W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Ini Imbalan Apa

Siyasah yang didasari pada syariah yang adil dan maslahat disebut siyasah syar’iyah, ‘adilah atau Islamiyah. Inilah siyasah PKS. Karenanya. persoalan al ‘adalah wal maslahah, awwalan waqobla kulli syai’ merupakan sesuatu yang fitrah.

Al Imam Ibnu Qoyyim aI Jauziyah menyimpulkan syariah itu isinya keadilan dan kemaslahatan. Ini pemahaman sebagai kerangka. Karenanya, as-siyasah adalah bid ‘umminasy-syari’ab. Fungsi siyasah adalah tahqiq al maslahah wattafwiidh al mafsadah (berupaya mewujudkan kemaslahatan dan menghindarkan kemafsadatan dalam segala benluKdan maknanya).

Ibnul Ooyyim mengatakan, “Yamaa yakuunu aqrobu minashsholaah wa ‘asab ‘anil fasaad. Setiap pemikiran, ide, gagasan, kebjjakan, sikap, statemen dan tindakan yang memperhitungkan annaas aqroob minashsholaah (manusia lebih dekat pada kemaslahatan), kemudian wa illam yandzir fiihi wahyun, meski tidak ada qoola Allah, qoola Rasulullah saw, itulah as-siyasah.

Siyasah yang didasari pada syariah yang adil dan maslahat disebut siyasah syar’iyah, ‘adilah atau Islamiyah. Inilah siyasah PKS. Karenanya, persoalan al ‘adalah wal maslahah, awwalan waqobla kulli syai’ merupakan sesuatu yang fitrah. Orang akan mencapai keadilan dan maslahat jika memikirkan dan mengekspresikan keadilan dalam kebersihan fitrah, meski ia tidak tahu ayat dan haditsnya. Inilah hasil induksi Ibnul Qoyyim.

Karenanya, komunikasi politik yang Islami adalah sesuatu yang komunikatif dengan semua pihak. Soal bahasa tentu tidak harus qoola Allah qoola Ra I tetapi substansinya sesuai kerangka ini. Karenanya, fungsi dari anggota DPR kita adalah syahadah ‘alannaas Ustadz Anis menyebutnya ‘trendsetter’. Tapi, untuk menggapai syuhada ‘alannas dan menghadirkan namuudzah siyasi islami perlu wa kadzaalika ja’alnaahum ummalan wasathiyah wasyathoo litakunu syahadaa ‘alannaas. Wasathiyah ini adalah keadilan itu sendiri.

Beberapa hal terkait wasathiyah. Pertama, adanya distribusi keadilan. Wa anfiqulladzii haqqin haqqoo, berikan pada setiap pihak yang jadi haknya. Yang utama untuk Rabbnya, keluarganya, tetangga, jamaah, ikhwah, konstituen dan ummat. Jangan sampai ada porsi yang tidak diberikan atau dlberikan secara tak adil

Kedua. keadilan komutatif. Wad’usysyai’ fii mahallihi, neletakkan sesuatu pada tempatnya. Sebagai juru dakwah, boleh saja kita bekerja dan bermuamalah, tapi harus tahu diri, tahu posisi dan tahu fungsi. Wasathiyah juga berarti balance, moderate. Termasuk dalam hal tampilan.

Sebagian ikhwah menilai, setelah menjadi pejabat eksekutif atau legislatif, gaya hidup dan penampilan berubah. Di sini, annamatal al wasathi menjadi penting. Sehingga tak tampak glamour, tetap tawadhu, tapi tidak kumuh. Sebab, ada sebagian ikhwah, meski ada fasiltas yang bisa disyukuri, penampilan tetap “tawadhu” dengan kekumalannya. Imam Abu Hanafi misalnya, ia suka dandan, tidak mewah tentu tapi pantas. Imam Malik, orangnya perlente dan wangi. Imam Syafii selalu membawa sisir.

Ketiga. keadilan finansial dan mu’awadhah. Yakni, fil mu’awadhah. Ini banyak memunculkan masalah. Mu’awadhah artinya tukar-menukar. Saya ingin memberikan kerangka saja. Ada yang disebut amniyar al maudhu’i (standar objektif). Standar objektif yang adil adalah tidak mengambil atau menerima sesuatu tanpa ‘iwadh yang ma’qul biduunihii wadzinmatu (tanpa imbalan yang wajar).

Pertama, imbalan bisa berupa harga jika hubungannya jual-beli. Kedua, imbalan bisa berupa jasa atau prestasi yang wajar. Kita boleh menerima sesuatu karena telah memberikan prestasi atau jasa yang wajar. Ini yang disebut ijarah (fee) atau imbalan ihsan dan ibahah. Kita dibolehkan menerima dari pihak yang punya hak penuh untuk melakukan ihsan dan ibahah ini.

Jika ada yang datang, kita harus kritis. Ini imbalan apa? Apa kita sudah membayar harganya atau belum? Jika belum, apa kita sudah menunaikan prestasi atau jasa? Jika belum, kita harus selidiki, apakah yang datang itu orang yang punya otoritas (al kamil), punya hak untuk ibahah (memberi)? Jika secara syar’i, ia punya hak, insya Allah tak masalah. Tapi, jika secara syar’I, ia tak punya hak, harus ditanyakan atas dasar apa ia memberi? Ini pertanda kita obyektif.

Selanjutnya, tidak baleh menerima investasi atau kebaikan dari pihak lain kecuali kita membalasnya dengan setimpal atau lebih baik. Jika membalas setimpal itu adil, membalas lebih baik itu bersyukur. Dalam konteks ini. kita harus sadar bahwa keluarga, istri, saudara-saudara kita telah mengantarkan kita pada posisi saat ini. Betapa ikhwah. jama’ah dan konstituen telah mengantarkan kita pada posisi sekarang ini.

Jika kita membalasnya dengan bimitslihaa disebut adil atau bi ihsan minha disebut berterima kasih. Jika kita belum membalas setimpal disebut dzalim. Jika kita belum dapat berterima kasih, pastikan kita tidak melakukan kedzaliman. Fa inna dzulman dzulumaat yaumil qiyaamah (kedzaliman itu akan mengantarkan kita pada kegelapan di hari kiamat). Itu dari ukuran obyektif.

Secara subyektif. Allah SWT memberikan alat berupa fitrah dan nurani. Misalnya, definisi shadiri (dosa atau tidak). Yang namanya dosa, bisanya menimbulkan sesuatu yang tak enak, tidak betah, membuat hati tak nyaman dan tidak suka jika diketahui orang lain. Ini adalah mi’yar dzaati (subyektif).

Kesimpulannya, kita junud siyasah Islamiyyin. Intinya, kita harus berbuat adil pada semua pihak, selalu bersyukur pada Allah dan sesama manusia. Siapa yang tidak bisa bersyukur pada sesama akan gagal bersyukur pada Allah SWT. •

Oleh:
Dr Surahman Hidayat, MA
Ketua Dewan Syariah PKS. Tulisan di atas merupakan ringkasan taujih pada Raker F-PKS, 16-18 Februari 2007.