W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

HUKUM BANDROL HARGA

Era sudah berganti. Masa sudah berubah. Mihwar demi mihwar telah terlewati. Cuma sayang, ada sebagian (semoga kecil) para penggiatnya yang mindset-nya tidak updateable. Ironisnya, malah ada-yang ngotot-mencukupkan diri dan menentang perubahan.

Forum kecil kajian mingguan kita bisa dikatakan tim. Cuma, banyak yang menolak-entah dengan sengaja atau tidak-merasakannya.

Semua level struktur mulai dari kelurahan (DPRa), kecamatan (DPC), dan kabupaten/kota (DPD) adalah juga tim. Setiap level struktur itu juga memiliki harganya. Ya, harga yang harus dibayar. Saya, kamu, dia, dan mereka adalah para pembayarnya.

HUKUM BANDROL HARGA

Tim akan Gagal Mencapai Potensinya Kalau Tidak Membayar Harganya

Pada tanggal 28 Desember 2000, salah satu pengecer nasional tertua, Montgomery Ward and Company, mengumumkan akan mengajukan diri pailit dan menutup usahanya selamanya. Pengumuman ini menyedihkan orang-orang di Chicago, karena Ward telah menjadi sebuah institusi di kota tersebut selama lebih dari satu abad. Yang bahkan lebih menyedihkan lagi adalah bahwa kegagalan perusahaan ini seharusnya dapat dihindari seandainya para pemimpin telah belajar dan mempratekkan Hukum Bandrol Harga sebelum terlambat.

Sejarah awal toko pengecer ini sesungguhnya luar biasa. Perusahaan didirikan pada tahun 1872 oleh Aaron Montgomery Ward, seorang pramuniaga muda yang telah bekerja pada berbagai pedagang barang kering di seluruh Midwest dan Selatan. Sementara ia sedang bekerja di daerah pedesaan yang jauh dari kota, ia temukan bahwa banyak konsumen di daerah terpencil tergantung kepada pedagang-pedagang setempat yang seringkali menentukan harga yang terlalu tinggi. Itu memberinya sebuah ide. Ketika itu perkereta-apian dan layanan pos mulai membaik. Bagaimana kalau ia membeli barang kering langsung dari pabrik dengan membayar tunai dan menjualnya dengan harga tunai lewat pos kepada konsumen-konsumen pedesaan sehingga menghilangkan perantara yang memanfaatkan para konsumen ini?

Membayar Harga Pertamanya

Pada tahun 1871, Ward menabung cukup uang dari pekerjaannya sebagai pramuniaga untuk membeli beberapa barang dagangan dan mencetak sebuah daftar harga yang ia rencanakan akan ia kirimkan kesekian banyak petani yang menjadi anggota organisasi keimaman. Tetapi sebelum ia dapat menindak-lanjuti rencananya, kebakaran besar di Chicago pada tahun 1871 menghancurkan barang persediaannya dan daftar harganya. Kemunduran ini tidaklah menghentikan Ward. Ia yakinkan rekan sesama pramuniaga untuk bermitra dengannya, mulai membangun kembali persediaannya, dan mencetak ulang daftar harganya, yang belakangan menjadi katalog pesanan lewat pos terbesar di dunia. Dan pada tahun 1872, di usia dua puluh delapan tahun, Ward membuka bisnisnya.

Semula, sukses Ward tidak seberapa. Malah, setahun setelah mulai membuka bisnisnya, kedua mitranya minta ke luar. Ward pun membeli saham mereka, lalu mengajak temannya, George Thorne sebagai mitra penuh. Bersama-sama mereka bekerja keras, menerima pesanaan dan mengirimkan barangnya lewat kereta api. Sementara itu, pada 1875, Ward dan Thorne menemukan sebuah ide baru. Mereka putuskan untuk mencantumkan kalimat baru dalam katalog mereka. Bunyinya “Kepuasan Terjamin, atau, Uang Dikembalikan”. Dan bisnis merekapun melambung.

Keuletan serta kesediaan Ward untuk membayar harganya dua kali untuk memulai bisnisnya mulai menampakkan hasil kurang dari sepuluh tahun kemudian. Perusahaan yang telah dimulai dengan modal $ 1.600 pada tahun 1872 mencapai penjualan sebesar $ 300.000 pada tahun 1878. Semmbilan tahun setelah itu, penjualan perusahaan ini melambung menjadi S 1 juta. Menjelang perubahan abad, katalog Montgomery Ward and Company yang belakangan dikenal sebagai “Wish Book”, tumbuh nenjadi lima ratus halaman dan dikirimkan kepada lebih dari satu juta orang setiap tahunnya. Dan kantor pusat perusahaan ini adalah gedung baru di Michigan Avenue di Chicago-gedung pencakar langit terbesar di sebelah barat kota New York.(1)

Berhenti Membayar

Lalu pada tahun 1901, Montgomery Ward pensiun demi menghabiskan sisa hidupnya berupaya untuk menjadikan Chicago tempat yang lebih baik. Selama dua dekade pertama pada abad baru, perusahaannya tetap sukses. Tetapi di akhir tahun 1910-an, segalanya mulai berubah. Sukses Ward telah memancing dibukanya perusahaan lain yang berbasis di Chicago pada tahun 1886: Sears, Roebuck, and Co. Perusahaan ini, seperti Montgomery Ward and Company, adalah pedagang berbasis katalog yang melayani konsumen-konsumen pedesaan. Ketika itu sebagian besar populasi Amerika tinggal di pedesaan. Tetapi negara ini mulai berubah. Kota-kota mulai penuh. Ketika sensus pada tahun 1920 diselesaikan, untuk pertama kalinya dalam sejarah, tampak bahwa sebagian besar populasi ternyata tinggal di pusat-pusat perkotaan—dan akibatnya kebiasaan berbelanjapun berubah.

Robert E. Wood, seorang mantan jenderal, direkrut untuk mengelola Montgomery Ward pada tahun 1919, dan ia melihat potensi dalam renjualan eceran. Ia ingin mulai membuka toko-toko di kota-kota di mana orang-orang bisa berbelanja secara langsung, tetapi para pemiliknya tidak bersedia mendukung ide ini.(2) Mereka pokoknya tidak mau membayar harganya untuk mengadakan perubahan itu.

Terlewati

Mengetahui bagaimana masa depan bisnisnya, Wood pun meninggalkan Ward. Pada tahun 1924, ia bekerja kepada Sears sebagai wakil presiden. Ia yakinkan orang-orang yang mengelola Sears untuk mencoba penjualan eceran. Mereka sepakat untuk membuka satu toko di Chichago sebagai uji coba pada tahun berikutnya. Ternyata langsung sukses. Dua tahun kemudian, Sears telah membuka 27 toko. Menjelang tahun 1929, perusahaannya telah membangun lebih dari 300. Bahkan selama depresipun, Sears terus berkembang, dan pada tahun 1931, penjualan jaringan toko eceran Sears melampaui penjualan lewat katalog.(3) Wood menjadi pimpinan puncak perusahaan ini hingga tahun 1954, dan Sears menjadi toko serba ada yang paling sukses di negara ini.

Montgomery Ward and Company tidak pernah benar-benar pulih dari kekeliruan awal itu. Mereka sempat membuka beberapa toko eceran., tetapi tidak cukup agresif untuk melawan Sears. Tim akan gagal mencapai potensinya kalau tidak membayar harganya. Berulang-kali Ward tidak membayar harganya. Selama depresi, perusahaannya menimbun uang tunai dan menghentikan ekspansinya sementara Sears memperluas pijakannya. Setelah Perang Dunia II ketika toko lain mulai bergerak ke pinggiran kota, Ward tidak melihat peluang untuk kembali ke puncak. Setiap kali pasar berubah, para pemimpin perusahaan ini tidak membayar harga yang diperlukan untuk memenangkan pasar. Selama puluh lima tahun terakhir dalam abad kedua puluh, mereka terus bergumul untuk mempertahankan usaha mereka. Akhirnya, setelah 128 tahun berbisnis, Montgomery Ward ditutup. Itulah yang bisa terjadi kalau orang melanggar Hukum Bandrol Harga.

HAL-HAL MENYANGKUT HARGA

Kalau sebuah tim tidak mencapai potensinya, jarang sekali persoalannya adalah karena kemampuan. Juga bukan soal sumber daya. Melainkan hampir selalu karena soal kesediaan membayar. Montgomery Ward and Company memiliki banyak sumber daya, dan bakat yang dibutuhkan, termasuk pemimpin yang bisa memajukan timnya. Masalahnya adalah para pemilik perusahaan tidak bersedia ke luar dari wilayah nyaman mereka, mengambil risiko, dan mencoba terobosan baru.

Salah satu alasan tim tidak membayar harganya untuk mencapai potensi mereka adalah karena mereka keliru memahami Hukum Bandrol Harga. Mereka secara jujur tidak tahu bagaimana cara kerja hukum ini. Izinkan saya memberi Anda empat kebenaran tentang hukum ini yang akan membantu menjelaskannya.

1. Harganya Harus Dibayar oleh Semua Orang

Dalam acara Straight Talk for Monday Morning, Allan Cox menyimpulkan: “Anda harus mengorbankan sesuatu untuk menjadi anggota tim. Mungkin peran keliru Anda seperti orang yang terlalu banyak bicara, wanita yang pendiam, orang yang sok tahu, orang yang tidak tahu apa-apa, tukang timbun bawahan berbakat, tukang menyembunyikan sumber daya seperti sistim informasi manajemen, atau apalah. Anda korban-kan sesuatu, yang jelas, seperti semacam pojok istimewa, tetapi mendapatkan keotentikan sebagai imbalannya. Lagipula, tim tidaklah menghantam prestasi pribadi; tim malah memberdayakan kontribusi pribadi.”(4)

Orang yang belum pernah mengalami menjadi anggota tim pemenang seringkali tidak sadar bahwa setiap anggota tim harus membayar. Saya rasa ada di antara mereka vang menyangka bahwa kalau orang lain rekerja keras, mereka bisa mencapai potensi mereka. Tetapi itu tidak pernah benar. Kalau semua orang tidak membayar harganya untuk meraih kemenangan, maka semua orang akan membayar harga berupa kekalahan.

2. Harganya Harus Selalu Dibayar

Banyak orang mengidap apa yang saya sebut penyakit tujuan. Saya gambarkan hal ini dalam buku saya, The 21 Indispensable Qualities of Leader (21 Kualitas Kepemimpinan Sejati): “Ada orang yang keliru percaya bahwa kalau mereka dapat mencapai suatu sasaran tertentu, mereka tidak perlu bertumbuh lagi. Ini bisa terjadi dengan hampir apapun: meraih gelar, mencapai posisi yang diinginkan, mendapatkan penghargaan tertentu, atau mencapai sasaran dalam soal keuangan. Tetapi pemimpin yang efektif tidak bisa berpikir seperti itu. Begitu mereka berhenti bertumbuh maka mereka lepaskan potensi mereka—dan potensi organisasi mereka. Ingatlah kata-kata Ray Kroc: “Selama Anda tetap hijau, Anda tetap bertumbuh. Begitu Anda matang, Anda akan mulai membusuk“.(5)

Penyakit tujuan adalah berbahaya bagi tim maupun bagi individu. Ini membuat kita percaya bahwa kita bisa berhenti bekerja, berhenti berupaya, berhenti membayar harganya—tetapi tetap mencapai potensi kita. Tetapi, seperti yang disimpulkan oleh Earl B, mantan pelatih rugby di United State Military Academy, “Kerja itu tak ada gantinya. Itu adalah harga sukses.” Kebenaran itu tidak pernah hilang. Itulah sebabnya Presiden Presiden Dwight D. Eisenhower berkomentar, “Tak ada kemenangan dengan harga diskon“. Kalau Anda ingin mencapai potensi Anda, Anda tak mungkin bisa tidak membayar.

3. Harganya Meningkat Kalau Tim Ingin Menjadi Lebih Baik, Berubah, atau Terus Menang

Seperti saya singgung dalam pendahuluan buku ini, ada yang terus-menerus menjadi juara dalam olahraga. Dan beberapa perusahaan tetap berada di posisi puncak dalam daftar versi majalah Forbes selama sepuluh. Menjadi juara ada harganya. Tetapi bertahan di puncak lebih mahal lagi. Dan meningkatkan kemampuan terbaik Anda bahkan lebih mahal lagi. Semakin tinggi Anda berada, semakin mahal harga yang harus Anda bayar untuk mengadakan bahkan perbaikan-perbaikan kecilpun. Para pelari dunia meningkatkan prestasi mereka bukan dengan hitungan detik, melainkan sepersekian detik.

Tak seorangpun dapat mendekati potensinya tanpa membayar untuk sampai ke sana. Kalau Anda ingin ganti profesi, Anda harus melipatkan pendidikan tambahan, tambahan pengalaman kerja, atau keduanya. Kalau Anda ingin lari lebih cepat, Anda harus membayar dengan berlatih lebih keras dan lebih cerdas. Kalau Anda ingin meningkatkan pendapatan dari investasi Anda, Anda investasikan lebih banyak atau ambil risiko lebih besar. Prinsip yang sama juga berlaku bagi tim. Untuk menjadi lebih baik, berubah, atau terus menang, tim harus membayar harganya, demikian pula individu di dalamnya.

4. Harganya Tidak Pernah Turun

Kebanyakan orang yang menyerah bukanlah menyerah di dasar gunungnya; mereka berhenti di tengah jalan. Tak seorangpun memulai sesuatu dengan tujuan kalah. Masalahnya seringkali adalah kepercayaan yang keliru bahwa akan datang saatnya ketika sukses tiba-tiba akan menjadi lebih murah. Tetapi kehidupan jarang sekali berjalan seperti itu.

Mungkin pemikiran seperti itulah yang menjadi masalah bagi Montgomery Ward and Company. Pada tahun 1919, ketika para pengambil keputusan berpeluang menjadikan Ward salah satu perusahaan terbesar pertama yang membuka jaringan toko eceran, mungkin mereka menghitung biayanya—dalam satuan waktu, uang, upaya, perubahan—dan mereka anggap itu terlalu mahal. Maka merekapun melewatkan peluang tersebut.

Beberapa tahun kemudian ketika Sears mulai melewati Ward, biaya untuk bersaingnya menjadi lebih mahal. Ward mulai membayar untuk terjun ke bidang penjualan eceran, tetapi tetap ketinggalan. Harganya terus melambung tahun demi tahun, terutama ketika Sears mengalahkan Ward dalam mendapatkn lokasi-lokasi utama. Bahkan hingga akhir tahun 1970-an dan 1980-an pun, Ward membayar semakin mahal untuk memperbaiki diri, tetapi semakin jauh ketinggalan. Mereka kelimpungan di berbagai ceruk pasar, berusaha bersaing dengan Wal-Mart, Target, dan Circuit City, tetapi terus saja kalah. Para pemimpinnya menyangka harganya akan lebih murah lain kali—ternyata terus melambung.

Dalam soal Hukum Bandrol Harga, saya percaya sesungguhnya hanya ada dua jenis tim yang melanggarnya: mereka yang tidak menyadari harga sukses, dan mereka yang tahu harganya tetapi tidak mau membayarnya. Tak seorangpun dapat memaksa seorang anggota tim untuk bersedia meraih sukses. Setiap orang harus memutuskan sendiri apakah sasarannya layak dibandingkan dengan harga yang harus dibayarnya. Tetapi setiap orang seharusnya tahu harga yang harus dibayarnya demi suksesnya tim.

Harga Kerjasama

Karena alasan tersebut, saya tawarkan kesimpulan berikut tentang harga menjadi bagian sebuah tim yang hebat. Untuk menjadi pemain tim, Anda serta rekan-rekan satu tim Anda setidaknya akan dituntut hal-hal berikut:

Pengorbanan

Takkan ada sukses tanpa pengorbanan. James Allen menyimpulkan, “Dia yang ingin mencapai sedikit harus berkorban sedikit; ia yang ingin mencapai banyak harus berkorban banyak“. Kalau Anda menjadi anggota tim, mungkin Anda sadari akan hal-hal yang harus Anda korbankan. Tapi yakinlah bahwa seberapa banyakpun yang Anda berikan kepada tim, akan datang saatnya ketika Anda akan diminta untuk memberikan lebih banyak lagi. Itulah sifat kerjasama. Tim mencapai puncaknya hanya lewat keringat, darah, dan pengorbanan para anggotanya.

Komitmen Waktu

Kerjasama tidaklah murah. Kerjasama menuntut waktu—itu artinya Anda harus membayarnya dengan kehidupan Anda. Dibutuhkan waktu untuk mengenal orang, untuk membangun hubungan dengan mereka, untuk belajar bagaimana Anda serta mereka bekerjasama. Kerjasama tak dapat dikembangkan dalam waktu singkat. Tim tumbuh kuat dalam lingkungan yang tepat.

Perkembangan Pribadi

Tim Anda akan mencapai potensinya hanya kalau Anda mencapai potensi Anda. Itu artinya kemampuan hari ini tidaklah cukup. Atau seperti yang dikatakan oleh ahli kepemimpinan, Max DePree: “Kita tidak bisa menjadi apa yang seharusnya dengan tetap menjadi siapa kita adanya sekarang“. Hasrat untuk terus berupaya, untuk terus menjadi lebih baik, adalah kunci bagi kemampuan Anda, tetapi juga sangat penting bagi perbaikan tim Anda. Itulah sebabnya John Wooden dari VCLA, seorang pemimpin tim yang hebat sekaligus pelatih basket kampus terbesar sepanjang masa, mengatakan, “Yang Anda pelajari setelah Anda mengetahui segalanyalah yang penting“.

Sikap Tidak Mementingkan Diri Sendiri

Secara alami orang akan menjaga dirinya sendiri. Pertanyaan “Apa untungnya bagi saya?” tidak pernah jauh dari pikiran mereka. Tetapi kalau sebuah tim ingin mencapai potensinya, para pemainnya harus mendahulukan agenda timnya ketimbang agenda sendiri. Ada orang yang melihat gambaran besarnya lebih mudah daripada yang lain dan sadar bahwa mereka akan mendapatkan lebih banyak kalau mereka memberikan lebih banyak. Bagi yang lain, ini lebih sulit—terutama kalau mereka sudah memiliki catatan rekor prestasi tinggi. Tetapi Boomerang Theory nya H. Jackson Brown itu benar: “Kalau Anda berikan yang terbaik kepada dunia, dunia akan membalasnya”. Dan kalau Anda berikan yang terbaik kepada tim, tim akan membalasnya lebih daripada yang Anda berikan, dan bersama-sama Anda akan mencapai lebih banyak daripada yang dapat Anda capai sendirian.

Yang jelas ada harga-harga lain yang harus dibayar individu untuk menjadi anggota tim. Mungkin Anda dapat menyebutkan beberapa harga yang spesifik yang pernah Anda bayar untuk menjadi anggota tim. Intinya adalah bahwa orang bisa memilih berdiri sebagai penontoi dan berusaha melakukan segalanya sendirian. Atau mereka bisa ikut bermain dengan menjadi anggota tim. Ini adalah soal pertukaran antara ketidak-tergantungan dengan kesaling-tergantungan. Imbalan kerjasama bisa besar, tetapi selalu ada harganya. Untuk naik ke atas, Anda selalu harus berkorban.

Kira-kira sebulan yang lalu saya sedang mengajarkan 17 Hukum Kerjasama kepada sekelompok usahawan di Atlanta, dan setelah saya ajarrkan Hukum Bandrol Harga, Virgil Berry datang kepada saya dan memberikan secarik memo. Bunyinya, “John, bandrol harga kegagalan lebih mahal daripada harga sukses. Harga untuk menerima kegagalan adalah kemiskinan, depresi, dan semangat yang terinjak-injak”. Oang-orang di Montgomery Ward sangat mengetahuinya. Tim akan gagal mencapai potensinya kalau tidak membayar harganya.

Berapakah Harga sebuah Bangsa?

Membayar harga mahal tidaklah selalu menjamin kemenangan. Banyak tim yang sudah berkorban banyak, ternyata tetap tidak berhasil mencapai sasaran mereka. Tetapi terkadang pengorbanan besar diimbali lengan hasil-hasil besar. Demikianlah kasus Angkatan Bersenjata Revolusioner dari Amerika Serikat yang baru terbentuk dengan komandannya, George Washington, pada musim dingin tahun 1777 di Valley rorge, Pennsylvania.

Tahun 1777 tidaklah terlalu sukses bagi Jenderal Washington serta pasukannya. Menyusul kekalahan di Brandywine, Paoli, dan Germantown serta terlepasnya Philadelphia ke tangan Inggris, Washington dengan sebelas ribu prajurit memasuki Valley Forge pada tanggal 19 Desember tahun itu. Pasukannya sangat jatuh moralnya, dan mereka menghadapi kemungkinan musim dingin yang menusuk dengan naungan serta kenyamanan minimal.

Yang paling diinginkan orang-orang ini mungkin adalah pulang ke rumah dan melupakan soal perang mempertahankan kemerdekaan. Tetapi kalau mereka pulang, harganya akan sangat tinggi. Dengan posisi mereka ketika itu, mereka bisa mengawasi pasukan Inggris di bawah Jenderal Howe di Philadelphia. Yang lebih penting lagi, mereka berada di tempat di mana mereka dapat mempertahankan York, Pennsylvania, ke mana Kongres Kontinental telah lari ketika ibukota jatuh ke tangan Inggris. Kalau orang-orang di Valley Forge ini tidak membayar harganya, pemerintahan akan jatuh, angkatan bersenjata akan dilucuti, dan mereka akan kalah dalam Perang Revolusioner.

Kondisi-kondisinya mengerikan. Peralatan mereka buruk dan juga persediaan makanan mereka. Beberapa hari setelah mereka tiba, Washington menulis kepada Kongres Kontinental, mengatakan, “2,898 orang tidak cocok lagi menjalankan tugas karena bertelanjang kaki atau tidak memadai pakaiannya menghadapi musim dingin”. Segalanya demikian buruk sehingga para penjaga harus berdiri di atas topi mereka untuk menghindari dingin yang menusuk di kaki mereka. Pada tanggal 1 Februari 1778, hanya 5,000 orang yang tersedia untuk melayani.(6)

BERTEKUN MEMBAYAR HARGANYA

Ajaibnya, pasukan ini tidak menyerah. Mereka tanggung musim dingin itu. Tetapi mereka bukan sekedar bertahan. Mereka gunakan waktu itu untuk menjadi prajurit yang lebih baik. Sebelum menetap di Valley Forge, mereka tak terorganisasikan dan tak terlatih. Untuk mengatasinya, Jenderal Washington menggunakan bakat seorang mantan petugas di angkatan bersenjata Prusia, Baron von Steuben.

Pertama, von Steuben mengadakan pengorganisasian di perkemahan dan memperkenalkan sanitasi yang lebih baik. Lalu, di bawah petunjuknya, sebuah tim diubah menjadi tim prajurit yang handal. Mereka selanjutnya membantu melatih tim-tim lainnya. Von Steuben juga menstandarisasikan manuver militer di seluruh angkatan bersenjata ini sehingga mereka bisa bekerjasama lebih baik sebagai satu tim, siapapun yang menjadi komandannya. Menjelang mereka bergerak lagi pada bulan Juni 1778, mereka sudah setara dengan tim prajurit manapun, bahkan prajurit Inggris pun, yang dianggap sementara orang sebagai yang terbaik di dunia.

Pasukan Washington melanjutkan pertempuran dan mengalahkan pasukan Inggris yang lebih banyak jumlahnya. Dan pasukannya bertempur dalam Pertempuran Yorktown, pertempuran yang menentukan, yang mengubah perangnya menjadi menguntungkan negara yang baru terbentuk ini. Kita semua yang tinggal di Amerika Serikat sungguh berterima kasih kepada mereka, karena harga yang mereka bayar lebih dari dua ratus tahun yang lalu, telah menyiapkan jalan bagi kita untuk tinggal di negara yang sangat bebas serta berpeluang besar ini. Walaupun memang benar bahwa tim akan gagal mencapai potensinya kalau tidak membayar harganya, adalah juga benar bahwa kalau harganya dibayar, imbalannya bisa berlimpah. Itulah berkat dari Hukum Bandrol Harga.

Pemikiran Kerjasama

Anda jarang mendapatkan lebih banyak daripada yang Anda bayarkan.

Kalau Anda seorang peraih prestasi, mungkin Anda memiliki banyak impian dan sasaran. Tuliskanlah apa-apa yang ingin Anda capai dalam satu hingga lima tahun mendatang:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Sekarang, yang manakah yang rela Anda korbankan? Anda selalu perlu siap menanyakan pertanyaan ini kepada diri sendiri kalau Andi menjadi anggota tim. Kalau sasaran pribadi Anda bertentangan dengar sasaran tim yang lebih besar, Anda memiliki tiga pilihan:
1. Anda lupakan sasaran Anda (karena tim lebih penting).
2. Anda tunda sasaran Anda (karena waktunya tidak tepat).
3. Anda tinggalkan tim Anda (karena lebih baik bagi semua orang).

Yang tidak berhak Anda lakukan adalah mengharapkan tim mengorbankan sasaran kolektifnya demi sasaran Anda.

Menjadi Pemimpin Tim yang Lebih Baik

Kalau Anda memimpin tim, Anda harus meyakinkan rekan-rekan satu tim Anda untuk berkorban demi kebaikan tim. Semakin berbakat orang-orang Anda, semakin sulit diyakinkan untuk mendahulukan timnya.

Mulailah dengan menjadi teladan dalam berkorban. Tunjukkanlah bahwa Anda …
• Bersedia berkorban dalam soal keuangan demi tim.
• Bersedia terus bertumbuh demi kepentingan tim.
• Bersedia memberdayakan orang lain demi kepentingan tim.
• Bersedia mengambil keputusan-keputusan sulit demi kepentingan tim.

Begitu Anda teladani kesediaan membayar harganya demi potensi tim, Anda memiliki kredibilitas untuk meminta yang lain juga demikian. Maka kalau Anda sadar akan pengorbanan yang harus dibuat oleh para rekan Anda demi kepentingan tim, tunjukkanlah mengapa dan bagaimana caranya. Lalu pujilah pengorbanan mereka.

Catatan Kaki:

  1. Stephen Franklin, “Founder a Force in Retail, Civic Affairs”, <www.chicagotribune.com>, 29 Desember 2000.
  2. “End of the Line, <www.nytimes.com>, 29 Desember 2000.
  3. “Historical Chronology – 1925: Opening Retail Store”, <www.sears.com>, 15 Maret 2001.
  4. Allan Cox, Straight Talk for Monday Morning (New York, John Wiley & Sons, 1990).
  5. John C. Maxwell, The 21 Indispensible Qualities of a Leader: Becoming the Person Others Will Want to Follow (Nashville: Thomas Nelson, 1999), halaman 144-145.
  6. Robert Newall, “History Comes Alive in Valley Forge”, <www.vaportrails.com>, 11 Maret 2001.

(Tulisan di diambil dari buku “17 Hukum Kerjasama Tim yang Efektif karangan John C. Maxwell pada halaman 151-165)