W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Menghindari ‘Ashobiyah

Diasuh oleh Ustadz Musyaffa A. Rahim, Lc.

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ustadz Musyaffa yang saya hormati. Alhamdulillah, saya masih aktif dalam kegiatan dakwah. Di antaranya keaktifan saya dalam sebuah partai dakwah yang sangat saya cintai ini. Namun, belakangan ini saya menghadapi sedikit masalah. Salah seorang tetangga saya menyayangkan saya berjuang untuk satu kelompok dan sekian banyak kelompok Islam. Bukankah itu akan menjurus pada fanatisme golongan. Dan fanatisme akan menggiring aktivisnya menjadi ‘ashobiyah.

Menurut Ustadz, bagaimana saya mesti bersikap. Terus terang, saya agak bingung menjawab ini. Atas bantuan Ustadz, saya ucapkan jazakumullah khairan.

Khalrun Nisa, Jakarta.

Jawaban:

Ukhti Khairun Nisa’ di Jakarta dan juga pembaca majalah SAKSI lainnya di manapun berada, Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Masalah yang ukhti kemukakan, akan kita bahas dalam dua bagian:

  1. Bagian pertama membahas tentang intima’ atau intisab (menisbatkan diri atau menjadi anggota) dari sebuah organisasi, atau perkumpulan, mazhab, partai, golongan dan semacamnya.
  2. Bagian kedua membahas tentang bagaimana seseorang yang mempunyai sebuah intima’atau intisab (keanggotaan) pada organisasi tertentu bergaul dan berinteraksi dengan golongan atau anggota golongan lainnya.

Ber-intima’ atau ber-intisab merupakan ekspresi dan aktualisasi dari berbagai hal:

  1. Ekspresi dan aktualisasi dari sunnatullah terhadap manusia. Sebab, tidak ada manusia (selain Adam as dan Hawa) kecuali ia mempunyai nasab. Dalam arti lain, ia pasti ber-intima’dan ber-intisab. Minimal ia akan dipanggil dengan sebutan: ya bani Adam (wahai anak keturunan Adam as).
  2. Sebagai cara untuk memperkenalkan diri (ta’aruf). Misalnya saat seseorang disebut Abdullah bin ‘Amir Al-Indonesi. Maksudnya, ada seseorang yang bernama Abdullah, ia adalah anak laki-laki dari ‘Amir, dan ia berkebangsaan Indonesia. intima’ dengan maksud ta’aruf ini diperbolehkan dan dibenarkan oleh Al-Qur’an Al-Karim (lihat Q.S. Al-Hujurat: 13). Dalam ayat ini, Allah SWT menjelaskan bahwa fakta adanya suku-suku (nasionalisme) dan bangsa-bangsa (wathaniyah) adalah agar kita sebagai manusia saling ta’aruf (berkenalan).
  3. Ekspresi dan aktualisasi dari adanya pengakuan terhadap jasa dan peran orang lain terhadap dirinya. Misalnya dikatakan Imam Nawawi Asy-Syafi’i (631-676 H). Maksudnya adalah ada seseorang yang terkenal dengan sebutan An-Nawawiyang nama aslinya adalah Abu Zakaria Yahya bin Syarof. Karena ia berasal dari desa (daerah) yang bernama Nawa, maka ia dipanggil An-Nawawi. Karena ia menguasai berbagai macam ilmu dan sekaligus menjadi teladan bagi masyarakatnya, maka ia dipanggil Imam. Walaupun ia seorang Imam, namun, karena ia mengakui jasa Imam Syafi’i (Muhammad bin Idris [150-204 H]) terhadap dirinya dalam hal metodologi dan lain sebagainya, maka, sebagai pengakuan atas jasa ini, ia menisbatkan (ber-intisab) dirinya kepada sang Imam pembangun mazhab ini dengan menyebut dirinya sebagai Abu Zakariya Yahya bin Syarof An-Nawawi Asy-Syafi’i.
  4. Ber-intisab atau ber-intima’ adalah bentuk ekspresi dan aktualisasi dari sebuah wadah untuk melakukan a’awun ‘alal birri wa at-taqwa, agar daya dan kekuatan ta’awun ‘alal birri wa at-taqwa ini semakin bertambah, meningkat dan beban yang dipikul semakin ringan. Dan juga agar tujuan-tujuan besar yang tidak bisa dicapai dengan pendekatan perseorangan atau kelompok kecil, bisa dicapai saat ada ta’awun dalam skala besar.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • intima’ atau intisab menuntut adanya al-wala’ (kesetiaan) dan al-bara’ (kontra kesetiaan).
  • Al-Wala’ dan Al-Bara’ yang terbangun atas dasar intima’dan intisab tersebut tidak boleh lebih tinggi (apalagi) mengalahkan al-wala’ dan al-bara’ yang terbangun atas dasar Iman dan Islam. Maksudnya, kesetiaan kita kepada suatu nasab (hubungan darah), atau suku (nasionalisme), atau kebangsaan, atau organisasi, atau mazhab, atau partai dan semacamnya, tidak boleh lebih tinggi (apalagi mengalahkan dan meninggalkan) intisab atau intima’a kepada Iman dan Islam.
  • Kita harus tetap membatasi intima’ dan intisab tadi dalam batas-batas yang dibenarkan Islam, yaitu sebagai ta’aruf, pengakuan jasa, dan dalam rangka bekerja sama dalam segala kebaikan dan ketakwaan dan tidak boleh sama sekali untuk bekerja sama untuk berbuat dosa dan melanggar atau merampas hak.

intima’ dan intisab yang kita miliki tidak boleh dijadikan sebagai dasar ‘ashabiyah (fanatisme) atau tafriqah (pemecah belahan) komponen umat atau fakhr (kebanggaan) yang melampaui batas.

Mungkin masih ada satu pertanyaan: kenapa kita sebagai anggota kelompok atau partai tertentu mesti merekrut dan menambah keanggotaan untuk kelompok atau partai kita?

Ada tujuan-tujuan tertentu yang tidak bisa dicapai atau direalisasikan kecuali bila ada perkumpulan atau organisasi besar.

Dalam rangka membesarkan organisasi atau perkumpulan atau partai inilah diperlukan adanya rekruitmen keanggotaan, agar organisasi atau perkumpulan atau partai itu semakin meningkat atau bertambah kemampuannya dalam mencapai hajat dan tujuan-tujuan yang dica-nangkannya.

Terkadang, dalam usaha recruiting ini terjadi saling rebutan antara satu organisasi dengan organisasi lainnya. Hal ini adalah wajar selama masih dalam batas tanafus (kompetisi sehat) atau tasabuq (perlombaan). Tidak boleh sampai ke tingkat tanazu’ (gontok-gontokan), tadharub (saling pukul/saling gempur) dan apa lagi tanahur (saling bunuh). Na’udzubillah min dzalik.

Untuk itulah, diperlukan adanya upaya saling berwasiat dengan kebenaran, saling berwasiat dengan kesabaran serta saling berwasiat dengan kasih sayang.

Menjadi kehormatan dan sekaligus beban saat kita ber-intima’ dan ber-intisab kepada sebuah organisasi atau partai yang memang benar-benar memperjuangkan nilai-nilai kebenaran.

Semoga ana dan ukhti serta pembaca majalah SAKSI semuanya termasuk ke dalam bagian orang-orang ini. Amin.

Sumber: SAKSI No. 14 Tahun VI 12 Mei 2004 hal 86-87

Dipublikasi ulang Admin DPD PKS Sidoarjo