W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Mereka yang Muncul dari Krisis

Oleh Untung Wahono

Krisis adalah bagian dari peradaban manusia, oleh karenanya dia senantiasa datang bagai terbitnya matahari. Krisis adalah hukum kehidupan ketika keseimbangan-keseimbangan yang menjadi syarat keharmonisan lenyap dari suatu sisi kehidupan, yang tersisa kezhaliman.

Krisis pangan telah menghantui Kerajaan Mesir pada zaman Nabi Yusuf as tatkala pemerintahan dipegang oleh menteri-menteri serakah yang tidak bisa memprediksi cadangan makanan negara.

Krisis kebebasan terjadi di Mesir pada zaman Nabi Musa as tatkala Fir’aun mengembangkan pemerintahan kediktaktorannya yang sangat bengis.

Krisis moral melanda masyarakat pada zaman Nabi Luth as karena kaum pria sudah menganggap remeh normalitas hubungan dengan kaum wanita.

Pada saat krisis memuncak dan mengancam eksistensi peradaban manusia untuk selamanya, maka Allah SWT mendatangkan para Nabi-Nya ke tengah-tengah mereka. Para nabi berperan sebagai penyelesai krisis paling utama dan juga peletak dasar perjuangan jangka panjang bagi generasi pelanjut agama yang dibawa mereka.

Tetapi tidak semua krisis harus ditangani para Nabi Allah, karena orang-orang bijak dan orang-orang yang cinta kebenaran dan pemberani sering digerakkan juga oleh Sang Pencipta untuk menangani krisis-krisis yang melanda dunia. Bahkan setelah wafat Nabi Muhammad saw orang-orang inilah yang menjadi penggerak utama perubahan.

Muhammad saw: Krisis Dua Peradaban

Persia dan Romawi adalah dua negara tua yang telah berabad-abad mewarnai kehidupan peradaban dunia. Namun pada abad kelima Masehi, kondisi kedua negara itu tengah menghadapi titik lemahnya. Romawi dililit konflik internal yang sangat menguras potensi negara itu dengan terjadinya perebuatan kekuasaan di antara kelompok-kelompok masyarakat yang ingin berkuasa. Sedangkan kepernimpinan Persia telah begitu lemah karena telah kehilangan dukungan sebagian besar rakyatnya. Namun, di tengah kelemahannya, Persia masih sempat mempergunakan kemelut internal Romawi untuk memukul kekuatan mereka sehingga tentara Persia berhasil menaklukkan daerah-daerah Romawi yag berada di Asia. Yerusalem berhasil dikuasainya dan mereka merampas Salib Suci [The Holy Cross) untuk dibawa ke Ctesiphon, ibu kota Persia.

Krisis Yerusalem berhasil membangkitkan kepernimpinan Romawi karena Heraklius kemudian muncul sebagai pemenang perebutan kekuasaan. Kaisar yang baru ini segera menggerakkan tentaranya ke wilayah Yerusalem untuk membebaskan Kota Suci mereka dari Persia. Gebrakan Heraklius sukses besar bahkan ia sampai mengepung ibu kota Ctesiphon dalam serangan baliknya yang dahsyat.

Rasulullah saw mulai melakukan gerakan perenungan-dengan ilham Allah SWT tentunya-di Gua Hira untuk membangkitkan kembali martabat peradaban di wilayah Makkah dan Jazirah Arab yang menjadi perebutan kekuasaan Romawi dan Persia. Kerajaan Hira di utara telah menjadi antek Romawi dan kerajaan Yaman di selatan telali menjadi satelit Persia. Sementara penduduk Arab yang terjepit di antara dua kekuatan itu tenggelam dalam kejahiliyahan paganisme di bawah bendera Latta, Uzza dan Manna.

Dari gerakan spiritual (tahannuts) inilah, Muhammad Saw kemudian mendapat wahyu Allah Swt untuk melakukan peg uangan besar mengubah peradaban dunia. Perlu waktu 22 tahun untuk mengokohkan perjuangan besar itu.

Jazirah Arabia telah takluk ketika Rasulullah saw memejamkan mata untuk selamanya. Barisan kader-kader kuat telah dipersiapkan untuk melanjutkan perjuangan, mulai dari angkatan pertama (Abu Bakar Shiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra dan Ali bin Abi Thalib ra) sampai dengan angkatan terakhir seperti Usman bin Zaid Ra.

Pada generasi merekalah krisis peradaban Persia berakhir dan digantikan oleh peradaban Islam. Peradaban Romawi terguncang dan semakin meredup dengan jatuhnya wilayah-wilayah jajahan mereka di Syam (Suriah), Asia Kecil dan Afrika Utara.

Shalahuddin: Bangkit di Tengah Krisis

Shalahuddin Al-Ayyubi muncul ke permukaan peradaban tatkala kaum Muslimin di wilayah Mesir (Daulat Fathimiyah) mengalami kemunduran besar. Negara yang selama lebih dari dua setengah abad melepaskan diri dari Kekhalifahan Abbasiyah itu pada taliun 1164 M jatuh ke tangan Raja Almeric dari pasukan Salib. Mesir menjadi wilayah jajahan kekuatan Salib yang berpusat di kota Yerusalem yang baru direbut dari kekuasaan kaum muslimin.

Tiga tahun kemudian pasukan Shalahuddin bergerak dari wilayah kekhalifahan Abbasiyah untuk menaklukkan Mesir. Peperangan dimenangkan pasukannya dan Shalahuddin menjabat Wazir Besar wilayah itu pada tahun 1169 M. Dua tahun setelah ia menjabat, dihapuskanlah kekhalifahan Fathimiyah yang memang sudah tak berdaya itu. Mesir kembali menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Khilafah Abbasiyah. Penggabungan itu disambut dengan suka-cita oleh kaum Muslimin terutama mereka yang berada di Baghdad.

Pada tahun 1175 M, Shalahuddin mengepung kota Yemsalem dengan bantuan pasukan kaum Muslimin dari Baghdad. Raymond II yang menguasai Yemsalem tak mampu melawan pasukan Shalahuddin itu. Ia memohon perjanjian damai yang diantara isinya adalah pemberian izin lalu lintas bagi kaum Muslimin untuk berhubungan di antara Mesir dan Syria melewati Palestina. Perjanjian ini telah membuat gusar orang-orang Eropa karena menandakan ke-emahan pemerintahan Salib di Yerusalem.

Setelah masing-masing pihak melakukan konsolidasi, pada akhirnya pecahlah Perang Salib yang memperebutkan kota Yerusalem pada tahun 1187 M yang menjadi akhir bagi keberadaan tentara Salib di kota itu, setelah mereka menguasainya selama 88 tahun.

Perang melawan Shalahuddin menjadi sebuah era baru kebangkitan peradaban di Eropa karena konsolidasi antara Gereja Ortodoks (Konstantinopel) dan Gereja Katholik (Roma) semakin kuat. Mereka menyatukan tentara negara-negara Eropa untuk merebut kembali Yerusalem dalam gelombang-gelombang angkatan selama hampir dua abad kemudian.

Perang Salib telah memunculkan kepemimpinan baik di kalangan Muslim maupun Nasrani. Hal ini kemudian menjadi pemicu bagi bangkitnya kebudayaan Eropa karena pertemuan tentara Muslim dan tentara Salib temyata tidak sekedar menghasilkan pertumpahan darah, tetapi juga pertemuan dua peradaban. Sebagaimana dikatakan Charles Singer, “Tidak mungkin Renaissance (kebangkitan) terjadi di Eropa tanpa adanya perkenalan orang-orang Eropa terhadap perdaban kaum Muslimin.”

Muhammad Al-Fatih dan Hancurnya Romawi

Serbuan kaum Mongol ke Baghdad telah menamatkan peradaban dinasti Abbasiyah yang selama beberapa dekade menunjukkan kemundurannya. Tahun 1258 M menjadi puncak kesedihan kaum Muslimin ketika menyaksikan kehancuran segenap peninggalan budaya Islam selama lima abad dalam berbagai bentuknya. Hanya invasi Amerika Serikat pada April 2003 yang mampu melebihi kebengisan bangsa Mongol itu.

Tetapi Allah SWT telah mengilhamkan kepada Utsman cucu Ortogol untuk mendirikan sebuah negara di Asia Kecil. Wilayah kekuasaannya itu telah dibentangkan oleh kakeknya. Negara yang didirikan pada tahun 1288 M ini kemudian menjadi sebuah nafas baru peradaban Islam yang bertahan selama lebih enam abad.

Daulah Utsmaniyah memuncak perkembangannya pada masa Muhammad Al-Fatih berkuasa setelah dengan merayap-rayap wilayah negara itu menjadi demikian luas dalam satu setengah abad.

Romawi yang sempat bertalian dalam Perang Salib tak mampu membendung kerentaannya pada abad ke-15 M. Wilayah kekuasaannya digerogoti Daulah Utsmaniyah hingga hanya tersisa kota Konstantinopel saja. Maka Muhammad Al-Fatih tak menunda waktu lagi untuk menuntaskan pekerjaan para leluhurnya, mulai dari perbenturan pertama Rasulullah Saw dengan tentara Romawi di Mu’tah yang menewaskan setengah jumlab pasukan kaum Muslimin. Pada tahun 1453 M, Muhammad Al Fatih yang berusia 21 tahun memimpin armadanya memasuki kota itu dan kemudian mengganti namanya menjadi Islambul (Kota Islam, kini Istanbul).

Jatuhnya Konstantinopel mengubah peta politik dunia karena sejak saat itu orang-orang Eropa mulai mengalihkan perhatiannya ke wilayah-wilayah jauh yang peradabannya masih sederhana. Kekalahan mereka di Eropa Timur dan Asia Kecil telah menginspirasi gerakan penaklukkan ke Asia Tenggara, Asia Selatan, benua Amerika dan lain-lain. Sementara itu, Renaissance yang telah mendorong revolusi industri pada akhirnya menjadi daya topang paling utama bagi imperialisme abad ke 16-20.

Krisis dan Sirkulasi Peradaban

Krisis demi krisis menimpa peradaban di berbagai belahan bumi dan bangsa-bangsa. Dari krisis itu, lahir tokoh-tokoh baru baik yang berfungsi menyelamatkan peradaban yang melemah itu atau menghapuskan peradaban lain yang tidak dapat diselamatkan.

Dengan demikian, sesungguhnya, seluruh peta peradaban dunia mempakan sebuah rangkaian dari siklus peradaban yang muncul dan tenggelam dengan tokoh-tokoh yang mengiringinya.

Tidak ada yang bisa menyelamatkan sebuah generasi yang sudah merasa terlalu mapan. Begitu merasa mapan, masyarakat dalam peradaban itu hanya menghabiskan waktu dengan foya-foya dan bersenang-senang. Mereka akan digilas oleh gelombang perubahan yang tidak pernah peduli telah berapa abad peradaban itu telah berkibar.

Rasulullah Saw datang dan peradaban Persia berakhir, sedang peradaban Rumawi berguncang. Shalahuddin hadir dan Eropa kehilangan kota kebanggaannya yang baru mereka kuasai belum seabad. Muhammad Al-Fatih muncul dan Romawi kehilangan sejarah kehidupannya untuk selamanya. Di sela-sela itu, peradaban Fathimiyah hancur, Bani AbbaSiyah luluh dan kaum Muslimin mulai disergap penjajah imperialis selama lebih dari empat abad!

Tentu saja era imperialisme juga harus berahir di akhir abad ke-19 dan melahirkan pejuang-pejuang kemerdekaan di berbagai negara Muslim. Namun, kini imperialisme modern telah muncul kembali…

Sumber: Suara Hidayatullah no. 01/XVI/Rabiul Awal 1424 H

Dipublikasi ulang Admin DPD PKS Sidoarjo