W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Menyambut Perlindungan Allah

“Peliharalah (hubungan dengan) Allah niscaya Allah akan memelihara kamu. Peliharalah (hubungan dengan) Allah niscaya engkau akan menemukan-Nya di mana saja”. (HR Turmudzi no 2516, HR Ahmad 1/294)

Sesungguhnya perlindungan Allah atas diri kita juga tergantung bagaimana kita menjaga (komunikasi dengan) Allah. Maka dari itu salah satu nasehat penting yang disampaikan Rasulullah kepada Ibnu Abbas pada suatu hari ialah, “Peliharalah (hubungan dengan) Allah niscaya Allah akan memelihara kamu. Peliharalah (hubungan dengan) Allah niscaya engkau akan menemukan-Nya di mana saja”. (HR Turmudzi no 2516, HR Ahmad 1/294).

Hadits ini sungguh besar muatannya. Sulaiman bin Dawud berkata, “Sesungguhnya kami mempelajari apa-apa yang dipelajari oleh manusia dan apa-apa yang belum mereka pelajari. Dan ternyata kami menemukan bahwa tidak ada yang lebih berharga dari “menjaga (hubungan dengan) Allah baik secara sembunyi maupun terang-terangan”.

Menjaga hubungan dengan Allah, harus dilakukan dengan dua jalan. Pertama, seorang muslim harus menjaga sisi batinnya. Yang hal ini, tentu saja berkaitan dengan masalah keimanan dan ketakwaan serta komunikasi batin dengan Allah yang secara formalnya divisualisasikan dalam ibadah-ibadah ritual. Baik yang wajib maupun yang sunnah. Seperti sholat, puasa, haji dan lainya. Sedang visualisai non-formalnya adalah komunikasi batin dengan Allah yang bebas, di luar ibadah formal itu. Disinilah, setiap amal yang dilakukan sebaiknya diawali dengan membaca basmallah. Dalam hal ini, peran dzikir mengambil bagian yang amat besar untuk menentukan apakah terjadi komunikasi yang kontinyu antara batin seorang muslim dengan Rabbnya setiap saat atau tidak.

Yang kedua, sorang muslim harus menjaga sisi lahirnya. Yaitu menjaga anggota badan beserta aktifitasnya agar tetap berada dalam kebenaran. Karena proses “terpengaruh dan mempengaruhi” (taatsur wa ta’tsir) sangat kuat antara sisi batin seorang manusia dengan sisi lahirnya. Hasil dari proses tersebut dari sisi lahirnya sering diwakili oleh raut wajah dan air mukanya.

Banyak sekali anggota badan yang harus dijaga oleh seorang muslim. Antara lain:

1. Menjaga lisan

Banyak sekali dosa-dosa yang sumbernya dari lisan. Suatu hari Rasulullah memegang lisannya seraya berkata kepada Ibnu Abbas, “Peliharalah olehmu ini!” Maka Ibnu Abbas bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan ditanya tentang apa-apa yang kita ucapkan?”. Maka Rasulullah menjawab, “Lalu apa yang menyebabkan banyak sekali orang ditenggelamkan mukanya ke dalam neraka kalau bukan karena lisan mereka”. (HR Turmudzi no. 2616).

Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang memelihara apa yang ada d iantara kumis dan jenggotnya serta menjaga apa yang ada di antara pahanya maka aku menjamin ba-ginya sorga”. (HR Bukhori no. 6473).

2. Menjaga pendengaran

Seorang muslim yang ingin menjaga hubungannya dengan Allah harus menjaga pendengarannya dari hal-hal yang dilarang. Karena semuanya akan dimintai pertanggungan jawab. Firman Allah, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS Al-Isro’: 36).

3. Menjaga penglihatan

Banyak bencana dan malapetaka yang berawal dan bersumber dari mata. Mata yang lepas kepada yang diharamkan Allah maka ia adalah anak panah iblis.

Seorang salafussholih berkata, “Betapa banyak pandangan yang memerosokkan ke dalam kubangan, betapa banyak mata yang menghantarkan ke neraka, betapa banyak lirikan yang berubah jadi penyesalan di hari pembalasan”.

4. Menjaga perut

Setiap muslim hendaklah menjaga perutnya. Bagaimana agar apa-apa yang masuk ke dalamnya adalah apa-apa yang memang dibolehkan.

Rasulullah Saw bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dan sesungguhnya Ia tidak menerima kecuali yang baik-baik. Dan sesungguhnya Allah menyuruh kepada orang-orang yang beriman dengan apa-apa yang diperintahkan kepada para Rasul-Nya, maka dari itu Ia berfirman, “Wahai para Rasul, makanlah apa-apa yang baik dan beramal shalihlah kalian, sesungguhnya Aku Maha Kengetahui apa yang kalian lakukan”.

5. Menjaga kaki dan tangan

Seorang muslim hendaknya selalu menjaga tangannya agar tidak digunakan untuk hal-hal yang dilarang oleh syari’at Islam. Tidak menghiasi kakinya dengan langkah-langkah yang diharamkan oleh Islam. Karena semua itu nanti di hari kiamat akan menjadi saksi. Firman Allah, ” Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”. (QS An-Nur: 24).

Menjaga sisi lahir sebenarnya juga tidak bisa dilepaskan sebagai bagian dari menjaga hubungan dan komunikasi dengan Allah. Karena ketika seseorang menggunakan anggota badannya, baik dan tidaknya pekerjaan yang dilakukan oleh anggota badan itu juga sangat tergantung besar kepada apakah ketika seseorang tersebut melakukan suatu pekerjaan ia mengingat Allah atau tidak.

Jika seseorang mampu menjaga dirinya dalam rangka menjaga (hubungannya dengan) Allah, maka Allah akan memberikan balasan yang setimpal, yaitu perlindungan Allah atas orang tersebut. Banyak sekali bentuk perlindungan Allah yang diberikan kepada orang-orang tersebut. Di antaranya:

Pertama, dilindungi dari makar musuh. Ketika sudah jengkel dengan apa yang diserukan oleh Nabi Ibrahim, para ummat Nabi Ibrahim sepakat untuk membakar Nabi Ibrahim. Maka dinyalakanlah api yang sudah disiapkan dan Nabi Ibrahim diletakkan di atas manjaniq (alat pelempar). Di saat-saat genting itulah, datang Jibril seraya berkata, “Wahai Ibrahim apakah engkau memerlukan bantuanku?”. Maka Ibrahim menjawab, “Adapun kepadamu maka aku tidak perlu, tapi kalau kepada Allah maka aku sungguh perlu”. (Tafsir Ibnu Katsir 11/294). Maka kata yang diucapkan Nabi Ibrahim adalah, “HasbunAllohu wani’mal wakil”. (HR Bukhori no. 4563). Akhirnya, api itu dijadikan dingin namun tetap nyaman.

Nabi Ibrahim mendapat perlindungan dari Allah karena memang ia selalu menjaga (hubungan dengan) Allah.

Kedua, dilindungi dari penguasa yang kejam. Suatu hari Thowus melihat seorang muslim yang nampak zuhud dan ahli ibadah sedang melakukan thowaf. Pada saat itu juga Hajjaj bin Yusuf sang pembunuh yang terkenal juga sedang berada di situ dan dikawal oleh para pengawalnya yang membawa sejata lengkap. Tiba-tiba baju orang zuhud yang thowaf tersebut menyangkut pada salah satu tombak pengawal tersebut dan tombaknya pun jatuh mengenai Hajjaj bin Yusuf.

Maka dipeganglah orang itu oleh Hajjaj dan dihardik, “Siapa kamu”.

Orang itu menjawab, “Aku seorang muslim”.

“Dari mana kamu?!”.

“Aku dari Yaman”.

“Bagaimana keadaan saudaraku!”.

(Hajjaj bin Yusuf memiliki saudara yang juga sama perangainya dengan dia yang tinggal di Yaman. Namanya Muhammad bin Yusuf).

Maka orang tersebut menjawab, “Aku tinggalkan dia dalam keadaan gemuk dan gendut perutnya”.

Maka Hajaj bin Yusuf marah seraya berkata, “Bukan itu yang aku maksud. Memangnya kamu tidak tahu siapa aku?”.

Orang tersebut lantas bertanya, “Siapa kamu?!”.

Hajjaj menjawab, “Aku inilah Hajjaj bin Yusuf!”.

Maka orang tersebut menjawab, “Apakah kamu mengira bahwa aku akan punya rasa takut dan akan hormat kepada dirimu lebih besar dari pada rasa takutku kepada Allah Tuhanku”.

Thowus berkata, “Melihat peristiwa itu berdiri semua bulu kudukku. Ternyata Hajjaj membiarkan saja orang itu padahal semua orang tahu siapa Hajjaj sang pembunuh itu”.

Allah melindungi orang tersebut karena ia selalu menyambut perlindungan Allah dengan menjaga dirinya dan dengan menjaga hubungan dirinya dengan Allah.

Adalah Abdulloh bin Ali (ia adalah paman dari Abu Ja’far Al-Manshur, sangat bengis dan tidak pernah tersenyum selamanya. Pengawalnya ada sekitar tiga puluh ribu orang) menaklukkan Damaskus. Ia membunuh dalam satu jam tiga puluh ribu enam kaum muslimin. Kemudian ia memasukkan kuda-kudanya dan keledainya di dalam masjid Umawi, lalu duduk di hadapan para menterinya seraya berkata, “Adakan orang disini yang berani menentang apa yang aku lakukan?”.

Para menterinya menjawab, “Tidak ada.”

Lalu ia bertanya lagi, “Adakah orang yang akan menentang perbuatanku”.

Mereka menjawab, “Kalau pun ada ia adalah Al-Auza’i”.

(Al-Auza’i adalah seorang yang zuhud dan salah satu perawi dalam shohih Bukhori).

Maka dihadirkanlah ia.

Maka seketika itu Al-auza’i berucap, “HasbunAllahu wani’mal wakil”. Karena dia tahu bahwa permasalahannya pasti kematian. Al-auza’i bekata, “Maka ketika aku masuk menghadapnya, aku melihatnya seperti seekor lalat. Saat itu, aku tidak ingat siapapun, tidak istri dan anakku, tidak juga hartaku. Tapi, aku ingat singgasana (Arsy) Allah SWT bagaimana kalau nampak di hadapan manusia pada hari kiamat”.

Maka terjadilah dialog yang lama dan panjang di antara keduanya. Namun akhirnya, Al-Auza’i yang sudah diangkat surbanya dengan rotan oleh Abdullah bin Ali, tanda akan dibunuh, akhirnya diselamatkan oleh Allah. Ia dilindungi Allah karena memang telah menyebut perlindungan itu sebelumnya.

Ketiga, dilindungi dan dijaga keturunanannya. Sesungguhnya perpisahan antara Nabi Ya’qub dengan anaknya Nabi Yusuf cukup lama.

Al-Hasan Al-Bashrie berkata, “Sesungguhnya jarak antara berpisahnya Nabi Ya’qub dengan Nabi Yusuf adalah delapan puluh tahun. Selama itu, kesedihan tidak pernah pergi meninggalkan dirinya. Air mata juga tidak pernah berhenti membasahi pipinya”. Maka ternyata Allah melindungi Nabi Yusuf dan mempertemukan kembali antara keduanya. Semua itu tidak lain adalah perlindungan Allah yang diberikan kepada orang-orang yang selalu menjaga hubungannya dengan Allah SWT.

Ketika Kholifah Umar bin Abdul Aziz meninggal dunia, anak-anaknya tidak memiliki harta sama sekali. Maka dipanggillah semua anak-anaknya: tujuh laki-laki dan tujuh perempuan. Dengan air mata yang mengalir ia berkata kepada anak-anaknya, “Sesungguhnya aku tidak meninggalkan untuk kalian kekayaan. Akan tetapi, aku meninggalkan buat kalian Zat Yang Maha Tunggal. Jika kalian memang menjadi orang-orang yang taat, Dia pasti akan melindungi kalian. Tetapi kalau kalian bermaksiat kepada Allah, ketahuilah sesungguhnya aku tidak mungkin akan membantu kalian dalam bermaksiat kepada Allah”.

Tidak lama kemudian kholifah Umar Din Abdul aziz wafat. Dan kebanyakan ulama mengatakan bahwa anak-anak beliau setelah itu menjadi orang-orang yang terkaya di masanya.

Keempat, dilindungi anggota badannya. Adalah Asma’ binti Abu Bakar-seperti dikatakan oleh Urwah bin Zubair-usianya mencapai seratus tahun lebih namun begitu tidak satupun giginya ada yang lepas dan tidak sedikitpun akalnya mengalami kepikunan. (Al-Ishobah VIII/8).

Suatu hari Imam Thobari mendekati kapal yang akan dinaikinya. Ketika telah mendekati pantai maka melompatlah ia ke kapal tersebut. Padahal, usianya waktu itu sekitar tujuh puluh tahun. Beberapa pemuda ada yang ingin melompat juga seperti dia. Tapi, ternyata tidak bisa.

Mereka bertanya kepada Imam Thobari, “Bagaimana engkau kuat melompat padahal usia engkau sudah lanjut sedang kami tidak bisa padahal kami masih muda “.

Maka Imam Thobari menjawab, “Sesungguhnya anggota badanku ini dulu aku rawat dan aku lindungi di hadapan Allah di waktu kecil. Kini di masa tua, Allah pun melindunginya”.

Kelima, ditundukkannya binatang-binatang buas untuknya. Ketika ’Uqbah bin Nafi’ Al-Fihri ditugaskan oleh Mu’awiyah untuk membuka Afrika, ia memasuki sebuah wilayah yang di kemudian hari dibangun menjadi kota Qoi-rowan. Waktu itu, masih berupa hutan belantara yang penuh dengan beruang, ular, serta binatang buas lainnya. Tidak mungkin manusia bisa tinggal di situ. Akhirnya, ’Uqbah mengadu kepada Allah, memohon dan berdoa kepada-Nya. Maka, disaksikannya kemudian binatang-binatang itu semuanya pergi dari sarangnya bersama anak-anak mereka.

Shilah bin Asy-yam adalah salah satu prajurit yang bergabung dengan Qutai-bah bin Muslim panglima-pembuka wilayah Islam yang terkenal. Suatu malam ketika di sebuah jabhah di dekat Kabul, ia meninggalkan prajurit yang lainnya dan pergi ke tengah hutan untuk melaksanakan sholat tahajjud. Ketika sedang sholat, tiba-tiba ada seekor singa datang berjalan mengitarinya. Maka, dengan tenang ia tetap meneruskan sholatnya. Setelah selesai dua rokaat, ia memandang ke arah singa tersebut seraya berkata, “Kalau engkau ke ini memang disuruh Allah untuk membunuhku, lakukanlah. Tapi, kalau engkau memang tidak disuruh membunuhku, pergilah”. Singa itupun berdiri dan pergi meninggalkannya.

Suatu hari Malik bin Dinar tertidur di ladang. Ketika bangun, tiba-tiba ia melihat seekot ular menggigit bunga dan mengibas-ngibaskan bunga itu di muka Malik bin Dinar untuk mengusir nyamuk dan lalat yang hinggap di mukanya ketika tidur itu.

Siapakah dibalik semua itu?. Ia adalah Allah SWT yang memberikan perlindungan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya

Keenam, ditundukkannya benda mati. Diriwatkan oleh Imam Bukhori (no. 2291) bahwa dulu ada seorang yang sholih dari Bani Israil. Suatu ketika, ia perlu pinjam uang kepada saudaranya sebesar seribu dinar. Untuk ke rumah saudaranya itu ia harus menyeberangi lautan. Setelah saudaranya itu berkenan dipinjami maka ia meminta dihadirkan saksi. Maka yang meminjam itu berkata, “Cukuplah Allah sebagai saksi”. Kemudian minta dicarikan penanggung (kafil). Maka yang meminjam itu berkata, “Cukuplah Allah sebagai penanggungnya”. Dan ternyata yang dipinjami itu rela Allah sebagai saksi dan penanggungnya.

Ketika akan membayar hutangnya, orang tersebut tidak mendapatkan kapal. Setelah berkali-kali tidak ada kapal maka ia mengambil sebuah papan lalu ia pahat dan ia masukkan ke dalam papan itu uang sejumlah seribu dinar. Ia masukkan pula bersamanya surat singkat untuk saudaranya itu. Kemudian ia pergi ke laut seraya ber-do’a kepada Allah, “Ya Allah, sesunggnya Engkau mengetahui bahwa aku dulu meminjam uang kepada si fulan seribu dinar lalu ia meminta penanggung, maka aku katakan cukuplah Allah sebagai penanggung dan ia ridha dengan itu, kemudian ia meminta saksi maka aku katakan bahwa cukuplah Allah sebagai saksi, dan ia pun ridha dengan hal itu. Sesungguhnya, Engkau Maha Mengetahui bahwa aku telah berusaha mencari kapal untuk pergi membayarnya. Dan ternyata, selalu tidak ada. Kini, aku menitipkannya uang ini kepada Engkau untuk disampaikan kepadanya”. Lalu dilemparkanlah papan itu ke laut.

Beberapa hari kemudian saudaranya itu menunggu pula barang kali ada kapai yang membawa saudaranya yang akar membayar hutangnya. Tetapi tidak ada kapal yang datang, malah ia menemukan sebuah papan di pinggiran pantai. Maka, diambillah papan itu dengan niat untuk kayu bakar bagi istrinya dirumah. Setelah dibelah, ternyata di dalamnya didapati uang seribu dinar dari saudaranya itu. Sementara kemudian saudaranya itu menyusul setelah ada kapal. Dengan niat membayar utangnya, barangkali memang uang yang dipapan itu tidak sampai. Setelah sampai, dikabarkan bahwa kirimannya dengan papan itu telah diterima”.

Perlindungan Allah haruslah disambut dengan menjaga hubungan dengan Allah. Yang dari sisi batin, akan menjadi sumber kekuatan hati yang utama dan yang paling besar.

Ketika ternyata, hati manusia adalah sesuatu yang paling berharga yang dimilikinya maka daya dukung kekuatan lahiriyyahnya yang juga dihasilkan dari menjaga hubungan dengan Allah dalam bentulk menjaga anggota fisik dan tampilan lahir, akan menhasilkan sesosok manusia muslim yang kokoh batin dan lahirnya dalam makna yang teramat luas dan melampaui sekedar jangkauan otak dan otot manusia.

Sumber: Waqfah Edisi 09/Volume I 1997 hal 34-38

Republished by DPD PKS Sidoarjo