W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Ilmu dan Masa Depan Umat

Salah satu kenyataan yang harus diterima dan dimengerti oleh setiap orang ialah bahwa sebuah nilai (apapun bentuknya) setiap saat akan sangat dipengaruhi oleh para pembawa dan para pengembannya. Apakah nilai tersebut masih bisa bertahan atau tidak di muka bumi ini ketika ia harus mengarungi perjalanan masa. Para generasi pewaris dan penerus nilai-nilai itulah yang akan menjadi sukarelawan dan sekaligus pahlawan karena merekalah tulang punggung bagi keberlangsungan nilai tersebut untuk tetap bisa tampil di pentas kehidupan manusia. Atau sebaliknya, mereka akan menjadi para pengkhianat nilai-nilai tersebut karena tega mengubur dan membenamkannya dari alam kehidupan, dan puas sekedar dicatat dan dikenang sejarah meskipun bisa jadi nilai-nilai tersebut tidak dikenal sama sekali oleh generasi sesudahnya.

Islam sebagai salah satu nilai, yang tingkat kebenarannya bertumpu kepada ke-Maha Benar-an sumbernya yaitu Allah Yang Maha Benar, akan pula mengalami hukum tersebut diatas sebagai sebuah proses alami (sunnah) yang harus terjadi ketika sebuah nilai disosialisasikan menjadi nilai-nilai kehidupan manusia. Tingkat kealamian nilai Islam di antaranya justru terletak pada “Kemanusiaannya”. Karena ia mampu berjalan dalam jalur dan alur kehidupan manusia dengan segala tabiat dan konsekuensi dari segala bentuk interaksi mereka di dunia ini.

Setelah selesai mengemban tugasnya, Rasulullah saw pun harus meninggal dunia. Maka nilai-nilai Islam itu pun dilanjutkan oleh generasi sesudahnya yaitu para sahabat lainnya dan kemudian para tabi’in dan seterusnya. Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik abad adalah abadku, kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya“.1

Hadits ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa di antara bentuk kealamian nilai Islam ialah betapa tingkat kedekatan dan kejauhan suatu masa dengan masa awal terbitnya fajar Islam itu juga mempengaruhi tingkat kualitas kehidupan yang ada pada suatu masa tersebut. Akan tetapi, pasang surut kualitas tersebut setidak-tidaknya masih dalam batas di mana penyangga nilai-nilai Islam tersebut tidak sampai pada taraf tidak ada sama sekali. Di mana tugas dan fungsi penyangga tersebut diperankan oleh para ulama dan para salafussholih.

Merekalah yang telah berjasa menanam budi yang terhutang di atas umat manusia berupa jerih payah mereka mengarungi “ruang ijtihad” yang melelahkan yang kemudian mampu mengeluarkan nilai-nilai Islam itu dalam berbagai disiplin llmu. Ada llmu Tauhid, llmu Ushul Fiqih, dan seterusnya di mana dulu semuanya berada dalam nama dan kesatuan yang sama. Sehingga mata rantai nilai-nilai Islam itu tidak sampai terputus bahkan untuk jangka sesaat pun.

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris nabi. Dan sesungguhnya, para nabi itu tidak mewariskan dinar maupun dirham. Akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, sungguh ia telah mengambil bagian yang mencukupi”.2

Sehingga, dari sekian banyak nilai yang ada di muka bumi ini, hanya nilai Islam-lah yang telah teruji oleh panjangnya masa, karena itu ia masih eksis hingga saat ini. Bahkan sampai hari kiamat nanti. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Akan selalu ada segolongan dari ummatku yang tegak di atas kebenaran. Orang-orang yang mengingkarinya tidak akan dapat memberikan mudhorot apa-apa kepada mereka. Mereka tetap demikian sampai datang urusan Alloh”.3

