W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Kokoh dan Mandiri (2)

II. Indikator Kokoh Fikriyah

  1. Menguasai mawad tarbawiyah dengan baik,
  2. Mampu memahami tafsir dan ulumul Quran sesuai madah tarbiyah,
  3. Mampu memahami hadis dan Ulumul Hadis sesuai madah tarbiyah,
  4. Mampu berbahasa Arab dan Inggris,
  5. Memiliki wawasan tentang gerakan-gerakan destruktif,
  6. Memiliki wawasan global.


Kekokohan fikriyah dan ilmiah seorang kader dalam perjalanan dakwah lima tahun ke depan sangat diperlukan dan merupakan tuntutan yang harus dipenuhi. Tanpa wawasan dan keilmuan yang memadai, kader dakwah tidak akan mampu berinteraksi dengan dunia kemajuan, era global, dan teknologi informasi yang dihadapinya. Ia akan tertinggal jauh dengan milieu dakwahnya, apalagi merekayasa masyarakat dan dunia. Karena “faaqidus sya’i laa yu’thi ghairahu” (orang yang tidak memiliki apaapa tidak akan dapat memberi kontribusi pada yang lain).

Kekokohan fikriyah para rasul tergambar pada minhaj dan risalah yang diturunkan Allah SWT kepada mereka. Sementara Al Quran telah bicara panjang lebar tentang urgensi keilmuan, seperti, “Katakanlah: “Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui.” (QS. 39:39)

Berkata Yusuf as, “Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (QS. 12:55)

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 58:11)

Surat yang pertama pun turun berkaitan erat dengan metode membangun kekuatan keilmuan dan wawasan, yaitu perintah membaca.

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang diinginkan baik oleh Allah SWT, ia akan diberi pemahaman tentang agama.

Sementara Imam Syafi’i-rahimahullah-berkata dalam antologi puisinya, “Barangsiapa pada waktu mudanya tidak melakukan dakwah, hendaklah ditakbirkan empat kali karena ia telah wafat. Dan hakikat seorang pemuda-demi Allah SWT-hanya dengan keilmuan dan ketakwaaan. Maka apabila ia tidak memiliki keduanya, janganlah kamu anggap sebagai pemuda.

Di sinilah, As-Syahid Hasan Al Banna menekankan kepada kader dakwah untuk memahami dan isti’ab penuh terhadap ushul ’isyriin yang digariskan beliau dalam membangun kekuatan kader dakwahnya. Berangkat dari sini, beliau meletakkan “Al fahm” di urutan pertama dalam rukun bai’ah-nya.

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo