W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Ortu Juga Perlu Gaul Sama Remaja

Bill Beausay, seorang penulis buku-buku mengenai kehidupan remaja, menceritakan sebuah kisah menarik. Kisah itu bertutur tentang seorang pastor yang letlh melihat bagaimana narkoba merebak luas dl lingkungannya dan menghancurkan kehidupan remaja di daerahnya.

Sang pastor tak tahu lagi harus berbuat apa. Ia lalu memutuskan mengambil sebuah langkah radikal untuk menangani masalah narkoba ini dengan ’berguru’langsung pada si pengedar.

Sang pastor menemui si pengedar narkoba dan menanyakan ’kiat’nya sampai sedemikian sukses mendekati dan mempengaruhi para remaja untuk nge-drugs.

Jawaban si pengedar begitu enteng dan menusuk hati sang pastor. “I’m there, you’re not. When these kids go to school in the morning, I’m there, you’re not. When they come home in the afternoon, i’m there, you’re not. When they go to get a loaf of bread for their Morn in the afternoon, I’m there, you’re not. When they need someone to feet strong and tough and protected around, I’m there, you’re not. I win you lose.” (Saya ada di sana mendampingi mereka, engkau tidak. Saat mereka berangkat sekolah di pagi hari, saya di sana, engkau tidak. Saat mereka pulang sekolah di sore hari, saya di sana, engkau tidak. Saat mereka ke warung membeli roti untuk ibu, saya di sana, engkau tidak. Saat mereka membutuhkan seseorang untuk merasa kuat, berani dan terlindungi, saya di sana, engkau tidak. Saya menang dan kamu kalah)

Di mana kita berada?

Ilustrasi ini memang digunakan Beausay untuk mengingatkan orang tua betapa kebanyakan orang yang paling bertanggungjawaD pada diri anak (dalam contoh ini Bill menngunakan pastor untuk menekankan pula masalah pertanggungjawaban nilai-nilai relijius) ternyata bukan orang yang paling ’dekat’ dengan mereka.

Sebagai orangtua, kita pun dapat merenungi ilustrasi ini saat berhadapan dengan remaja kita. Sudahkah kita menjadi orang terdekat bagi si remaja, menjadi sahabat mereka, pendamping mereka, orang yang selalu ada di saat mereka membutuhkan? Karena bukan tidak mungkin, disadari atau tidak, kesulitan yang kerap muncul dalam hubungan antara orangtua dan remaja diawali dari kurang gaulnya ayah dan ibu dengan si remaja.

Gaul dengan remaja

Meski dari segi fisik dan dimensi berfiklr seorang remaja telah dapat disetarakan dengan orang dewasa, namun secara emosi dan sosial mereka belum setara. Perubahan hormonal pada remaja amat mempengaruhi kehidupan emosional mereka. Tak heran, seperti diungkap psikolog Yati Oetojo Lubis, seorang remaja bisa marah-marah tak karuan lalu sesaat kemudian sudah tertawa terkekeh-kekeh. Secara psikologis dan emosional, mereka memang masih berada dalam tahap peralihan darl kanak-kanak menjadi orang dewasa yang matang. “Namun semua ini butuh proses yang tak mudah dilalui,” ujarYati.

Dengan perubahan pada fisik dan suasana psikologis dlri mereka, terpaan media massa dan masukan dari lingkungan sepermainan, remaja memiliki banyak sekali kejutan dan pertanyaan. Karenanya lanjut Yati pula, peran orangtua pada masa-masa ini menjadi amat penling. Mereka diharapkan dapat menjadi teman dan sahabat remaja. Istilah remajanya ortu pun harus bisa begaul,

“Masalahnya kalau orangtua tertutup, remaja akan serba salah. Mau ngomong, takut diomelin. Tidak ngomong, tapi ingin bertanya. Akhirnya, mereka memillh diam dan memilih bertanya pada teman atau pihak lain. Ini kan runyam masalahnya,” kata Yati lagi. Jadi, siapkah kita, para ortu bergaul dengan remaja?

Sumber: Majalah Ummi No. 6/XII Oktober-Novmber 2000/1421

Dipublikasi ulang Admin DPD PKS Sidoarjo