Ketika, kini, kita hidup di masa yang warna dan gayanya seperti sekarang ini, tentu kitalah yang bertanggung jawab untuk menjadi penyambung mata rantai tersebut agar generasi sesudah kita nanti juga menikmati nilai-nilai Islam tersebut sebagaimana kita pun bisa menikmatinya tak lepas dari jerih payah para pendahulu kita yang telah mewariskan nilai-nilai tersebut kepada kita. Dalam makna yang lebih spesifik lagi, bisa dikatakan bahwa masa depan ummat ini juga bergantung dalam batas yang besar kepada bagaimana generasi yang ada pada masa kini mempersiapkannya. Pekerjaan ini memang amat berat. Bahkan harus dipikirkan oleh setiap pihak. Hanya saja kita dapat belajar kepada para salafussholih kita, bagaimana mereka dapat sukses mengemban amanah sebagai penyambung mata rantai Islam untuk masa yang mereka hidup di dalamnya. Peri hidup mereka, mengajarkan kepada kita bahwa wujud dan dunia pengembanan itu adalah dunia ilmu. Sehingga, kita pun harus melanjutkan dunia mereka itu dalam konteks masa kita sekarang ini. Sedangkan, dunia amal adalah sesuatu yang sudah jelas tidak bisa dipisahkan dari dunia ilmu.

Banyak sekali sikap dan perilaku para salafussholih dalam hal tersebut di atas yang bisa kita ikuti dan kita jadikan pelajaran ketika kita hendak menuntut ilmu, menambah ilmu atau hendak mengoptimalkanan mengfungsikan ilmu yang sudah kita miliki, sebagai bentuk pelaksanaan amanah untuk meneruskan dan menyambung mata rantai nilai-nilai Islam.
Di samping adanya landasan yang kuat berupa niat yang ikhlas, takwa kepada Allah, tawadhu’ dan lain sebagainya, ada beberapa sikap penting yang perlu diteladani. Sikap-sikap tersebut antara lain:

1. Ilmu harus dicari, tidak datang sendiri

Setiap muslim harus menekuni bidang ilmu yang digeluti. Ia harus mencari & terus mencari. Karena memang ilmu itu tidak akan datang kepada pencarinya, atau menyulap orang dalam sekejap menjadi orang-orang yang mahir dan ahli. Allah SWT berfirman, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur”.4 Dengan begitu, tidak ada manusia yang lahir dalam keadaan pintar. tapi dengan menggunakan pendengaran, penglihatan dan hati untuk menuntut ilmu dan atas karunia Allah-lah manusia menjadi punya ilmu.

Jabir bin Abdulloh ra pergi ke Syam menempuh perjalanan selama satu bulan hanya untuk mendengar satu hadits saja dari Abdulloh bin Unais ra.5 Hadits tersebut ialah bahwa Rasulullah saw saw bersabda, “Sesungguhnya manusia itu nanti akan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan tidak memakai alas kaki, tidak memakai pakaian dan tidak dikhitan”. 6

Sedangkan Abu Ayyub Al-Anshori pergi dari Madinah ke Mesir menemui ’Uqbah bin Amir hanya untuk mendengarkan satu hadits saja yaitu sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa mentutupi aib saudara muslimnya di dunia maka Allah akan menutup aibnya di hah kiamat”.7

Abul ’Aliyah berkata, “Kalau kami mendengar sebuah hadits itu datang dari seorang sahabat, kami tidak puas kecuali kami pergi menemui sahabat yang memiliki hadits tersebut”.8

2. Membiasakan menghafal

Ilmu itu memerlukan amal, sedang pelaku amal itu tentu manusia pemilik ilmu tersebut. Sehingga mau tidak mau ilmu tersebut harus banyak dihafal. Karena itu, tidak mungkin seorang pun yang bisa membawa ilmunya kalau ilmu tersebut hanya ada dalam catatan saja. Berapa banyak catatan yang harus dibawa. Karenanya, membiasakan menghafal adalah salah satu sikap yang harus dipegang teguh.

Abu Zur’ah berkata, “Adalah Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits”.

Berkata Sulaiman bin Syu’bah, “Sesungguhnya murid-murid Abu Dawud menyalin hadits dari Abu Dawud sebanyak empat puluh ribu hadits, sedangkan Abu Dawud tidak memiliki buku”.

