, Rasul bersama para sahabatnya melakukan hijrah ke Madinah, selama 10 tahun di kota ini Rasul bersama para sahabat membangun peradaban Islam dan berusaha menyebarkannya, peradaban yang dibangun dengan cara-cara dan ikhtiar manusia berdasarkan naungan cahaya dan pertolongan llahi. Keistimewaan yang ada pada generasi sahabat Rasul ialah terpadunya unsur-unsur ruhi, ibadah, ilmi, fikri, amali dan jama’i dalam diri mereka.

Dari Mekkah dan Madinah kemudian Rasul dan para sahabat menyatukan seluruh daerah Hejaz, Yaman dan Oman,

Jaman Khilafah Berdasarkan Manhai Nubuwwah (632-661 M)

Yang dimaksudkan dengan jaman ini adalah jaman kepemimpinan khalifah Rasyidun, yaiiu Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali.

Tidak sampai 20 tahun setelah Rasul wafat, kaum muslimin mampu mnnjadikan seluruh jazirah Arab (Hejaz dan Najd), Palestina, Mesir, Syiria, Iraq dan sebagian besar Persia terbuka bagi dakwah dan peradaban Islam.

Pada tahun 635 M, setelah menempuh jarak 200 mil pasukan Khalid bergabung dengan pasukan yang ada di Ajnadayn Syiria, bersama-sama menggempur Damaskus dan berhasil menaklukkannya.

Sebelum masuk kota Khalid berpidato, yang menjadi patokan bagi seluruh panglima Islam di masa depan: “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, saya, Khalid bin Walitd memberikan jaminan atas nama Allah bagi seluruh penduduk Damaskus. Bahwa akan diberikan jaminan keamanan terhadap jiwa, harta dan gereja, kota Damaskus tidak akan dihancurkan dan mungkin akan ada beberapa orang muslim yang akan tinggal disebagian rumah mereka. Inilah yang dijanjikan kepada mereka, sebagaimana janji Allah, janji Rasul, janji Khalifah dan orang-orang yang mengikuti mereka, sejauh mereka membayar pajak, tidak ada lain kecuali kebaikan bagi mereka.”

Heraclius kemudian mengumpulkan 50.000 pasukan untuk mengusir tentara Islam dari Damascus, pasukan ini ternyata dijebak dengan gerak mundur dan dikalahkan oleh Khalid beserta para sahabat di sungai Yarmuk, pada musim panas tahun 636 M, bahkan Theodorus panglima pasukan ini terbunuh.

Pada tahun 637 M, mengikuti kemenangan Khalid terhadap Binzantium. setelah dikepung oleh pasukan muslim selama berbulan-bulan, penguasa kota Yeruzalem, Sophronius, mau menyerahkan kunci kota Yeruzalem dengan syarat, penerimaan kunci kota Yeruzalem dilakukan sendiri oleh Khalifah Umar, maka berangkatlah Khalifah Umar ke Yeruzalem. Penduduk Yeruzalem diperlakukan sama dengan penduduk Damascus. Selanjutnya Khalifah Umar mewaqafkan kota ini dan Palestina kepada seluruh umat Islam.

Pada 639 M, Amr bin ‘Ash dan para sahabat berhasil membuka Mesir. Pada 644 M, pasukan muslim berhasil membuka sebagian besar Persia. Ketika utusan pasukan muslim, Rib’yi, bertemu dengan Jazdagird Kisra Persia untuk pertama kalinya, disampaikannyalah khutbah yang pernah disampaikan oleh Rasul pada saat Haji Wada’: “Allah menciptakan bumi untuk mengeluarkan manusia dari kesesatan menyembah manusia dan mengajak mereka supaya hanya menyembah Allah SWT. Untuk mengeluarkan manusia dan kegelapan dunia kepada cahaya terang benderang, untuk mengeluarkan mereka kezaliman manusia ke dalam keadilan Islam”.

Para pembesar Romawi Binzantium yang berinteraksi dengan kaum muslimin sepanjang jaman ini, mengakui keutamaan kaum mustimin ketika itu, dengan mengatakan : “Mereka itu orang-orang yang sholat di waktu malam dan berpuasa di siang hari, menepati janji, menyuruh orang berbuat kebajikan, mencegah kemungkaran dan bersikap adil antara satu dengan yang lain”.

Pembesar Romawi lainnya mengatakan : “Di siang hari mereka adalah pasukan berkuda, tetapi di malam hari mereka adalah orang suci, mereka pantang memakan barang kepunyaan orang-orang yang berada di bawah perlindungan mereka, tanpa membayar. Mereka tidak masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam. Mereka adalah orang-orang yang sanggup menghancurkan siapa saja yang memerangi rnereka”.

Pembesar yang lainnya lagi mengatakan : “Di malam hari mereka itu orang-orang suci, tetapi di siang hari mereka adalah pasukan berkuda, pandai memanah, pandai mengasah dan mahir bermain tombak (Ruhbanun bil lail wa Luyusun bin Nahr). Bila engkau mengajak bicara salah seorang di antara mereka, ia tidak akan memahami maksudmu, karena ramainya suara orang berdzikir dan membaca Al-Quran”.

Ketika pasukan muslimin memasuki kota Mada’in Persia, mereka mendapatkan mahkota milik Kisra dan permadani sangat indah yang harganya ratusan ribu dinar. Meskipun begitu menggiurkan tidak seorangpun berani menyentuhnya. Barang-barang tersebut mereka serahkan kepada salah seorang pimpinan yang segera mengirimkannya kepada Khalifah Umardi Madinah, sehingga Khalifah Umar sendiri merasa heran, kemudian berkata: “Orang-orang yang menyerahkan barang-barang ini benar-benar jujur.”
Kaum muslimin pada masa ini selain sebagai hamba yang saleh, prajurit yang berani, juga mampu menjalankan administrasi dan organisasi pemerintahan sipil bagi daerah-daerah yang baru dibuka, berdasarkan syariat Islam, serta memberikan sistem jaminan (diwan) kepada tentara-tentara muslim yang sudah lanjut usia.

Mereka inilah gambaran hidup seperti apa yang difirmankan Allah SWT di dalam Al-Quran : “Kamu sekalian adalah umat terbaik yang dilahirkan bagi manusia, memerintahkan kebajikan dan mencegah kemungkaran serta behman kepada Allah” (QS. 3:110).