W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Menderek Suara PKS di Ranah Islam Tradisional

(14/08/08) DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jatim menargetkan mendapat 10% suara dari kawasan daerah pemilihan (Dapil) III Jatim. Padahal, kawasan tersebut dikenal basis kekuatan Islam Tradisional dan nasionalis sekuler.

Dapil III Jatim meliputi Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso. Sepanjang 2 kali pemilu pascareformasi, kawasan tersebut selalu dimenangkan partai yang memiliki kultur Islam Tradisional (PKB dan PPP) dan nasionalis sekuler abangan (PDIP).

Khusus di Situbondo pada pemilu 2004, PPP mengalami lonjakan suara sangat signifikan, setelah tokoh strategis di daerah itu, KH Fawaid Syamsul Arifien bergabung dan berkampanye untuk PPP. Suara PPP hakikatnya adalah suara warga NU yang pada pemilu 1999 mendukung PKB.

Apakah PKS yang lebih dekat dengan kalangan Islam Modernis mampu merebut suara signifikan di dapil III Jatim maupun kawasan lain di Jatim pada umumnya? Di antaranya partai berasas Islam atau dengan basis konstituen pemilih santri, mungkin PKS lebih mantap konsolidasi dan pencitraannya lebih bagus.

Dengan slogan bersih dan profesional, partai pimpinan Tifatul Sembiring ini lebih mengedepankan dimensi visi, misi, dan program aksi yang bersifat populis dibanding menjual kepopuleran dan ketokohan figur. Hampir tak ada figur menonjol yang ditempatkan sebagai tokoh sentral di PKS, khususnya PKS Jatim.

Nama PKS kemungkinan besar jauh lebih terkenal dan dikenal rakyat dibanding Tifatul Sembiring sebagai Presiden PKS maupun Ja’far Trikuswahyono sebagai Ketua DPW PKS Jatim. Banyak pemilih di kawasan perkotaan dan pedesaan makin mengenal dan mengerti PKS berikut ideologi, visi, dan misinya.

Bagi PKS butuh perjuangan berat untuk bisa merebut suara signifikan di Jatim. Pemilih di provinsi ini dikenal pendukung fanatik partai yang memiliki kaitan historis, kultural, dan psiko-politik dengan NU. Seperti PPP, PKB, dan yang terbaru PKNU.

Sementara itu, pemilih di kawasan Mataraman Jatim sangat dikenal sebagai penganut paham Marhaenisme Soekarno dan pemilih PNI pada pemilu 1955. Yang mana pada era sekarang, keturunan pemilih PNI dan pengikut Marhaenisme Soekarno itu mayoritas memilih PDIP sebagai wadah politiknya.

Di sisi lain, kekuatan Islam Modernis (Muhammadiyah) sebagian besar mendukung PAN dan mungkin Partai Matahari Bangsa (PMB) yang baru ikut pemilu 2009 mendatang. Tak sedikit pula, warga Muhammadiyah yang juga aktif di ormas Parmusi menjatuhkan pilihan politiknya kepada PPP. Yang mana PPP adalah wadah politik yang dibentuk dengan mensinergikan antara kekuatan Islam Tradisional (NU) dan Islam Modernis (Parmusi).

Lalu dari tlatah kultural mana PKS Jatim bisa menambah pundi-pundi suaranya? Pada pemilu 2004 lalu, sebaran suara PKS lebih banyak dihasilkan dari kawasan perkotaan di Jatim. Seperti, kawasan Malang Raya, Surabaya, dan lainnya.

Dengan modal pencitraan sebagai partai bersih dan profesional, mungkin sekarang adalah PKS yang memiliki nilai plus paling tinggi dalam aspek pencitraan dibanding partai lainnya, termasuk dengan sesama partai berasas Islam atau berskonstituen pemilih Islam.

Modal politik itu sangat berharga bagi partai ini merebut suara pemilih baru terdirik di kawasan perkotaan. Pemilih yang perilaku politiknya sangat cair dan lumrah melakukan sirkulasi politik dalam menentukan pilihan politiknya.

Jujur diakui bahwa cukup berat bagi PKS untuk merebut dukungan dari kalangan pemilih di Jatim yang pola perilaku politiknya bersifat patron-client. Mereka biasanya menentukan pilihan politiknya berdasar referensi politik orang tua atau keluarga besarnya yang bersifat turun-temurun.

Kalau pada pemilu 1955 orang tuanya memilih PNI, kemungkinan besar mereka akan menjatuhkan pilihan kepada PDIP. Kalau pemilu 1955 memilih Partai NU, mungkin pemilu nanti memilih PKB, PPP atau PKNU. Kalau pemilu 1955 memilih Partai Masyumi, maka mungkin nanti memilih PBB.

Tapi, sejalan dengan makin tinggi dan cerdasnya pendidikan politik rakyat dan jumlah pemilih bersifat cair makin besar jumlahnya, peluang PKS untuk menderek suara di Jatim makin terbuka lebar.

Apalagi selama ini, PKS kendati berasas Islam, namun gerak langkah dan manuver partai ini lebih banyak menyentuh aspek-aspek kebutuhan riil rakyat dibanding manuver yang bersifat ideologis. Dengan demikian, kiprah dan sentuhan PKS dirasakan langsung rakyat pemilih. Semoga. (bj2)