Sementara itu, Abu Zur’ah Arrozi berkata, “Aku ini hafal dua ratus ribu hadits seperti bagaimana orang lain menghafal surat Al-Ikhlash”.9

3. Membuat Karya Tulis

Untuk mengimbangi dan memperkuat kapasitas keilmuan seseorang, seharusnya ia membiasakan diri unutk membuat karya tulis. Dimulai dari yang kecil dan seterusnya. Tidak mesti karya tersebut dipublikasikan dan diakui orang lain karena hal itu bukan satu-satunya tolok ukurnya. Minimalnya, setidak-tidaknya ia akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi penulisnya sendiri. Kemudian selebihnya, orang-orang yang hidup di masa sesudahnya bisa juga menikmati karya-karya tersebut.

Ibnul ’Arobi menulis dalam bidang Taf-sier sebanyak delapan puluh juz. Itu di luar karyanya yang lain dalam bidang Ushul, Hadits, dan juga Tarikh).

Ibnu Abi Dunya menulis seribu karya tulis. Imam Al-Ha-kim menulis lebih dari seribu macam. Ibnu ’Asakir menulis dalam bidang Tarikh sebanyak delapan puluh jilid.10

4. Memperbarui semangat

Sesungguhnya menuntut ilmu dan mengembangkannya itu diperlukan jiwa yang bersemangat besar. Tidak dan bukan semangat yang hanya musiman. Untuk itu, yang diperlukan adalah bagaimana setiap muslim selalu memperbarui semangatnya agar perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup ini tidak sampai merusak semangat dirinya untuk menuntut ilmu. Karena jika semangatnya saja sudah tidak dimiliki, bagaimana mungkin hal-hal lain bisa diharapkan.

Ibnu ’Aqil Al Hanbali berkat, “Sesungguhnya semangatku untuk menuntut ilmu di usiaku yang delapan puluh tahun sama dengan semangatku ketika usiaku baru dua puluh tahun”.

Semangat itu sangat diperlukan sebagai modal awal dan utama untuk menuntut ilmu.

Suatu hari, Ibnu Jarir At Thabari menawarkan kepada murid-murid dan teman-temannya. “Maukah kalian belajar tafsir?”. Maka mereka menjawab, “Berapa banyaknya?”. At Thabari menjawab, “Tiga puluh ribu lembar”. Murid-muridnya itu pun berkata, “Sungguh itu adalah jumlah yang sangat banyak. Mungkin usia kita akan habis sementara pelajaran tafsir itu belum selesai.”
Maka diringkaslah oleh At Thabari menjadi tiga ribu lembar. Kemudian ketika mereka ditanya tentang apakah mereka mau belajar sejarah manusia semenjak masa Adam hingga masanya, mereka pun menjawab dengan hal yang sama. Setelah mendengar itu, berkatalah At Thabari, “Sungguh telah mati semangat dan kemauan kalian”. Lalu, ia meringkas sejarah itu dalam sekitar tiga lembar ribu lembar pula.11

5. Berbuat setiap saat

Di samping semangat, yang perlu dilakukan juga ialah bagaimana aktifitas peningkatan dan pencarian ilmu itu dilakukan setiap saat. Merenung dalam ilmu, berbuat dalam ilmu, dan berfikir dalam ilmu.

Ibnu ’Aqil Al Hanbali berkata, “Sesungguhnya tidak benar bagiku menyia-nyiakan sesaat pun dari usiaku. Sampai pun kalau lisanku berhenti dari menghafal, atau mataku berhenti dari membaca, maka aku menyibukkan pikiranku pada saat istirahatku itu hingga ketika aku bangun pasti telah memiliki dalam diriku apa yang akan aku tulis kemudian”.

Apabila Imam Bukhori terjaga dari dari tidurnya, maka ia menyalakan lenteranya kemudian ia menulis apa-apa yang terbetik dalam dirinya dari berbagai ilmu. Kemudian ia tidur lagi. Begitu seterusnya sampai kadang-kadang dalam satu malam ia melakukan hal itu sebanyak dua puluh kali.12

Imam Juwaini berkata, “Biasanya aku tidak pernah tidur dan makan. Tetapi aku tidur karena tertidur dan makan karena aku memang telah membutuhkannya. Sehingga aku tidur dan makan kapan saja. Karena kenimatanku ada pada menuntut ilmu.13

6. Sepanjang hayat.

Menuntut ilmu tidak dibatasi pada masa tertentu. Sampai ada kalimat bijak yang mengatakan, “Tuntutlah ilmu semenjak buaian hingga menjelang ke liang kubur”. Selama manusia masih bisa mencarinya maka ia harus mencarinya.

Muhammad bin Ishaq telah mengambil ilmu dari seribu tujuh ratus orang guru. Ia pergi menuntut ilmu dalam usia dua puluh tahun dan pulang dalam usia empat puluh lima tahun. Sedangkan Imam Bukhari mengambil ilmu lebih dari seribu orang syeikh.

Ketika Ibnu Jarir At Thabari menjelang wafat, orang yang ada di sekitarnya menyebut sebuah doa yang diriwayatkan oleh Ja’far bin Muhammad. At Thabari meminta orang yang ada di sekitarnya itu untuk mengambilkan pena dan kertas. Maka orang-orang yang ada di sekitarnya pun berkata, “Kondisi engkau sudah seperti ini, tidak usahlah”. Namun, At Thabari menjawab, “Tidak semestinya seseorang itu meninggalkan datangnya ilmu meskipun sampai mati”. Kemudian beberapa saat setelah menulis do’a itu beliau pun meninggal dunia.

Masa depan generasi mendatang sekaligus juga tanggung jawab generasi saat ini. Dan peranan ilmu mengambil porsi yang amat besar dalam hal ini. Tinggal bagaimana kita kini menekuni dan terus meningkatkan kapasitas ilmu kita masing-masing. Sehingga kita pun menjadi orang yang memang telah ikut mempersembahkan bagi umat ini salah satu mata rantai nilai-nilai Islam yang kelak akan disambut dengan senang hati oleh generasi sesudah kita.

Alhasan bin Ali berkata, “Belajarlah kalian dan tuntutlah ilmu. Sesungguhnya, jika kini kalian adalah orang-orang yang kecil dan tidak diperhitungkan manusia,kelak kalian akan menjadi orang-orang besar yang diperlukan mereka”.14

Ibnu Mas’ud, “Ketahuilah bahwa tidak ada di antara kalian satupun yang dilahirkan dalam keadaan berilmu. Sesungguhnya ilmu itu diperoleh dengan jalan belajar. Maka jadikanlah dirimu sebagai orang yang ahli ilmu, atau orang yang menuntutnya, atau orang yang mendengarkannya. Belajarlah kalian, karena sesungguhnya kalian tidak tahu kapan ilmu kalian itu akan dibutuhkan”.15

Catalan Kaki:

  1. Riwayat Bukhari (V/l 90) dan Muslim (2533), dari banyak jalan.
  2. Hadils marfu’ dari Abu Darda’ dengan jalan yang banyak sehingga derajatnya sampai hasan. Riwayat Abu Dawud (3641), Tirmidzi (2682), dan Ibnu Majah (223).
  3. Riwayat Muslim (1920) dari Tsauban. Yang dimaksud dengan segalongan ummatku itu menurut Bukhari adalah ahli ilmu. Sedangkan, menurut Imum Ahmad adalah ahli Hadits. Adapun Imam Nawawi melihat bahwa ia tidak terbatas pada golongan yang punya keahlian tertentu. Kemudian yang dimaksud dengan “urusan Allah” dalam hadits itu ialah angin yang akan bertiup dan mematikan setiap jiwa yang punya imam nanti menjelang hari kiarnat.
  4. Al-Qur’qn Sural An-Nahl ayat 78.
  5. Al-’llmu Dhoruroh Syar’iyyah, Dr. Noshir Al-Umar hal. 20.
  6. Riwayat Muslim dari Aisyah (2859),
  7. Riwoyat Bukhori (2310) dan Muslim (2580).
  8. Thobaqah Ibnu Sa’ad (VII/122).
  9. Sifatusshofwah (11/337, IV/88).
  10. Al-’llmu Dhoruroh Syar’iyyah, hal 25.
  11. ibid
  12. ibid
  13. ibid
  14. Jami’u Bayanil ’ilmi, Ibnu Abdul Barr (1/82).
  15. Al-Adab Assyar’iyyah, Ibnul Muflih (11/36).

Sumber: Waqfah edisi 07 Volume 1 Tahun 1996

Dipublikasi ulang Admin DPD PKS Sidoarjo