W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Kesejahteraan Petani Jatim Dipertanyakan

Besarnya potensi pertanian Jatim tersebut ternyata tidak diimbangi dengan besarnya nilai tambah yang dirasakan oleh petani di wilayah tersebut. Hingga detik ini, pertanian masih menjadi sektor yang kurang prospektif untuk bisa meningkatkan taraf hidup mereka. Hal ini terlihat dari rendahnya indeks inflasi pedesaan atau Nilai Tukar Petani (NTP) di tahun 2010 ini.

Data Badan Pusat Statistik Jatim menunjukkan kenaikan NTP Jatim pada tahun ini terlihat belum signifikan. Kalaupun ada kenaikan, tidak mencapai 1%. Kepala BPS Jatim Irian Indrocahyo mengungkapkan bahwa pada bulan Maret 2010, NTP Jatim malah mengalami penurunan sebesar 0,24%. Dari rata-rata NTP bulan Pebruari 2010, sebesar 98,54% menjadi 98,31%. Sementara pada bulan April 2010, mengalami kenaikan yang masih sangat kecil sekitar 0,30%. Dari bulan Maret, yang hanya mencapai 98,31% menjadi 98,60%.

Belum bergeraknya tingkat daya beli masyarakat pertanian di wilayah Jatim ini menurut Arif Hari Setiawan yang merupakan Wakil Ketua Komisi B DPRD Jatim, disebabkan karena kecilnya nilai tambah yang diperoleh petani dalam produksi mereka. Kebanyakan produksi mereka langsung dijual dalam bentuk “on farm” kepada para tengkulak. Akibatnya, laba yang mereka peroleh sangat kecil dibanding laba yang didapatkan para tengkulak tersebut.

Politisi asal FPKS itu mencontohkan untuk komoditas kubis umpamanya, harga dari petani hanya mencapai Rp400 per kilogram. Harga tersebut akan menjadi Rp1.500 per kilogram saata dijual oleh tengkulak di pasar tradisional. Bahkan, jika komoditas tersebut dijual di pasar Modern, harganya bisa jadi akan melonjak menjadi Rp5.OOO per kilogram.
Sementara untuk harga gabah, di petani, hanya mencapai Rp2.000 hingga Rp2.200 per kilogram untuk gabah kering panen (GKP) dan Rp2.700 per kilogram untuk gabah kering giling (GKG), sementara harga beras mencapai Rp4.700 per kilogram. Padahal di pasar tradisional, harga beras yang sejenis mencapai Rp 6.000 per kilogram.

Oleh karena itu, komisi B telah membenkan inisiatif pembuatan perda yang sudah disahkan tahun kemarin tekait dengan tata kelola produk-produk agrobisnis. Perda ini di harapkan bisa memberikan ruang gerak petani kecil untuk berusaha bangkit dan menjual panennya langsung ke pasar tanpa melewati tengkulak lokal.

Diharapkan juga dengan adanya perda ini bisa mengatasi kendala-kendala di lapangan. Di antaranya, menyadarkan para petani untuk diberdayakan dengan cara membentuk kelompok-kelompok tani, menekan pemerintah khususnya eksekutif membangun infrastruktur akses transportasi menuju pasar, meningkatkan kualitas hasil panen bagi petani.

(Arif Hari Setiawan, S.T., M.T. adalah Wakil Ketua Komisi B, anggota Pansus RT/RW dan anggota FPKS DPRD Jawa Timur)

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo

Konten lainnya: