W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Pengalaman Hidup Berat Melahirkan Manusia Besar

Rasulullah pernah bersabda, “Allah telah mendidikku dan Dia mendidikku dengan sebaik-baiknya pendidikan.” Mari kita mengurut umur hidup Rasulullah saw. Kita akan menghitung kumulasi pengalaman hidup beliau.

Sejak kecil sampai umur empat tahun, Rasulullah hidup di desa. Umur empat sampai enam tahun, beliau bersama ibunya. Umur enam sampai delapan tahun, beliau bersama kakeknya, Abdul Muthalib, karena sang ibu meninggal dunia. Umur delapan sampai 12 tahun, beliau bekerja sebagai penggembala kambing. Jadi beliau sudah mencari nafkah ketika umurnya masih delapan tahun. Dan beliau pernah bersabda., “Tidak ada nabi yang pernah diutus kecuali mereka pernah menggembala kambing.”

Umur 12 sampai 15 tahun, beliau sudah merintis karier dagangnya, dan beliau sudah keluar negeri di usia itu. 15 sampai 19 tahun beliau terlibat dalam peperangan, Perang Fijar. 20 sampai 25, beliau menjadi pengusaha dengan investornya bernama Khadijah. Dan di usia itu, beliau membukukan sebuah sukses dagang yang sangat besar.

Betapa padatnya pengalaman Rasulullah sampai pada usia 25 tahun pertama dalam hidupnya. Seluruh pengalaman yang dibutuhkan oleh orang besar, sudah dialami dan dimiliki Rasululllah pada usia 25 tahun pertama dalam hidupnya.

Waktu beliau bersama kakeknya, Abdul Muthalib, Muhammad kecil selalu diajak turut bersama ke mana pun kakeknya pergi. Beliau selalu turu dalam pertemuan-pertemuan penting yang dilakukan para pemimpin Quraisy. Muhammad sudah hadir di usianya yang sangat muda dalam rapat-rapat penting petinggi Quraisy. Dan ini, sebenarnya adalah aib dalam masyarakat Arab waktu itu. Karena itu, abdul Muthalib selalu diprotes karena mengajak Muhammad kecil. Tapi, Abdul Muthalib selalu berkata, “Anak ini bakal punya urusan besar di kemudian hari. Maka jangan larang ia untuk hadir di sini hari ini.”

Dan ketika Rasulullah bekerja sebagai penggem-bala kambing, tempaan yang diberikan sudah mulai riil. Dari tempaan politik, sekarang tempaan managerial. Tapi juga ini, berarti Rasulullah telah menjalani dua kehidupan yang sangat jauh berbeda, antara kehidupan elit bersama para pemimpin Quraisy dan kehidupan rakyat jelata, sebagai penggembala. Dia berada di dua alam tersebut dan mengerti betul tentang budaya keduanya. Semua beban dan tanggung jawab itu mulai dipikul ketika berumur delapan tahun. Sedangkan, apa yang dilakukan anak kita saat berusia delapan tahun?

Dari umur 12 sampai 15 tahun, beliau sudah memiliki pengalaman perjalanan keluar negeri. Ini sangat penting. Karena perjalanan jauh itu memberikan pelajaran yang banyak tentang alam, tentang manusia-manusia baru, tentang karakter dan budaya lokal dan tentang berbagai macam hal. Umur berapa kita keluar negeri pertama kali?

Salah satu manfaat yang diberikan dalam perjalanan jauh adalah memperluas imajinasi. Ada seorang teman yang dulu pernah tinggal di Amerika. Suatu hari ia merencanakan perjalanan dengan mengajak istri dan anak-anaknya mengelilingi Amerika Latin. Total waktu perjalanan yang dibutuhkannya kurang lebih 10 hari. Tapi waktu itu sudah menjelang waktu ujian, dan dia khawatir tidak mendapatkan izin dari pihak sekolah. Tapi ketika dia meminta izin, ternyata diberi izin oleh guru-gurunya dan pihak sekolah. Menurut mereka, perjalanan ini lebih penting dari ujian-ujian yang ada. Bahkan kalau dia tidak ikut ujian, pengalaman 10 hari itu akan lebih penting dari hasil ujian yang akan dilakukan. Perjalanan ke manapun, adalah sumber ihnu pengetahuan.

Khalid bin Walid pernah berkata tentang rahasia kemenangannya dalam Perang Yarmuk. Kenapa ia bisa menang begitu gemilang? Menurutnya, waktu kecil ia sering melakukan perjalanan dan melewati wilayah Yarmuk. Dan waktu itu, setiap kali ia melewati tempat ini, ia membayangkan sedang memimpin pasukan perang. Dan waktu itu ia sudah berimajinasi mengatur posisi ini dan posisi itu. Dia akan mengepung musuh dari sebelah sana dan menyerbu dari sebelah sini. Dan waktu itu, menurut Khalid bin Walid, begitu menyenangkan berimajinasi.

Ia sama sekali tak menyangka hertahun-tahun kemudian imajinasi tersebut sangat membantu perang yang ia pimpin di bawah panji Islam. Imajinasi yang dulu dibayangkan Khalid bin Walid di saat kecil, hadir persis, sama tak berubah. Karenanya, dengan jumlah pasukan yang sedikit, 27 ribu orang, ia bisa mengalahkan pasukan Romawi yang berjumlah lebih dari 240 ribu pasukan.

Dan yang perlu digarisbawahi dalam peristiwa Perang Yarmuk ini, Khalid bin Walid tidak hadir dan memimpin langsung peperangan. Ia sedang berada di Irak.

Sebelum peperangan, pasukan muslim dan Romawi hanya saling tatap-tatapan tanpa ada yang berani memulai peperangan. Yang satu grogi karena kalah jumlah. Yang satu lagi takut karena reputasi pasukan muslim. Lalu Abu Bakar, sang khalifah, menyelidiki kenapa peperangan terjadi begini rupa. Teliti punya teliti, semua terjadi karena faktor panglima perang yang ragu-ragu mengambil keputusan. Salah memilih komandan. Khalid bin Walid sendiri sedang memimpin pasukan di wilayah Irak.

Lalu, setelah merestrukturisasi dan mengatur strategi selama kurang lebih sebulan, Khalid tampil untuk berpidato selama beberapa menit. “Wahai para pejuang Allah, ini adalah satu hari dari hari-hari yang dimiliki Allah. Maka ikhlaskanlah jihad kalian hanya pada Allah SWT.” Terakhir, Khalid bin Walid berkata, “Daripada kalian sibuk menghitung jumlah musuh, maka lebih baik kalian sibuk menyembelih leher mereka.” Lalu mereka turun menyerang musuh, dan meraih takdir kemenangan. Dan semua itu sumbangan imajinasi yang dihasilkan dari perjalanan jauh.

Pengalaman keras yang diterima Rasulullah membentuk karakter beliau dengan sempurna di alam nyata. Dagang, politik dan militer adalah pengalaman-pengalaman paling berat dalam hidup manusia. Semuanya harus dilakukan dengan perhitungan rasional yang sangat tinggi.

Di masa sebelum kenabian, ada orang-orang yang disebut sebagai orang-orang hanif. Mereka adalah orang-orang yang tak bisa menerima cara hidup jahiliah, tapi juga tidak mendapat petunjuk untuk hidup yang benar. Dan salah satu di antaranya adalah Waraqah bin Naufal, paman Khadijah. Waraqah bin Naufal ini pembaca taurat, dan kelak ketika Rasulullah mendapatkan wahyu, Waraqah berkata kepada Khadijah bahwa apa yang didapati suaminya di gua Hira itu adalah wahyu sepcrti yang pernah turun kepada Musa.

“Seandainya aku berumur panjang, aku pasti menolongmu saat kamu diusir oleh kaummu,” begitu ujar Waraqah pada Rasulullah.

Umur 25 sampai 35 tahun, Rasulullah menjalani kehidupan yang normal dalam pernikahannya bersama Khadijah. Dan pada umur 35 tahun, Rasulullah diangkat oleh masyarakatnya sebagai Al-Amin. Selama 10 tahun itu, Rasulullah membangun kehidupan sosialnya dan kemudian memosisikan diri sebagai bintang di dalam masyarakat Quraisy.

Pemberian gelar Al-Amin pada Rasulullah ini adalah sebuah pengondisian agar nanti ketika amanah kenabian itu datang dan risalah harus disampaikan, maka masyarakat tidak ada alasan menolak wahyu ini karena alasan kepribadian Muhammad.

Dalam dakwah Islam, nilai-nilai luhur agama ini sering ditolak oleh sasaran dakwah bukan karena mereka tidak percaya dan tidak mengakui nilai-nilai itu, tapi lebih karena menolak para pembawa beritanya. Mereka menolak kita, bukan menolak ajaran yang kita bawa. Salah satu alasannya, karena cacat kepribadian yang dimiliki oleh pada dainya.

Kredibilitas itulah yang dibangun oleh Rasulullah dengan Al-Amin. Jadi ketika kaum Quraisy menolak, mereka bukan menolak Muhammad, tapi karena menolak dakwan yang dibawa oleh nabi.

Inilah yang disebut Allah dalam salah satu firman-Nya, “Orang-orang kafir itu tidak mendustakan kamu wahai Muhammad, tapi orang-orang zalim itu memang membangkang terhadap ayat-ayat Allah.”

Orang-orang Quraisy itu memiliki sifat yang sangat unik. Mereka kafir, mereka musyrik dan tidak mengakui risalah yang dibawa Rasulullah. Tapi jika mereka memerlukan orang untuk dipercaya, untuk dititipi barang, maka mereka memilih Rasulullah. Karena itu, salah satu kesibukan Rasulullah sebelum berhijrah adalah mengembalikan satu per satu barang-barang milik mereka.

Pada usia 37 tahun sampai 40 tahun, beliau diberi kegemaran Allah untuk berkhalwat. Dan pada usia itu beliau menjadi nabi. Kumulasi pengalaman hidup sampai umur beliau 40 tahun, semuanya adalah pengalaman yang luar biasa untuk menyiapkan diri beliau mengemban amanah besar bernama kenabian. Sempurna pengalamannya.

Bagaimana dengan kita? 25 tahun pertama umur kita habis di sekolah. Ironisnya, kita mempelajari ilmu-ilmu yang tak banyak berguna untuk hidup kita. Betapa rendah pencapaian-pencapaian pengalaman yang kita miliki jika dibanding dengan perjalanan Rasulullah. Sampai kita menjadi sarjana, kita tidak menjadi ahli apa-apa.

Yang lulus dari jurusan manajemen, faktanya bukan seorang manajer yang bagus. Doktor ekonomi banyak yang hidup dalam kemiskinan. Kita memiliki masalah dengan proses pembelajaran. Speed-nya rendah, substansinya payah. Inilah yang kita alami sekarang. Karena itu hidup kita kurang bermutu sebab kita mempelajari pelajaran-pelajaran yang tidak berkorelasi langsung dengan hidup kita.

Mutu hidup kita secara keseluruhan ditentukan oleh ilmu pengetahuan yang kita dapatkan. Dan sering kali ilmu pengetahuan yang berguna dalam hidup kita, sifatnya zig-zag, tidak lineari. Karena itu, bersiap-siaplah dengan pengalaman-pengalaman hidup yang mengejutkan.

Sumber: Anis Matta, “Demi Hidup Lebih Baik,” Cakrawala Publishing, Jakarta, 2007.