W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Kalau Pemimpin Gerakan Jadi Pemimpin Negara

Oleh M Anis Matta

Musim Gugur Politik

1999-2004. Itu tahun-tahun yang panjang dari musim gugur politik. Para pemimpin negara naik seketika dan jatuh seketika. Kalau toh masih bertahan, ia hanyalah simbol bahwa negara kita masih hidup, bukan simbol kepemimpinan yang efektif.

Partai-Partai politik juga berguguran di hati rakyat.

Musim gugur itu terjadi dalam tahun-tahun di mana kita memasuki era reformasi, yang lahir di ujung rezim orde baru dan di ambang sebuah krisis multi dimensi. Rakyat kita terlanjur menaruh harapan besar pada reformasi: bahwa era ini akan dikawal oeh pemimpin yang bukan hanya memiliki integritas pribadi, tapi juga mengerti bagaimana menangani krisis multi dimensi ini.

Haraban itulah yang sekarang layu sebelum berkembang, gugur satu demi satu dari tahun ke tahun. Mereka kehilangan kepercayaan, bukan hanya kepada pemimpin politik, tapi juga kepada institusi politik. Mereka tidak percaya pada integritas dan kemampuan para pemimpin menangani krisis. Mereka juga tidak percaya pada efektifitas gerakan dalam mengapresiasi dan memperjuangkan kepentingan rakyat.

Musim Semi Kepemimpinan Gerakan

Di ujung musim gugur akan datang musim semi. Rakyat kecewa. Bahkan sangat kecewa. Tapi mereka tidak berhenti berharap. Dan harapan yang muncul di ujung kekecewaan selalu merupakan pertanda bahwa sejarah akan lewat di sini: di potongan masa paling penting dalam perjalanan gerakan, untuk merekrut kepemimpinan baru bagi bangsa besar yang sedang tercabik-cabik ini.

Krisis adalah celah sejarah. Kekecewaan adalah pintu masuknya. Sejarah panjang umat kita di abad yang lalu bercerita bahwa lahir di tengah krisis-krisis multi dimensi dan tumbuh di tengah bencana-bencana besar, gerakan Islam memang ditakdirkan hadir untuk menyelesaikan perkara-perkara umat sekaligus mernimpin mereka, setelah tak ada lagi orang atau generasi yang dapat mereka harapkan.

Jadi keyakinan bahwa inilah musim semi kepemimpinan harakah (gerakan) setidak-tidaknya dibangun dari beberapa alasan. Pertama, akumulasi pengalaman gerakan sebagai pembawa ruh kebangkitan umat sepanjang abad 20 lalu. Gerakan-sepanjang abad lalu-telah berhasil menyalakan api kebangkitan dalam dada umat Islam dalam wajahnya yang utuh sebagai sistem kehidupan, dan kemudian menjadi tulang punggung yang memikul sebagian besar beban umat.

Secara perlahan-lahan gerakan menyembuhkan penyakit-penyakit jiwa, sosial, ekonomi dan politik yang tercipta dari efek penjajahan, membangun generasi kepemimpinan baru dalam bidang pemikiran, sosial kemasyarakatan, ekonomi politik, hingga kepemimpinan di medan jihad. Maka kredibilitas gerakan juga terbangun perlahan: dari ulama dan pemikir yang memenuhi perpustakaan dunia Islam dan menjadi rujukan umat hingga para mujahidin dan syuhada yang menyemai medan jihad dengan darah mereka. Secara de facto, kepemimpinan umat kini telah beralih ke tangan gerakan.

Kedua, kegagalan kelompok-kelompok nasionalis sekuler. Pada sebuah sudut di mana gerakan membangun kepemimpinannya dan membuktikan kredibilitasnya di mata umat, lalu perlahan-lahan mengambil alih kepemimpinan umat, pada sebuah sudut lain kelompok nasionalis sekuler yang sedang berkuasa-baik yang membawa bendera sosialisme-komunisme maupun yang membawa bendera kapitalisme-memperlihatkan kegagalan demi kegagalan.

Lihatlah negeri kita. Atas nama nasionalisme-dan dengan mengusung bendera komunisme-Soekarno memimpin Indonesia selama 20 tahun. Ujnngnya adalah bencana ekonomi politik, dan riwayat pemimpin revolusi itu berakhir. Soekarno jatuh.

Atas nama nasionalisme juga-dan dengan membawa bendera kapitaslisme- oeharto memimpin Indonesia selama 32 tahun. Ujungnya juga bencana ekonomi politik, dan kisah Bapak Pembangunan itu pun berakhir. Soeharto jauh. Ini bukan cerita khas Indonesia. Ini juga cerita Mesir, Aljazair, Turkt Pakistan dan lainnya.

Ketiga, krisis besar yang diciptakan oleh proses globalisasi. Globalisasi adalah berkah bagi negara-negara kuat. Tapi ia juga bencana bagi negara dengan struktur sosial ekonomi politik yang rapuh. Begitulah cita rasa globalisasi yang kita saksikan lewat krisis moneter tahun 1997, yang kemudian berkembang menjadi krisis multi dimensi, yang hingga kini belum berakhir.

Kepemimpinan nasional yang lemahlah yang membuat goncangan ekonomi berantai itu menuai efek sangat dahsyat bagi bangsa kita. Sementara Thailand, Korea dan Malaysia melakukan recovery, kita masih terns terpuruk.

Globalisasi akan menjadikan kita sebagai pemain figuran dalam pentas ekonomi politik dunia, kecuali jika kita berani melakukan restrukturisasi kepemimimpinan nasional. Dan inilah celah masuk bagi kepemimpinan gerakan.

Keempat, perbaikan pada tingkat pendidikan dan partisipasi politik generasi pemimpin gerakan. Gelombang demokratisasi yang terjadi di berbagai belahan dunia menyusul runtuhnya Uni Soviet di awal dekade 90-an, seperti banjir bandang yang menyeret semua komponen masyarakat ke dalam arena politik. Begitu juga dengan gerakan. Pengalaman partisipasi politik gerakan telah memicu percepatan proses pembelajaran, dan pada saat yang sama, telah memperluas wilayah penerimaan masyarakat terhadap kepemimpinan gerakan. Maka di samping ada pengalaman people power yang sukses di Iran tahun 1979, dan kudeta militer yang sukses di Sudan tahun 1987, kini ada juga sukses Hamas di Aljazair serta gerakan Keadilan dan Pembangunan di Turki.

Menembus Jarak

Karena alasan-alasan itu, barangkali cukup bijak untuk mengatakan tahun-tahun mendatang adalah tahun panen bagi gerakan. Sudah saatnya para pemimpin gerakan mengembangkan sayap kepemimpinannya dari lingkaran gerakan dan umat kepada lingkaran bangsa dan dunia.

Memang tidak bijak untuk terlalu menyederhanakan masalah ini. Tapi juga tidak sama bijaknya untuk terlalu meremehkan diri sendiri, dan seterusnya memaafkan diri sendiri untuk selamanya berada ’di dalam’ dan tidak ’keluar’.

“Saya tahu,” kata Sayyid Quthub, “bahwa di antara realitas kepemimpinan gerakan saat ini dan peluang merebut kepemimpinan bangsa di masa depan, masih terbentang jarak yang jauh.”

Tapi jarak realitas itulah yang harus kita ketahui, untuk kita tembus dengan kerja keras. Walaupun begitu, tipikal kepemimpinan nasional yang diperlukan bangsa kita saat ini adalah tipikal pemimpin krisis. Dan tipikal kepemimpinan krisis bertumpu pada pemenuhan tiga unsur sekaligus: integritas, pengetahuan dan kepemimpinan. Dan tipikal kepemimpinan seperti ini tumbuh subur dalam gerakan.

Kelemahannya adalah kepemimpinan gerakan masih tumbuh dalam lingkaran mihwar (era) dakwah yang baru saja memasuki arena politik. Jadi secara institusional, kepemimpinan ini perlu melakukan transformasi politik untuk untuk meningkatkan daya tahan integritas mereka, memperluas wawasan kebangsaan, dan sekaligus menguji kapasitas kepemimpinan mereka pada wilayah yang lebih luas dan beragam. Para pemimpin harokah harus mengakselerasi proses pembelajarannya supaya kapasitas mereka tumbuh seepat masalah-masalah nasional dan global yang mereka hadapi.

Transformasi politik itu juga perlu dilakukan untuk memperluas hubungan dan koneksi politik, serta mendongkrak popularitas kepemimpinan gerakan di mata publik. Para pemimpin gerakan harus terlibat secara sangat progresif dalam mengambil momentum publik yang bersifat historis. Supaya dengan begitu bisa menjadi icon di tengah masyarakat. Sebab pemimpin selalu merupakan icon zamannya.

Tapi ini membutuhkan dukungan pada tingkat institusi. Maksudnya, institusi gerakan harus melakukan transformasi politik dari gerakan kader menjadi gerakan massa. Di era gerakan, kader gerakan berorientasi pada kualitas. Sementara di era massa, massa gerakan berorientasi pada kuantitas. Basis kader dan massa menjadi paduan yang kokoh dari kualitas dan kuantitas.

Proses transformasi itu harus dikelola melalui sebuah strategi yang komprehensif dan integral. Diperlukan kajian-kajian pendukung dari ilmu antrapologi, sosiologi, sejarah, dan politik untuk mendapatkan peta yang akurat tentang masyarakat kita. Setelah itu diperlukan juga kajian-kajian pendukung dari ilmu komunikasi sosial dan politik untuk mengemas pesan gerakan dalam bahasa publik.

KELUARLAH SAUDARAKU

Saudaraku, kau tahu bencana datang lagi
Porak lagi negeri ini
Hilang sudah selera orang-orang untuk mengharap
Sementara jiwa-jiwa nelangsa itu
Sudah sedari lama berbaris-baris memanggil-manggil

Keluarlah…
Keluarlah saudaraku
Dari kenyamanan mihrabmu
Dari kekhusukan i’tikafmu
Dari keakraban sahabat-sahabatmu

Keluarlah…
Keluarlah saudaraku
Dari keheningan masjidmu
Bawalah roh sajadahmu ke jalan-jalan
Ke pasar-pasar
Ke majlis dewan yang terhormat
Ke kantor-kantor pemerintah dan pusat-pusat pengambilan keputusan

Keluarlah…
Keluarlah saudaraku
Dari nikmat kesendirianmu
Satukan kembali hati-hati yang berserakan ini
Kumpulkanlah kembali tenaga-tenaga yangtersisa
Pimpinlah dengan cahayamu kafilah nurani yang terlatih
Di tengah badai gurun kehidupan

Keluarlah…Keluarlah saudaraku
Berdirilah tegap di ujung jalan itu
Sebentar lagi sejarah kan lewat
Mencari aktor baru untuk drama kebenarannya
Sambut saja dia
Engkaulah yang ia cari

Sumber: Hidayatullah no. 03/XVI/Juli 2003

Dipublikasi ulang Admin DPD PKS Sidoarjo