W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Kesempatan Bersejarah di Tengah Krisis

Oleh M Anis Matta

Enam tahun sudah krisis multidimensi melilit bangsa kita. Secara perlahan-lahan, rasa percaya diri kita sebagai bangsa mulai lumpuh. Kita mulai belajar untuk percaya bahwa krisis ini tampak seperti jalan panjang yang tak berujung; kita mungkin akan terns melangkah gontai di atas jalan ini, tapi kita tidak pernah benar-benar yakin kemana sebenamya kita melangkah.

Tidak adakah ekonom yang brilian-di negeri ini-yang dapat memahami, mencerna dan menemukan jalan keluar bagi krisis ekonomi kita? Tidak adakah pemikir atau budayawan atau agamawan yang jenius-di negeri ini-yang dapat memahami, mencern dan menemukan jalan keluar bagi persoalan-persoalan kebangsaan kita?

Seperti gambaran Multatuli tentang gugusan pulau-pulau Nusantara sebagai zamrud khatulistiwa, begitu juga banyak ekonom yang brilian atau pemikir yang jenius yang di bertebaran di seantero negeri ini. Tapi faktanya adalah; kita belum juga keluar dari krisis multidimensi ini.

Yang kita saksikan sesungguhnya adalah sebuah fakta sederhana; bahwa manusia-manusia brilian dan jenius itu adalah lidi-lidi yang berserakan, yang tidak dikumpulkan menjadi sapu, manusia-manusia brilian dan jenius tidak diorganisasi menjadi kekuatan bangsa di bawah sebuah kepemimpinan yang kuat dan solid.

Kepemimpinan-sebagaimana selalu terbukti berulang-ulang dalam sejarah-memberikan porsi terbesar bagi semua masalah yang dihadapi setiap bangsa. Atau sebaliknya, semua kemajuan yang mereka ciptakan, dalam seluruh potongan sejarah mereka.
Ideologi, agama, nilai-nilai, pengetahuan, dan sistem, hanyalah kumpulan benda mati sampai ia mendapatkan tiupan ruh kehidupan dari para pemimpin. Kita dapat merumuskan ratusan solusi teknis untuk krisis ekonomi kita. Tapi tidak satu pun dari solusi teknis yang akan meng-bah keadaan ekonomi kita secara efektif kecuali jika dijalankan oleh pemimpin yang handal.

Kepemimpinan yang kuat dan baik tidaklah menjamin semua krisis kita selesai. Tapi kepemimpinan yang kuat dan baik memastikan, bahwa semua solusi strategis dan teknis yang kita rumuskan, dapat bekerja secara benar dan efektif. Itulah kunci penyelesaian masalahnya. Tapi itu pulalah kunci masalah kita. Itulah krisis di balik semua krisis yang kita alami; krisis kepemimpinan.

Pemimpin Transisi

Ledakan partisipasi politik baik dari segi sistem maupun semangat oposisi di kalangan rakyat, secara sub-stansial melahirkan masalah baru bagi kepemimpinan nasional. Yaitu meningkatnya standar harapan masyarakat terhadap para pemimpin nasional.

Krisis kepemimpinan di negeri kita, yang selalu berujung dengan pergantian pemimpin nasional di luar jadwal konstitusi, terjadi karena para pemimpin nasional tidak memenuhi harapan masyarakat. Itu bukan karena mereka tidak menepati janji-janji mereka. Itu terjadi karena kapasitas kepemimpinan, yang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa yang sedang dililit krisis, tidak tersedia pada mereka. Dengan kata lain, mereka bukan orang yang diperlukan di zaman ini.

Dalam masa transisi seperti ini, masyarakat membutuhkan sense of direction (perasaan terarah), self confident (rasa percaya diri) dan pride (kebanggaan). Untuk memenuhi kebutuhan psiko-politik masa transisi itu, maka fungsi-fungsi kepemimpinan yang harus ada pada para pemimpin nasional adalah;

Pertama, fungsi direksi dan inspirasi. Para pemimpin transisi harus mampu merumuskan arah bangsa secara jelas, sederhana, dan benar. Pada waktu yang sama, mereka juga harus mampu menginspirasi bangsa mereka yang sedang bingung dan gamang. Arah memberikan kepastian kepada bangsa, tapi inspirasi membuat bangsa lebih terlibat dengan arah tersebut.

Kedua,, fungsi pembangkit kekompakan (solidarity maker). Bangsa yang sedang menglami krisis mudah mengalami perpecahan, karena hilangnya rasa saling percaya di antara mereka. Seringkali potensi bangsa itu bahkan sangat besar, tapi mereka semua hanyalah lidi yang dapat berfungsi sebagai sapu jika mereka diikat dan disatukan oleh sang pemimpin.

Ketiga, kemampuan teknis. Persoalan-persoalan yang kita hadapi dalam masa transisi, terlalu rumit untuk diselesaikan melalui retorika semata. Harus ada kompetensi teknis, dalam bentuk ilmu pengetahuan dan keterampilan kepemimpinan, yang memadai untuk dapat menjalankan roda pemerintahan secara efektif.

Keempat, integritas akhlak dan kepribadian. Tiga fungsi di atas hanya akan menjadi efektif jika seorang pemimpin transisi memiliki integritas keperibadian. Sebab, dari sinilah datangnya kepercayaan publik terhadap pemimpin. Dalam masa transisi, tidak ada sesuatu yang lebih mahal yang dipertaruhkan seorang pemimpin selain dari kredibilitas dirinya di mata publik.

Keempat fungsi itulah yang sesungguhnya hilang dari pemimpin nasional saat ini. Bangsa kita melewati krisis berkepanjangan ini tanpa arah yang jelas karena pemimpin nasional memang tidak menetapkan arah perjalanan bangsa. Kehidupan nasional bangsa kita juga retak dan terancam pecah karena tidak ada pemimpin yang merekatkan mereka. Masalah-masalah ekonomi dan sosial kita tidak terselesaikan karena dikelola oleh pemimpin yang tidak berpengetahuan dan tidak rnemiliki kecakapan kepemimpinan. Tapi yang lebih parah dari itu semua, bahwa bangsa kita melewati masa krisis ini tanpa kepercayaan terhadap akhlak pemimpin nasional.

Sumber: Suara Hidayatullah no. 01/XVI/Rabiul Awal 1424 H

Dipublikasi ulang Admin DPD PKS Sidoarjo