W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Kokoh dan Mandiri (1)

B. Indikator Kokohnya Seorang Kader

I. Indikator Kokoh Ma’nawiyah

  1. Ikhlas dalam berdakwah,
  2. Senantiasa memurnikan akidah dari bid’ah dan khurafat,
  3. Qiyamullail minimal 3 kali setiap pekan,
  4. Puasa sunnah minimal 3 kali setiap bulan,
  5. Tilawah minimal 1 juz setiap hari,
  6. Membaca ma’tsurat pagi dan sore setiap hari,
  7. Tadabbur Al Quran minimal satu ayat dalam sehari,
  8. Sabar dalam menghadapi ujian hidup dan dakwah,
  9. Senantiasa tawakal kepada Allah SWT dalam setiap situasi dan kondisi,
  10. Senantiasa berzikir.


Seorang kader yang memiliki kebugaran jasmani tanpa disertai dengan kekuatan ruhiyah ma’nawiyah, maka ia tidak akan mampu melaksanakan kerja-kerja dakwah. Kekokohan ma’nawiyah merupakan daya dorong untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan operasional dan beban dakwah. Maka dalam lima tahun ke depan, kader harus membangun kekuatan ruhiyah untuk menjaga keikhlasan dalam medan dakwah partai. Baik yang berkaitan dengan dimensi akidah, ibadah, dan akhlak. Tidak diragukan lagi keimanan yang dimiliki oleh generasi salafus saleh ikut andil dan melakukan ta’tsir besar dalam setiap keberhasilan kerja dakwah. Dan kekuatan ruhiyah kader juga memiliki pengaruh besar dalam kemenangan dakwah partai dan kepercayaan masyarakat.

Allah SWT berfirman, “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.” (QS 24: 37)

Rasulullah saw.-sesuai yang diceritakan Aisyah r.a.-pernah melakukan shalat sampai kakinya bengkak. Umar bin Khathab selalu berpesan kepada para pasukan sebelum berangkat bertempur untuk tidak mengabaikan kekuatan ruhiyah, karena merupakan modal utama bagi mereka dalam menghadapi kuffar. Memang selain dimensi keilmuan, kekuatan ruhiyah harus dimiliki kader dakwah sebagaimana yang dituangkan Imam Syafi’i dalam antologi puisinya, “Barangsiapa pada waktu mudanya tidak melakukan dakwah, hendaklah ditakbirkan empat kali karena ia telah wafat. Dan hakikat seorang pemuda-demi Allah SWT-hanya dengan keilmuan dan ketakwaan. Maka, jika ia tidak memiliki keduanya, janganlah kamu anggap sebagai pemuda.” Oleh karenanya, Imam As-Syahid Hasan Al Banna sangat memerhatikan dimensi ini dalam membangun kader dakwah seperti yang tertuang dalam beberapa risalahnya, dalam 10 tausiahnya, dan Wajibat Al Akh.

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo