W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Pendidikan Motor Perubah

Hancurnya Kegelapan Awal

PendidikanZaman jahiliyah. Di Persia, keturunan raja-raja Kisra memperbudak rakyatnya dan menenggelamkan mereka ke dalam penyembahan kepada api Majusi. Di Romawi, kaisar-kaisar yang memikul legalitas Nasrani merambah wilayah-wilayah sekitarnya, menjadikan negcri-negeri sekitarnya sebagai tanah jajahan dan perbudakan tempat mereka menghisap harta sebanyak-banyaknya. Di padang pasir Arab, Baitullah yang dibangun Nabi Ibrahim as telah dicemari ratusan patung berhala. Sementara ajaran Islam yang dibawanya tenggelam ke dalam tradisi yang merendahkan derajat kemanusiaan: perzinaan, riba, penindasan, dan pembunuhan terhadap bayi-bayi tak berdosa…

Pada saat itulah, Allah SWT menurunkan ayat: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manasia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Pemurah, Yang Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Nabi Muhammad SAW diutus sebagai Rasul Allah, membawa syariat yang akan mengganti tatanan peradaban dunia lama yang rusak, dengan bekal pertama lima ayat yang pekat nilai. Dari sinilah, Rasulullah SAW mulai bekerja. Dari sinilah, Rasulullah mulai membina. Dari sinilah, Rasulullah mulai menancapkan cita-citanya membangun kemanusiaan yang berakhlak mulia.

Hari itu juga, isterinya, Khadijah, beriman. Beberapa bulan kemudian, kerabat-kerabat terdekatnya menyatu. Dua tahun setelah itu, gerakannya berkibar di Makkah, membuat terkejut penduduk kafir yang telah lama hidup dalam kemapanan kebobrokan. Dua belas tahun sejak wahyu itu turun, berangkatlah seluruh kaum muslimin ke Madinah menyongsong tatanan masyarakat baru. Delapan tahun setelah hijrah, Makkah takluk. Dua tahun kemudian, seluruh jazirah Arabia tertaklukkan. Tiga puluh tahun masa kekhalifahan yang empat, wilayah kekuasaan Romawi, Syam dan Mesir, takluk dan dalam saat yang sama suara adzan menggema di seluruh bekas kerajaan Persia yang tunduk tak bersisa. Lima abad setelah itu, tegaklah wiiayah kekuasaan Islam yang membentang dari India sampai perbatasan Perancis, dari Yaman sampai wilayah-wilayah Asia Tengah. Abad ke lima belas masehi ditandai dengan jatuhnya Konstantinopel ke tangan Khilafah Utsmaniyah yang mengubur kerajaan Romawi untuk selama-lamanya…

Cordoba menjadi sebuah kota yang namanya menggema ke mana-mana karena keindahan dan peranannya dalam ilmu pengetahuan. Darul Hikam di Mesir juga melahirkan banyak maestro dalam berbagai bidang pengetahuan. Di Bagdad, di Chaznah, dan berbagai wilayah lainnya, menjulang juga berbagai pusat pendidikan dan peradaban. Kesemuanya ini masih terrekam pada saat Ibnu Khaldun menulis kitab sejarahnya yang termashur, Kitaab al Ibar wa Diiwaan al Mubtada wal Khabar, fii ayyamil Arab wal Ajam wal Barbar, wa man ’Aaa sharahum min Dzawish shulthan al Akbar (Kitab Pelajaran dan Arsip Sejarah Zaman Permulaan dan Zaman Akhir, Mencakup Peristiwa Politik mengenai Orang-Orang Arab, Non Arab dan Bangsa Barbar, serta Raja-Raja Besar yang Semasa dengan Mereka).

Beliau menulis dalam muqaddimah-nya: “Baghdad, Qordoba, al-Qayrawan, al-Basrah, dan Kuffah semasa munculnya Islam, peradaban dan kebudayaannya tinggi. Perhatikanlah bagaimana lautan ilmu pengetahuan begitu melimpah di sana, bagaimana sebagian penduduknya tampil sebagai ahli-ahli di dalam istilah-istilah pengajaran ilmu dan dalam semua disiplin ilmu, bagaimana berbagai persoalan ilmiah disarikan dan bermacam disiplin ilmu disimpulkan, sehingga mereka melampaui kepandaian para sarjana terdahulu dan kemudian…

Pendidikan

Islam adalah agama yang integral, termasuk, Islam adalah agama pendidikan. Doktrin ini sangat jelas tergambar dalam al- Qur’an, bahwa:

Pertama, Islam mengecam dan mencela kebodohan dan orang-orang bodoh. “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raaf: 199).

Nabi Muhammad SAW diperintahkan Allah SWT untuk mengabaikan dan berpaling dari orang-orang yang bodoh. Ini suatu kecaman terhadap orang-orang bodoh yang tidak mau memperbaiki dirinya.

Allah berfirman, “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya perbuatannya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekatnya). Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Huud: 46).

Kedua, Islam menyanjung dan meninggikan orang-orang yang berilmu. Orang yang berilmu dalam ajaran Islam memiliki posisi yang mulia karena merekalah orang yang dapat mengarahkan manusia lainnya ke jalan yang benar dan jalan yang tinggi peradabannya.

…Katakanlah, “Adakah sama orang buta dengan orang yang melihat, atau samakah gelap gulita dengan terang benderang. Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka…?” (QS. Ar-Ra’ad: 16).

Orang yang melihat diartikan oleh Muhammad Hasan al-Hamisy sebagai orang yang berilmu. “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, “Berlapang-lapanglah dalam majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujaadilah: 13).

Ketiga, Islam menganjurkan ummatnya agar mencari ilmu. “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43).

Ayatini jelas memberikan suatu dorongan kepada kaum muslimin untuk segera memenuhi kekurangannya dalam ilmu, sehingga mereka tidak tersesat di jalan.

Keempat, Islam menganjurkan ummatnya agar berfikir dan menggali potensi akalnya. “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta itu ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46)

Islam bermula dari pendidikan dan puncak keberhasilannya juga berupa berkembangnya pendidikan. Perhatikanlah wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT. Di dalamnya bertebaran istilah yang merupakan unsur esensial bagi pendidikan: iqra (baca), Rabb, insaan(manusia), ’allama (pengajaran), dan qalam(pena). Sistem pendidikan manapun di dunia ini tidak pernah terlepas dari unsur yang empat: (1) iqra, aktivitas kajian atas berbagai fenomena yang tertulis dalam buku-buku maupun lembaran alam, (2) insaan, subyek dan obyek dalam pendidikan, (3) ’allama, proses transfer ilmu pengetahuan dari sumber ilmu ke penerima ilmu dan (4) qalam, media pengajaran yang memberikan kemudahan bagi manusia untuk mengetahui sesuatu dalam bahasa-bahasa yang disepakati. Namun, dalam sistem pendidikan Islam unsur yang satu ini menjadi paling esensial: Rabb. Rabb-lah sumber bagi segala sesuatu dalam aspek pendidikan, sehingga pendidikan yang dilahirkan oleh ajaran Islam adalah Pendidikan yang mengacu kepada kebenaran Allah, Rabb semesta alam (Tarbiyah Rabbaniyah).

Tema sentral pendidikan Islam adalah Laailaha illallah (Tiada ilah kecuali Allah). Inilah nilai dasar yang terus-menerus disosialisasikan Rasulullah saw dengan berbagai aspek yang menunjangnya. Dan tema ini pula yang seharusnya melandasai setiap proses pendidikan di dunia kaum muslimin hingga detik ini. Dari sini, Rasulullah SAW menggembleng seluruh aspek kepribadian muslim sehingga terbentuk manusia yang tangguh. Muhammad Qutb menyatakan: “Bentuk sistem pendidikan Islam yang paling utama adalah ibadah. Tetapi ibadah dalam sistem ini perlu dijelaskan. Ibadah tidaklah terbatas hanya pada amal ibadatyang sudah dikenal seperti shalat, puasa, dan zakat, tetapi lebih luas pengertiannya daripada itu. Ibadah adalah kebaktian yang hanya ditujukan kepada Allah, mengambil petunjuk hanya dari-Nya saja tentang segala persoalan dunia dan akhirat dan kemudian mengadakan hubungan yang terus-menerus dengan Allah tentang semuanya itu. Hubungan dengan Allah itu sesungguhnya merupakan suatu metodologi itu sendiri secara keseluruhan. Dari hubungan itulah, muncul segala persoalan dan kepada hubungan itu akhirnya semua persoalan dikembalikan.”

Taqwa dan Ilmu: Modal Perubahan

Pendidikan Islam yang ditanamkan Rasulullah SAW kepada para sahabatnya ditujukan bagi terjadinya proses perubahan di muka bumi ini, sebagaimana yang dikemukakan Rasulullah SAW: “Aku diperintahkan memerangi manusia sehingga mereka mengaku tidak ada tuhan selain Allah, percaya kepadaku dan dengan agama yang kubawa. Apabila mereka telah berlaku demikian, darah dan harta mereka harus dilindungi, kecuali apabila mereka melanggar hukum, sedangkan perhitungan mereka terserah kepada Allah.” (HR. Muslim)

Rasulullah SAW dibangkitkan untuk kemuliaan akhlak manusia. Sedangkan akhlak sangat tergantung pada akidah seseorang atau suatu bangsa. Karena itulah, beliau sangat menekankan penggemblengan pada bagian ini pada proses pembinnan di Makkah dan Madinah. Di atas pembinaan ini, digaraplah sisi-sisi lain: tulis-menulis, persenjataan, bahasa dan lain-lainnya. Pijakan yang kuat pada akidah membuat Rasulullah saw dan kaum muslimin merasa yakin akan memenangkan perubahan yang dicanangkan.

Saat itu, Romawi memang telah melahirkan ilmuwan-ilmuwan spektakuler yang tetap dikenang pada zaman itu dan kemudiannya: Galen dalam kedokteran, Archimedes dalam ilmu alam, Phytagoras dalam matematika, Aristoteles dalam logika dan Ptolomeus dalam astronomi. Bahkan Plato telah merumuskan sebuah kerangka teori tentang negara dalam karyanya Republika. Persia juga memiliki pusat ilmu pengetahuan di Yundishapur. Sementara, Cina telah beratus-ratus tahun mengarsipkan dokumen-dokumen sejarah peradaban leluhur mereka.

Tetapi Rasulullah SAW dan para sahabat tak gentar. Mereka terus melangkah. Allah berfirman: “Dan bertakwalahh kepada Allah, Allah mengajarmu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 282).

Dengan taqwa mereka bekerja, dan pekerjaan melahirkan berbagai inspirasi. Dari inspirasi tersusunlah ilmu-ilmu. Maka sejarah mencatat gagasan dan kerja spektakuler mereka. Salman al-Farisi memperkenalkan metoda perang parit ketika Perang al-Ahzab berkecamuk. Umar bin Khattab yang hidup di tanah gersang jazirah Arabia, tiba-tiba namanya diabadikan dalam sebuah sistem irigasi di Mesir lantaran gagasannya membangun kembali kanal yang menghubungkan Sungai Nil dengan Laut Merah: Kanal Amirul Mukminin. Beliau juga berhasil merancang sebuah sistem pemerintahan berdasarkan pengamatan atas tata negara Persia yang ditaklukkannya. Muawiyah berhasil membangun angkatan laut pertama dalam dunia Islam yang akhirnya mampu mengontrol Laut Tengah.

Karya-karya ilmuwan Romawi yang menjadi kebanggaan bangsa Eropa akhirnya mengalir tak tertahan ke tangan kaum muslimin. Khalifah-Khalifah Bani Abbasiyah bahkan terbiasa menukar tawanan atau pampasan perang dengan manuskrip-manuskrip kuno mereka. Berkembanglah ilmu pengetahuan “umum” yang sangat tercatat dalam sejarah peradaban dunia, karena hingga kini mereka masih mengecap hasil-hasilnya.

Ibn Sina mewariskan khazanah kedokteran; Al-Khawarizmi mewariskan matematika; Ibn Haytam mewariskan fisika optik; Ibn Hazm mewariskan hukum dan fisafat; Al-Biruni mewariskan astronomi dan geografi; Ibn Khaldun mewariskan historiografi. Sementara kodifikasi syariat Islam menjadi beberapa disiplin ilmu dilahirkan pula dalam kurun ini. Pada masa inilah, hidup para imam mazhab dan penulis hadits yang termashur.

Sejarah peradaban Islam memperlihatkan sebuah siklus pendidikan yang unik. Pendidikan akidah menumbuhkan semangat perubahan (jihad). Jihad melahirkan ilmu-ilmu operasional seperti ilmu perang, ketentaraan, penataan negara dan historiografi. Kemantapan kekuasaan Islam juga akhirnya melahirkan ilmu-ilmu yang lebih bersifat empiris dan eksperimental. Maka siklus inipun akan berjalan terbalik. Apabila pendidikan akidah payah, ummat akan menjadi jumud. Ilmu-ilmu yang ada tidak berfungsi dan berkembang dan bahkan akhirnya mati, hanya sekadar perhiasan sejarah. Dan akhirnya ummat akan dilibas peradaban lain yang sudah tentu tidak berorientasi kepada wahyu ilahi.

Pendidikan Masa Kini dan Perubahan

Sistem pendidikan, di manapun, mempunyai kerangka dan elemen yang hampir sama. Satu-satunya unsur pembeda yang begitu mempengaruhi karakteristik suatu sistem pendidikan adaiah orientasi nilai yang melandasinya. Setiap sistem pendidikan pasti mengemban misi ideologis dari nilai-nilai yang hendak ditanamkan kepada suatu kelompok masyarakat. Hal ini dapat dikentarai lewat kurikulum yang disusun bagi lembaga-lem-baga pendidikanyang ada di suatu tempat. Mata kuliah sains sosial dan sains kemanusiaan dalam jurusan-jurusan umum, adaiah sebuah bukti adanya misi ideologis dalam dunia pendidikan.

Waqqar dalam bukunya Islamic Environmental Systems Engineering mengutip perkembangan bobot mata kuliah sains sosial dan sains kemanusiaan di Amerika Serikat. Pada tahun 1870, bobotnya 29,1 % dan terus menurun sampai tahun 1949 (14,5 %). Namun meningkat lagi sampai 18,3 % pada tahun 1961 dan 17 % pada tahun 1973. Sementara itu, University Stanford, Institut Teknologi California dan Institut Teknologi Carnegie memberi porsi bagi sains sosial dan kemanusiaan sebanyak 25 %.
Negara-negara komunis menanamkan ideoldgi Marxisme-Leninisme kepada insinyur mereka dengan pandangan saintitic materialis dialektikal. Mata kuliah-mata kuliah sains sosial dan kemasyarakatan berikut ini diajarkan di sekolah-sekolah tinggi teknik Sovyet (sebelum bubar): Sejarah Partai Komunis Uni Sovyet (100 jam) dan Etika Marxis (24-32 jam) pada semester pertama, Falsafah Marxis-Leninist(70jam) dan Astetik Marxis-Leninis (24-32 jam) pada semester kedua, Asas-Asas Atheisme Saintifik (24-32 jam) dan Politik Ekonomi Marxis-Leninis (110 jam) pada tahun ketiga serta Dasar-dasar komunisme Saintifik (70 jam) pada tahun keempat.

Asas-Asas Atheisme Saintifik menekankan suatu doktrin “atheisasi ilmu” di mana di dalam konsep tersebut ditegaskan: “… mata kuliah umum yang lain seperti fisika, matematika dan kimia juga diajarkan di sekolah-sekolah tinggi teknik dari sudut atheistik. Dalam masa pengajaran dan pelajaran praktikum, guru menyisihkan waktu khusus untuk mengajar aspek atheistik.

Bagaimanakah sistem pendidikan di dunia Islam setelah negara-negera muslim merdeka dari penjajahan Barat? Ternyata tak lagi mencerminkan sistem pendidikan yang pernah berlaku di daulah-daulah Islam masa lalu. Kebanyakan mereka mengadopsi sistem pendidikan dari barat, baik yang liberal kapitalis maupun sosial komunis. Dengan demikian sistem pendidikan mereka, ditinjau dari kacamata Islam, kehilangan ruhnya, lantaran tidak berpijak pada akidah. Kebijakan kurikulum berbagai negara muslim tidaklah setegar kebijakan kurikulum negara-negara non muslim dalam memperjuangan dan memasukkan nilai-nilai ideologinya. Di sekolah-sekolah tinggi umum, semacam teknik, pendidikan keislaman bahkan hanya mendapat porsi 2 satuan kredit semester (SKS) dari 150-an SKS atau 32 jam selama 4 tahun perkuliahan atau hanya 1,3 % saja. Inipun dengan sebuah catatan bahwa tidak ada suatu keharusan bahwa seorang guru muslim menerangkan pandangan keislaman pada mata kuliah atau praktikum pelajaran-pelajaran di luar pendidikan agama Islam. Malah seringkali guru yang akan mencoba mene-rapkan hal itu mendapat rintangan, cemoohan dan pendiskreditan.

Suasana pendidikan yang seperti ini jelas memberikan sumbangan yang amat kecil bagi pembentukan akidah serta fikrah (ideologi) islamiyah, jika tidak dikatakan tidak ada pengaruhnya sama sekali. Tidak jarang pola pemikiran filosofis yang dibawakan guru-guru sains kealaman justru meresidu (mengikis) akidah para pelajar. Pasalnya, bekas-bekas pertarungan ilmuwan dan agamawan di Eropa pada abad-abad Renaissance, sering terbawa hingga kini. Sebuah pembahasan fisika misalnya menyerang konsep metafisika yang didoktrinkan agama. Pembahasan astronomi terkadang “nyelonong” ke masalah kekekalan alam. Dan seterusnya.

Perubahan apakah yang diharapkan datang dari dunia pendidikan di negara-negara muslim jika landasan hidup mereka saja tumbuh dalam kegelapan dan kesamaran? Dunia pendidikan yang berpijak kepada “sekularisme (pemilahan agama dan “keduniaan”)” justru akan melahirkan serangkaian problema ke tubuh ummat Islam. Dalam bidang moral, dunia pendidikan tidak memberikan landasan yang kuat tentang nilai baik dan buruk, salah dan benar, berdasarkan ajaran Islam. Mereka terombang-ambing dalam kenisbian sistem nilai, yang berakibat hilangnya komitmen kepada kebenaran Islam. Tumbuhlah sikap individual, pragmatis, dan utilitarianis. Kerakusan, kecurangan, dan ketamakan membayangi penampilan intelektualitas dan akademisitas mereka. Legalisasi ilmiah terhadap penyelewengan akhirnya melahirkan kebocoran-kebocoran biaya “pembangunan” yang sulit dibuktikan. Dalam bidang pemikiran, pendidikan melahirkan jiwa apriori dan skeptis terhadap nilai-nilai ajaran Islam. Dalam kondisi seperti ini sikap yang tumbuh hanya dua: agnostik (acuh terhadap agama) atau mis-otokritik. Mereka menyerang Islam bukan kepada para pemeluknya namun kepada ajarannya. Penyerangan ini kadang-kadang dibungkus dengan istilah pembaharuan. Mereka sangsi terhadap ajaran kedaulatan Islam, hudud (hukum pidana Islam), hukum waris, sampai ke masalah ajaran berpakaian.

Harapan

Jika sebahagian besar ummat yang sadar pada saat ini-berdasarkan gejala yang tampak akhir-akhir ini-sangat berharap pada dunia pendidikan untuk melaksanakan peran perubahan bagi masyarakat Islam, hal itu tak sepenuhnya disalahkan. Dunia pendidikan dengan serangkaian sistem dan kurikulumnya memang kini dalam keadaaan bermuram durja lantaran belum bisa melepaskan diri dari belenggu sekularisme. Namun, alhamdulillah, bagi Islam, pendidikan itu universal. Pendidikan tidak terikat pada bangku-bangku kuliah atau lembaran-lembaran ijazah yang dilegalisasikan penguasa setempat. Pendidikan dalam Islam berlaku dimana saja, kapan saja dan bagi siapa saja.

Seiring dengan kemajuan dalam dakwah Islam (inilah pendidikan universal dalam Islam) maka merebaklah kajian-kajian keisiaman di berbagai lembaga dan kampus. Para pelajar, mahasiswa, dosen, guru besar satu persatu menolehkan pandangannya kepada nilai-nilai yang tak mereka jumpai di dalam lingkup aktivitas rutin mereka. Mereka membentuk grup-grup pengkajian keisiaman, seminar-seminar, kajian sejarah, tukar menukar utusan, dan lain-lainnya demi pendalaman keisiaman diri dan orang-orang di sekitar mereka. Dari sinilah, akidah yang sesungguhnya merupakan landasan utama pendidikan dibangun, dari arah yang berbeda dengan datangnya sistem dan kurikulum pendidikan yang formal. Wajarlah jika gejala ini terkadang harus diwarnai dengan perbenturan-perbenturan yang seru. Arus islamisasi muncul di kampus-kampus di Malaysia, Mesir, Afghanistan (semasih rezim komunis), Yordania, Palestina, dan negara-negara muslim lainnya, termasuk Indonesia. Bahkan di Palestina, peranan kampus dalam perubahan perjuangan sangat dirasakan. Ketika Israel mengadakan pembersihan terhadap HAMAS, setengah dari dosen-dosen yang mengajar di Universitas di Gaza harus dideportasi.

Pendidikan Islam yang utuh memang belum lahir dalam berbagai sistem pendidikan formal di berbagai wilayah muslim. Namun arus gerakan dakwah sedikit demi sedikit merapatkan sisi-sisi yang terpisah itu. Siklus pendidikan agaknya akan berulang kembali. Dari masyarakat ke kampus, dari kampus ke jantung kampus dan dari jantung kampus ke masyarakat kembali. Insya Allah.

Sumber: Ishlah No. 1 / Tahun II. Pebruari 1994

Dipublikasi ulang oleh Admin DPD PKS Sidoarjo