W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Kokoh dan Mandiri (3)

III. Indikator Kokoh Da’wiyah

  1. Berpartisipasi dalam rekruiting hizbi dan tajnid ikhwani,
  2. Aktif melakukan dakwah fardiyah di lingkungan keluarga dan lingkungan sosial,
  3. Menjaga nilai-nilai da’wiyah dalam keluarga,
  4. Memiliki skill rekayasa sosial da’awi,
  5. Mampu membangun jaringan sosial dengan tokoh-tokoh sentral,
  6. Istiqamah di jalan dakwah.


Kekuatan ma’nawi dan fikri merupakan sarat mutlak dan bekal kader dalam medan dakwah. Kecerdasan jiwa dan kebeningan hati yang mencerminkan ketegaran iman dan ikhlas merupakan bensin yang tidak pernah kering dalam menghidupkan roda dakwah sepanjang hidupnya. Rasulullah Nuh a.s. selalu semangat menawarkan nilai-nilai kebenaran risalah vang dibawanya kepada setiap manusia yang dijumpainya. Beliau tidak kenal waktu istirahat dalam menebarkan kebenaran yang dibawanya. Malam dan siang beliau senantiasa mendakwahkannya.

Nuh as berkata, “Ya Rabbku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang.” (QS. 71: 5)

Begitu pun yang dilakukan Rasulullah saw di saat ayat-ayat Quraniyah diturunkan untuk terang-terangan mengumandangkan dakwah, meskipun resikonya sangat tinggi dalam jalan ini. Setelah turun surat Al Mudatstsir dan ayat “Fashda’ bimaa tu mar wa a’ridl ’anil musyrikin” (Q.S. 15: 94), beliau tidak pernah berhenti mendakwahkan Islam kepada masyarakatnya.

Beliau yang mengatakan, “Waktu tidur sudah lewat, wahai Khadijah!

Rasulullah pun berkata kepada pamannya di saat mengkhawatirkan kondisi dirinya, “Demi Allah SWT. Sekiranya matahari diletakkan di atas pundakku agar berhenti berdakwah, tidak akan aku tinggalkan sampai Allah SWT memutuskan perkaranya; mati dalam dakwah atau kemenangan dakwah.

Maka, selama 23 tahun, Rasulullah tidak pernah mengalami rasa lelah, lesu dan loyo dalam medan dakwah.

Begitu pun yang dilakukan para sahabat dalam memengaruhi masyarakat jahiliyah pada masa itu. Mereka menyebar mencari obyek dakwah yang bisa dipengaruhi dengan risalah Islam. Meskipun resikonya menghadapi penghinaan, pelecehan dan penyiksaan di jalan ini.

Abu Bakar dengan potensi yang dimiliki melakukan dakwah fardiyah kepada beberapa tokoh-tokoh muda yang memiliki kedudukan di masyarakatnya. Maka, masuklah seperti Utsman bin Affan, Abdur Rahman bin Auf, Tholhah bin Ubaidillah dalam barisan Islam. Demikianlah kerja-kerja dakwah yang dilakukan para sahabat. Tidak hanya berhenti di sini saja, setelah wafat Rasulullah saw mereka pun terus membawa obor estafet dakwah.

Mengapa mereka harus berjalan jauh menjelajah bumi Allah SWT kalau bukan karena panggilan dakwah. Tidak hanya menebarkan nilai-nilai dakwah ini di benua Asia saja, tetapi terus membuka bumi-bumi Allah SWT yang baru seperti, Afrika dan bahkan sampai Eropa. Ketika panji-panji Islam berkibar di tanah Mesir dengan panglimanya, Amr bin Ash ra dan berkibar di bukit Gibaltarq (Jabal Thariq) Asbania (Spanyol) pada tahun 92 H..

Inilah potret dan gambaran kekokohan dan semangat juang para Salafus Saleh dalam menebarkan risalah ilahiah di bumi Allah SWT. Fenomena inilah yang diwarisi tokoh-tokoh dakwah di abad 21.

Bagaimana peran yang dimainkan Muhammad bin Abdul Wahhab di Nejed, Muhammad Abduh, Rasyid Ridlo, dan sang murabbi Asy-Syahid Hasan Al Banna di Mesir ketika membangun pondasi-pondasi dakwahnya. Selama lima tahun penyakit stroke yang menyerang sang dai, DR. Musthafa As-Siba’i tidak pernah melemah semangat dobrak dan perjuangannya dalam memimpin dakwah di Syiria. Begitu pun peran dakwah yang dimainkan oleh Syekh Ahmad Yassin di bumi Palestina sampai “syahadah” menjemputnya.

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo