W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Kelompok Pemikir Strategi

Oleh Anis Matta

Pengibar Bendera PKSSnouck Hourgronje mungkin merupakan orang paling berjasa bagi pemerintah Hindia Belanda. Dan jasanya yang paling besar adalah usulan kebijakannya tentang bagaimana seharusnya pemerintah Hindia Belanda “menghadapi” umat Islam di Indonesia, yang kemudian terbukti sangat efektif dan berhasil memperpanjang usia “penjajahan” di negeri ini.

Yang menarik di antara sekian banyak rekomendasi kebijakannya adalah peringatannya kepada pemerintah Hindia Belanda untuk tidak mengganggu tiga hal dalam kehidupan umat Islam. Pertama, jangan ganggu umat melaksanakan semua jenis ibadahnya, bahkan fasilitasi mereka untuk itu. Kedua, jangan ganggu kaum perempuan. Ketiga, jangan ganggu para ulama. Kebijakan ini benar-benar tepat untuk sebuah komunitas muslim dengan pola keberagamaan yang simbolik dan harfiah, sehingga selama simbol-simbol yang disakralkan dalam agama tidak terganggu, mereka merasa bahwa agama ini masih baik-baik saja, tidak ada yang perlu dicemaskan.

Setelah berdirinya Israel tahun 1948, para pemikir strategi Israel memunculkan sebuah gagasan tentang “perang periodik”. Gagasan ini mengatakan bahwa karena secara finansial Israel sangat tergantung dari bantuan internasional, khususnya dari Amerika Serikat dan Inggris, maka bantuan-bantuan itu selalu perlu dirasionalisasi dari waktu ke waktu kepada publik dunia. Jadi, Israel perlu melakukan usaha-usaha yang sistematis untuk “mengekspor” persoalan-persoalannya kepada dunia, ancaman-ancaman terhadap eksistensi dan kelangsungan hidupnya; sesuatu yang membuatnya tampak perlu dikasihani dan ditolong serta diselamatkan, dan dengan cara itu mereka mendapatkan simpati dunia, di mana salah satu bentuknya adalah bantuan finansial.
Strategi yang paling tepat untuk itu adalah perang. Dan diran-canglah sebuah perang periodik dengan negara-negara Arab, Mesir, Syria dan Lebanon. Perang itu ber-langsung antara setiap lima sampai sepuluh tahun. Maka perang tahun 1948 kemudian disusul dengan perang tahun 1956, lalu disusul lagi dengan perang tahun 1967, kemudian perang tahun 1973, kemudian perang tahun 1982. Perang periodik ini perlu dilakukan untuk me-maintain memori publik terhadap Israel yang perlu diselamatkan. Ketika saya ber-kunjung ke Amerika bulan Juli tahun 2000 lalu, dan sempat bertemu dengan beberapa senator dan congresman Amerika di Washington, saya mendapatkan informasi dari mereka bahwa 80% bantuan luar negeri Amerika memang diberikan kepada Israel dan “Mesir”.

Strategi perang periodik itu ternyata kemudian berhasil melaksanakan beberapa fungsi. Pertama, mempertahankan semangat perang prajurit Israel. Kedua, merealisasi prinsip ekspansionisme yang merupakan bagian inheren dalam falsafah Zionisme internasional. Ketiga, mendapatkan uang.

ekarang kita melihat betapa efektifnya strategi itu, baik dalam menciptakan soliditas internal dalam struktur masyarakat Israel yang baru berdiri maupun dalam menciptakan image Israel sebagai raja yang paling berkuasa di kawasan Timur Tengah. Istilah Timur Tengah ini sendiri merupakan bagian dari strategi Israel untuk mengisolasi Dunia Arab dan Dunia Islam, untuk kemudian mengisolasi Palestina dari Dunia Arab.

Itu hanya dua contoh tentang bagaimana pemikiran strategis telah membantu memperpanjang usia sebuah penjajahan dalam kasus pertama, dan memperkokoh posisi politik-militer penjajah baru dalam kasus kedua. Kehadiran kelompok pemikir strategi telah menjadi sebuah keniscayaan, bukan saja bagi negara, tapi juga bagi semua kelompok yang mempunyai misi besar. Para konsultan memainkan peran sebagai pemikir strategi dalam dunia bisnis, sementara lembaga-ipmbaga pengkajian strategi memainkan peran yang sama untuk komunitas sosial, politik, dan militer.

Generasi Pemikir Strategi

Kalau dakwah ini merupakan sebuah proyek peradaban yang besar, sesungguhnya dakwahlah yang lebih membutuhkan kehadiran kelompok pemikir strategi tersebut. Saat ini, di hampir seluruh negara Islam, dakwah sedang dalam proses “menegara”. Mark Juergensmeyer bahkan menyebut fenomena ini sebagai gejala kebangkitan global dari “nasionalisme religius”. Di kalangan para pengamat politik internasional, seperti Kinechi Ohmae, Naisbit, dan Huntington, ada anggapan kuat bahwa era konsep negara-bangsa (nation state) yang menjadikan nasionalisme sebagai ruhnya, yang dipelopori oleh Perancis dan Amerika pada abad ke-18 sebagai model negara pasca negara-dinasti yang bertumpu pada feodalisme, kini telah berakhir. Sebagai gantinya, muncul konsep negara-etnis dan konsep negara-agama.

Saya tidak sedang ingin membahas masalah ini. Yang ingin saya katakan adalah dakwah kita saat ini sangat membutuhkan kehadiran kelompok pemikir strategi. Karena itu saya merasa bahwa generasi para “ideolog” telah melakukan tugas mereka dengan baik: Sayyid Quthub, Muhammad Quthub, Muhammad Al-Ghazali dan Yusut Al-Qardhawi di Mesir, atau Al-Maududi di Pakistan, atau Al-Nadawi di India. Mereka telah membangun sebuah basis pemikiran yang kokoh bagi kebangkitan Islam di seluruh dunia. Kini tiba saatnya bagi generasi baru melanjutkan peran mereka: generasi pemikir strategi yang bertugas menyusun langkah-langkah strategis untuk mencapai cita-cita dawah. Saya tidak mengatakan generasi itu belum ada. Tapi saya ingin mengatakan bahwa pustaka dunia Islam masih dipenuhi oleh tulisan para ideolog tersebut, dibanding generasi baru yang kita harapkan.

Yang kita perlukan adalah kehadiran sejumlah pemikir strategi dengan kualifikasi yang baik, dan terinstitusikan, serta bekerja dengan metodologi yang handal. Para pemikir strategi adalah orang-orang yang berpikir dalam kerangka kesisteman, menggabungkan banyak disiplin ilmu dan meramunya menjadi sebuah struktur pemikiran yang utuh, dan menjelaskan bagaimana tujuan, cara, dan sarana terintegrasi menjadi satu kesatuan.

Strategi bukanlah sebuah disiplin ilmu. Ia adalah seni tentang bagaimana memanfaatkan berbagai disiplin ilmu untuk mencapai tujuan tertentu. Itulah yang menjelaskan mengapa metode merupakan salah satu bagian inti dari strategi. Tapi para pemikir strategi itu, beserta pemikiran-pemikiran mereka, perlu diinstitusikan, karena ini bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan sendiri oleh seorang pemikir.

Dalam konteks kita saat ini, ada setidaktidaknya dua bidang garap yang harus dilakukan oleh kelompok pemikir strategi ini. Pertama, strategi gerakan, yaitu merumuskan strategi untuk mengembangkan dakwah dari partai menuju negara, termasuk di dalamnya merumuskan: strategi pengembangan institusi, kader kepemimpinan, basis massa, pola penetrasi sosial, tahapan ekspansi, tema dan agenda politik partai pada setiap tahapannya. Kedua, merumuskan berbagai kebijakan publik yang sebagiannya untuk dijadikan landasan bagi penyusunan berbagai perundang-undangan, dan sebagiannya lagi untuk diusulkan sebagai kebijaksanaan pemerintah.

Para pemikir strategi harus mempunyai basis yang kuat pada dua lingkaran pengetahuan. Pertama, basis ilmu-ilmu keislaman. Kedua, basis ilmu-ilmu sosial humaniora. Selama ini, ada kesan bahwa para aktivis dakwah justru menghindari ilmu-ilmu sosial dengan alasan muatannya yang sangat sekuler. Saya tidak menafikan hal itu. Tapi itu bukan alasan untuk tidak menggelutinya. Karena basis ilmu-ilmu keislaman dan pengalaman tarbiyah bukan saja akan memberikan kita imunitas kultural dan pemikiran, tapi juga kemampuan memilah dan mencipta sesuatu yang baru. Sebagaimana cerita Alquran tentang susu: datangnya dari antara kotoran dan darah.

Sumber: Saksi No. 15 Tahun III 1 Mei 2001

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo