W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Menikmati Demokrasi

Oleh Anis Matta

anis matta_kecilMereka adalah kelompok minoritas seksual yang punya hak untuk hidup menurut cara mereka, dan harus kita hormati.” Itu kata Dewi Hughes saat mewawancarai dua orang gay, Samuel Wattimena dan Dede Oetomo, dalam “Angin Malam” yang bertajuk Homoseksual.

Itulah salah satu sisi lain demokrasi. Semua orang bebas, maka setiap entitas, termasuk entitas nilai punya hak untuk hidup. Kebebasan dalam ber bagai bentuknya adalah nilai utama yang menyangga demokrasi.

“Kita harus terbuka tidak ada lagi yang harus ditutup-tutupi. Ini kan era reformasi,” kata si perancang busana Samuel Wattimena. Dede Oetomo yang bekerja sebaga dosen Universitas Airlangga, juga mendukungnya.

Tiba-tiba saya tersadar bahwa kita sedang melukis sebuah potret kehidupan tidak dari satu imajinasi. Tapi semua imajinasi yang pernah dan mungkin ada. Demokrasi hanya memfasilitasi munculnya semua imajinasi itu, semua pilihan hidup itu, tapi kemudian melarang kita mempertanyakan bagaimana akhirnya potret itu.

Setiap individu-dalam masyarakat demokrasi-sama dengan individu yang lain. Mereka semua sama-sama bebas: dalam berpikir, berekspresi, bertindak, memilih jalan hidup. Tidak boleh ada rasa takut, tidak boleh ada tekanan, terutama dari militer. Kebebasan hanya dibatasi oleh kebebasan yang sama.

Fungsi sebuah negara demokrasi hanyalah memfasilitasi masyarakat untuk hidup bersama secara damai. Negara bertugas melindungi setiap individu dan setiap entitas untuk hidup menurut cara mereka. Dasar yang digunakan negara dalam bekerja adalah kesepakatan bersamd antar warga negara, sesuatu yang kemudian kita sebut dengan konstitusi, undang-undang atau hukum.

Padanan demokrasi dalam ekonomi adalah tuntutan pasar bebas. Di sini, harus ada jaminan kebebasan bagi lalu lintas barang, jasa dan manusia (sebagai apapun, termasuk sebagai tenaga kerja), tanpa batasan tentorial, regulasi, atau nilai; semua pergerakan itu semata-mata tunduk kepada hukum supply and demand. Semua bentuk barang atau jasa harus bisa diperdagangkan, selama ada permintaan pasar.

Menikmati Demokrasi

Maka semua orang menikmati demokrasi. Para kapitalis menikmati demokrasi, karena inilah payung politik yang memberi akses ke semua sudut pasar potensial. Para buruh juga menikmati demokrasi, karena inilah payung politik yang memberi perlindungan hak-hak dan kebebasan bekerja. Kelompok minoritas dalam semua bentuknya, termasuk minoritas nilai (atau yang secara kasar kita sebut menyimpang), juga menikmati demokrasi, karena hak hidup mereka terlindungi di sini. Dakwah juga menikmati demokrasi, karena di sini mereka menemukan kebebasan untuk bertemu dan berinteraksi secara terbuka dan langsung dengan semua objek dakwah. Otoritarianisme dan kediktatoran membuat dakwah tidak bisa bernafas lega. Di sana tidak ada tempat bagi ekspresi yang lepas.

Tapi kenikmatan ini ada harganya, terutama bagi dakwah. Kita memang bebas berdakwah, tapi para pelaku kemungkaran juga bebas melakukan kemungkaran. Yang berlaku di sini bukan hukum benar-salah, tapi hukum legalitas; sesuatu itu harus legal, walaupun salah, dan sesuatu yang benar tapi tidak legal, adalah salah. Begitulah aturan main demokrasi. Karena itu masyarakat demokrasi cenderung bersifat eufemistis, longgar dan tidak mengikat.

Yang kemudian harus kita lakukan adalah bagaimana mengintegrasikan kebenaran dengan legalitas; bagaimana membuat sesuatu yang salah dalam pandangan agama, menjadi tidak legal dalam pandangan hukum positif.

Secara terbalik, itu pulalah yang dilakukan para pelaku kejahatan. Para mafia narkoba harus mencuci uangnya agar bisa menjadi hak milik yang legal.

Maka penetrasi kekuasaan dalam negara demokrasi harus dilakukan dengan urutan-urutan begini. Pertama, menangkanlah wacana publik agar opini publik berpihak kepada kita. Dan inilah kemenangan pertama yang mengawali kemenangan-kemenangan selanjutnya. Kedua, formulasikan wacana itu kedalam draf hukum untuk dimenangkan dalam wacana legislasi melalui lembaga legislatif. Kemenangan lagislasi ini menjadi legitimasi bagi negara untuk mengeksekusinya. Ketiga, pastikan bahwa para eksekutif pemerintah melaksanakan dan menerapkan hukum tersebut.

Jadi inilah tiga pusat kekuasaan dalam negara demokrasi: wacana publik, legislasi, dan eksekusi. Pengadilan itu lembaga netral. Signifikan, tapi tidak menentukan proses pembentukan struktur kehidupan masyarakat dalam negara demokrasi.

Melakukan penetrasi ke dalam tiga pusat kekuasaan itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Kita akan menemui banyak ranjau, saat kita hendak membentuk opini publik untuk kemudian memenangkan wacana publik. Sebab wacana publik adalah dunia tanpa batasan. Sekarang, kita membatasi gerakan komunis di Indonesia karena konstitusi kita tidak mengizinkannya untuk hidup. Tapi kita tidak dapat mencegahnya untuk terus tumbuh sebagai sebuah wacana pemikiran. Demikian pula ketika Clinton “menghabisi” industri rokok di Amerika. Ia telah membatasi ruang publik bagi para perokok dan membuat mereka merasa tidak nyaman. Tapi, ia terlebih dahulu telah memenangkan wacana publik, sebelum memenangkannya dalam wacana legislasi.

Jadi, misalnya kita ingin menghabisi pornografi di negeri ini, inilah jalannya. Susunlah struktur gagasan yang kuat untuk meyakinkan publik betapa merugikannya pornografi bagi kehidupan kita. Jika kita menang di sini, buatlah sebuah rancangan undang-undang untuk membasmi pornografi dalam segala bentuknya. Dan jika kita menang di sini, kontrollah secara ketat, apakah pemerintah melaksanakannya secara baik atau tidak. Kalau tidak, kita bisa menuntut pemerintah.

Demikianlah dakwah harus bekerja dalam era demokrasi. Ada kebebasan yang kita nikmati bersama. Tapi juga tersedia “cara tersendiri” untuk mematikan kemungkaran dan melakukan penetrasi kekuasaan. Anggaplah ini sebuah seni yang harus dikuasai para politisi dakwah.

Sumber: SAKSI No. 13 Tahun III 3 April 2001

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo