W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Kokoh dan Mandiri

Adalah sahabat Rasulullah, yaitu Mush’ab bin Khubaib al Anshari yang tertawan oleh kaum musyrik Quraisy di kota Mekah.

Ketika itu, kaum musyrik Quraisy telah melukai tubuhnya dan membawanya ke tiang salib. Lalu mereka berkata, “Apakah kamu mau bila Muhammad menjadi penggantimu dalam hukuman ini?”

Mush’ab bin Khubaib al Anshari menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan merelakan apabila diriku, istriku, dan anak-anakku dalam keadaan balk, sementara Muhammad tertusuk duri.” Kemudian dia meneriakkan nama Muhammad dan dia mencapai syahidnya di tiang salib tersebut.

Inilah profil kader yang diinginkan institusi tarbiyah Partai Dakwah, PK Sejahtera lima tahun ke depan, yaitu kader yang memiliki karakter kokoh dan mandiri.

A. Pengertian Kokoh dan Mandiri

“Kokoh” yang dimaksudkan dalam buku ini adalah karakter kader yang memiliki kekuatan, kematangan, dan kedewasaan secara ma’nawiah, fikriah, da’awiah, dan jasadiah.

Inilah kader yang memiliki ketajaman ruhiah, kebeningan, dan kejernihan jiwa juga kader yang mempunyai keluasan iimu pengetahuan, wawasan global, dan kekuatan mengimplemen-asikan keilmuannya dalam realitas kehidupannya. Ini pulalah kader yang mampu tsabat dan istiqomah dalam medan dakwah meskipun gelombang ujian silih berganti menghadangnya.

Dan seorang kader yang memiliki kebugaran dan kesehatan jasmani, sehingga mampu mengemban beban dakwah dan senantiasa dinamis dan energik. Tanpa mengenal lelah, lesu, dan loyo dalam merespon nida’ dakwah.

“Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS 3:146)

Rasulullah saw bersabda, “Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah SWT daripada seorang mukmin yang lemah…

Imam As-Syahid Hasan Al Banna dalam sebuah risalahnya secara eksplisit menginginkan kader yang memiliki kekokohan dan kemandirian untuk mengemban beban dakwah. Beliau berkata, “Kami menginginkan jiwa-jiwa yang hidup, kuat, dan selalu muda. Hati yang baru yang senantiasa berkibar-kibar dan ruh yang selalu menggelora dan berobsesi untuk menuju cita-cita yang tinggi…

Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh kader dakwah dalam menyukseskan delapan fikrah ikhwaniah, di saat sang kader memiliki kekuatan, kematangan dan kekokohan secara maknawi, fikri, da’awi, jasadi, yaitu:

  1. Keimanan yang kuat,
  2. Keikhlasan di jalan dakwah,
  3. Hamasah (semangat) yang membara,
  4. Amal dan tadlhiah (pengorbanan).

“Mandiri” dalam buku ini adalah kemampuan seorang kader dalam melakukan pengembangan diri dan pembelajaran secara mandiri (ta’allum dzaati) dan kemandirian dalam dimensi maaliah (keuangan).

Begitu pun, seorang kader harus memiliki kemandirian dalam urusan keuangan. la tidak boleh bergantung dengan orang lain dalam masalah ini. Bagaimana dapat melakukan tadlhiah (pengorbanan), jika tidak mandiri dalam masalah ta’allum dzaati maupun masalah keuangan. Bahkan tidak adanya kemandirian yang dimiliki kader dakwah dapat menjadi faktor kefuturan dan berjatuhan dalam jalan dakwah.

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo