W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Pelanggaran Bertumpuk

(Surabaya Post, 29/01/09). PT Alim Steel dinilai telah melakukan pelanggaran izin hinder ordonantie (HO) dengan melakukan aktivitas pengecatan tabung elpiji 3 kilogram yang baunya dikeluhkan warga sekitar pabrik yang berada di Desa Medaeng.

Dalam izin yang diajukannya, pabrik sebenarnya ditujukan untuk gudang penyimpanan. Namun kenyataannya justru menjadi pusat kegiatan pengecatan tabung elpiji. Polusi udara yang ditimbulkan pengecatan itulah yang dikeluhkan warga. Bahkan diduga akibat polusi tersebut membuat sejumlah warga jatuh sakit dan bahkan ada yang mengalami muntah darah.

“Ini jelas melanggar izin HO, la wong semula didirikannya bangunan itu ditujukan untuk jadi gudang,” ujar Ali Ahmad Fauzan, salah satu pimpinan dalam hearing yang menghadirkan manajemen PT Alim Steel dan perwakilan warga tiga RT di Desa Medaeng, Rabu (28/1).

Dalam pertemuan tersebut terungkap bahwa izin HO pabrik PT Alim Steel itu yang diperpanjang hingga tahun 2011, hanyalah untuk gudang. “Ini tidak dibenarkan. Kalau memang ada aktivitas lain seperti pengecatan tabung elpiji berarti harus mengajukan izin baru lagi. Warga sekitar ya harus diajak berembuk,” ujar Ali Fauzan.

Bahkan sejak munculnya keluhan warga satu pekan lalu, PT Alim Steel sepertinya tidak mengubris keluhan warga sekitar. Menurut warga sekitar, pabrik tersebut terus melakukan aktivitasnya selama 24 jam.

Terkait dengan keluhan warga yang mengalami muntah darah, manajemen PT Alim Steel yang diwakili Manajer Umum dan Personalia Thomas Santoso dan Kepala Produksi Isbudi tetap bersikukuh dengan sikap mereka semula. Manajemen bersikeras kalau muntah darah warga tersebut tidak diakibatkan oleh aktivitas pengecatan. “Sebelumnya saya mohon maaf, coba warga yang mengalami muntah darah itu diperiksa riwayat penyakitnya,” ujar Thomas dengan beberapa kali mengucapkan kata maaf.

Pimpinan sidang lainnya Helmi Musa mengatakan manajemen PT Alim Steel dinilai tidak serius menanggapi keluhan warga. “Buktinya meski ada persoalan ini, mereka tetap melanjutkan aktivitas. Kalau saya jadi pimpinan Alim Steel tentunya saya akan hentikan dulu aktivitasnya,” ujar pria yang juga menjabat sebagai sekretaris Komisi A ini.

Menurutnya manajemen Alim Steel juga tak serius dalam menjalankan dokumen pengelolaan lingkungan (RPL) yang sudah dibuat sejak tahun 1994.

Sehingga kesalahan Alim Steel bertumpuk-tumpuk Tak hanya polusi udara yang diakibatkan aktivitas pengecatan yang dikeluhkan, bunyi bising aktivitas pabrik dan mesin kendaraan yang keluar masuk juga dikeluhkan warga. “Kami meminta agar PT Alim Steel untuk sementara menghentikan aktivitasnya,” katanya.

Pimpinan utama sidang, Iswahyudi mengatakan pihaknya dalam waktu 1×24 jam akan melakukan koordinasi dengan pihak terkait dengan berlipat-lipatnya pelanggaran pabrik tersebut. “Kami akan berkoordinasi dengan Dinas PU Pengairan, Perizinan dan Satpol PP guna menindaklanjuti persoalan ini,” ujar Iswahyudi. (faz)