W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Kata Pengantar

Profil Kader PK Sejahtera 2009

Pekerjaan besar paska Pemilu 2004 bagi partai dakwah adalah tarbiyah. Hasil pemilu berupa 8,3 juta konstituen merupakan bahan dasar potensial bagi proses tarbiyah itu. Baik yang akan dikolola ke dalam format tarbiyah nukhbawiyah maupun yang akan terus dikelola ke dalam format tarbiyah jamahiriyah.

Sudah dijelaskan sebelumnya, target tarbiyah nukhbawiyah adalah tersedianya sekitar 2 juta kader pada tahun 2009, atau sekitar 20% dari keseluruhan konstituen kita pada pemilu 2004. Itu pun harus mempertimbangkan penyebaran kader dan halaqah tarbawiyah yang merata secara geografis, mempertimbangkan keseimbangan proporsi anggota pada setiap jenjang, segmentasi sosio-demografis, termasuk keseimbangan jumlah ikhwan dan akhwat.

Ada satu hal tambahan penting bagi proses tarbiyah nukhbawiyah. Yaitu keharusan memenuhi aspek kualitas kader, yang dikenal dengan muzuashafat tarbawiyah. Secara umum, proses tarbiyah berupaya membentuk kepribadian setiap kader yang memenuhi sepuluh aspek muwashafat tarbawiyah. Yaitu: salimul aqidah (bersih akidahnya), shahihul ’ibadah (benar ibadahnya), matinul khulq (kokoh akhlaknya), qawiyyul jism (kuat fisiknya), mutsaqqaful fikr (berwawasan pernikirannya), qadirun ’alal kasbi (mampu berekonomi), munazhamun fi su’unihi (terorganisir segala urusannya), harishun ’ala waqtihi (cermat mengatur waktunya), mujahidun fi nafsihi (kuat kesungguhan jiwanya) dan naafi’un li ghairihi (bermanfaat bagi selainnya).

Kesepuluh aspek kualitas kader ini dicapai melalui berbagai kegiatan pembinaan atau ansyithah tarbawiyah di berbagai sarana yang digariskan oleh manhaj tarbiyah. Halaqah sebagai sarana pembentukan akidah, fikrah, ’ibadah, akhlak dan penguasaan ’amal jama’i. Mabit sebagai sarana tarbiyah ruhiyah, riyadhah jama’i sebagai sarana tarbiyah jasadiyah, rihlah sebagai sarana tarbiyah ukhawiyah, daurah dan sejenisnya sebagai sarana tarbiyah fikriyah.

Selain itu, pembentukan kualitas kader juga dilakukan melalui tadrib wa taujih al ’amal atau pelatihan dan pengarahan kerja di berbagai bidang. Seorang murabbi berkeharusan untuk melatih dan mengarahkan para mutarabbi-nya untuk terlibat dalam ’amal da’awi (kerja dakwah), ’amal ’ilmi (kerja akademik), ’amal mihani (kerja profesi), ’amal iqtishadi (kerja ekonomi), ’amal siyasi (kerja politik), ’amal i’lami (kerja media dan informasi), ’amal ijtima’i (kerja kemasyarakatan), dan lain sebagainya. Sehingga setiap kader bukan saja berkualitas secara normatif-teoretis tetapi juga berkualitas secara praktis-aplikatif.

Lima tahun ke depan, dakwah ini akan berhadapan dengan peluang dan sekaligus tantangan yang besar. Peluang itu berupa terbukanya lahan-lahan dakwah di berbagai bidang, baik dalam ruang masyarakat maupun lembaga-lembaga swasta dan pemerintahan. Ekspansi dakwah ini membutuhkan ketersediaan kader-kader dakwah dalam jumlah banyak, yang memiliki keunggulan normatif dan aplikatif. Kemampuan jajaran kader melakukan ekspansi dakwah, menyebarkan fikrah, memperluas pengaruh dan membangun kepemimpinan di masyarakat akan menentukan keberhasilan misi dakwah di mihwar muassasi ini.

Tetapi pada saat yang sama, kita akan menghadapi tantangan-tantangan yang tak kalah besar. Pengubahan dan dinamika global yang tidak bersahabat dengan dakwah Islam, kondisi-kondisi sulit dalam negeri yang masih memunculkan ketidakpastian, serta
penyakit masyarakat yang semakin parah berpotensi menjadi hambatan dan ancaman bagi dakwah kita.

Peluang dan tantangan semacam ini-yang kita ukur dinamikanya sepanjang lima tahun ke depan-membutuhkan profil kader yang lebih khusus. Artinya, ada sisi-sisi kualitas diri yang perlu diperkuat agar dihasilkan barisan kader yang mampu menembus peluang dan tantangan dakwah ke depan.

Departemen Kaderisasi PK Sejahtera, sebagai elemen struktural yang bertanggung jawab terhadap masalah pengkaderan, telah merumuskan tujuh karakter khusus sebagai Profil Kader PK Sejahtera 2009. Ketujuh karakter itu adalah: (1) kokoh dan mandiri, (2) dinamis, kreatif dan inovatif, (3) spesialis yang berwawasan global, (4) murabbi produktif, (5) mahir ber’amal jama’i, (6) pelopor pengubahan, dan (7) kepemimpinan masyarakat.

Inilah tujuh karakter khusus yang haras dibangun pada diri setiap kader-kader dakwah, jika ingin memenangkan dakwah ini pada pemilu 2009 nanti. Tiga karakter pertama merefleksikan kapasitas internal seorang kader yang memahami dinamika global kehidupan saat ini, tetapi memiliki kemampuan spesialis yang protesional. Aktivitas kerja dan dakwahnya senantiasa ditandai oleh kekokohan dan kemandirian diri, gerak yang dinamis serta ide-ide yang kreatif dan inovatif. Kapasitas internal ini diperkuat dengan dua karakter berikutnya yang merefleksikan kapasitas sosial-nya. Yaitu orang yang mampu mendidik masyarakat dan menjadikannya kader dakwah, dengan pola kerja ’amal jama’i sesuai prinsip-prinsip dakwah Islam. la dikenal di masyarakat sebagai orang shalih yang mampu menyebarkan dan menularkan keshalihannya.

Akhirnya, kapasitas internal dan kapasitas sosial kader disempurnakan dengan dua karakter berikut, yaitu pelopor pengubahan dan kepemimpinan masyarakatnya. Ini adalah kapasitas politik yang dituntut dari setiap kader. Artinya, kebaikan diri dan sosialnya dijadikan modal untuk menjadi aktor politik yang salih di negerinya. Ia senantiasa memelopori pengubahan dengan beragam program, dengan menghimpun segala potensi masyarakat dan dakwah yang ada di sekitarnya, mengarahkannya sesuai prinsip dan sasaran dakwah, lalu menggerakkan potensi itu menjadi energi pengubahan yang positif. Setiap bentuk pengubahan positif yang dipeloporinya akan menjadi modal akumulatif bagi pembentukan posisi kepemimpinannya di masyarakat. Sehingga pada pemilu 2009 nanti, jika dibe’rlakukan sistem distrik murni, insya Allah dakwah ini telah memiliki kader-kader yang menjadi informal-leader di masyarakat pemilihnya.

Dari paparan ini, mungkin muncul pertanyaan tentang bagaimana mewujudkan profil kader semacam ini? Bukankah ini membutuhkan sosok murabbi super? Saya tidak ingin memberikan jawaban rincian, karena bisa jadi para murabbi lebih tahu caranya. Tetapi ada beberapa prinsip yang menjadi key-words bagi kesuskesan pekerjaan besar ini. Pertama, pengelolaan tarbiyah haruslah bersifat interaktif. Artinya, proses pembinaan tidak boleh berhenti pada aspek-aspek normatif-teoretik. Setiap kader harus diinteraksikan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai dan pemahaman yang dibentuk dalam halaqah tarbawiyah harus mampu dibimbing pada penerapan amalnya di lapangan; pada kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, aktivitas ekonomi dan lain sebagainya. Untuk itu, seorang murabbi tidak boleh membatasi interaksinya dengan para mutarabbi di ruang-ruang halaqah tarbawiyah. Tapi ia senantiasa bergaul dengan mereka di berbagai kesempatan dan ruang kehidupan.

Prinsip kedua, pengelolaan tarbiyah haruslah bersifat responsif. Yaitu, ada sikap positif yang dibangun untuk peka terhadap dinamika kehidupan di sekitar dan mampu meresponnya secara manhaji. Halaqah tarbawiyah akan diramaikan dengan laporan pandangan mata para mutarabbi tentang apa yang terjadi dilingkungan kehidupan mereka. Persis seperti burung hud-hud yang melapor kepada Nabi Sulaiman a.s. tentang situasi-kondisi kerajaan Saba’ yang dipimpin oleh Ratu Balqis. Reportase ini didiskusikan, disimpulkan dan direspon dengan barnamij atau program dakwah yang dilaksanakan secara ’amal jama’i. Setiap kader dimotivasi dan diberi kepercayaan untuk mendayagunakan semua potensi yang dimilikinya dalam menjalankan program itu. Sehingga terdorong ide-ide kreatif, inovatif dan sifat dinamis pada diri mereka.

Prinsip terakhir, pengelolaan tarbiyah harus mampu memunculkan iklim fastabiqul khairat atau iklim berkompetisi. Dakwah tidak berjalan di ruang kosong, tetapi-sesuai sunnahnya-berjalan di tengah medan pertarungan yang luas dan kompleks. Di sekelilingnya begitu banyak unsur-unsur kekuatan kebatilan yang ingin memaksakan hegemoninya, dan secara serius bekerja untuk menghadang dakwah. Telah begitu banyak kerusakan dan fitnah yang mereka ciptakan. Demikianlah, dakwah dihadirkan Allah untuk melenyapkan semua kerusakan dan fitnah di muka bumi ini. Sesuatu yang hanya bisa terwujud, manakala tersedia barisan kader dakwah yang memiliki semangat fastabiqul khairat untuk meraih kemenangan dari Allah Azza wa Jalla.

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo