W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Perubahan Yang Bergegas

Oleh KH. Rahmat Abdullah

Amerika ataupun Sovyet sama sekali tak pernah membayangkan betapa negeri ’adidaya’ itu akan bubar semudah penonton topeng monyet atau gerombolan katak yang ditumpukkan di atas baki.

Kalau ada hal perubahan yang mudah menyentak perhatian kita, mungkin itu perubahan bendawi. Dan, ini berarti kekayaan.

Dunia kerap berdecak kagum oleh kemajuan teknologi. Efisiensi, pragmatisasi dan ekonomisasi segala gerakterjadi dengan cepat dan mencengangkan. Setelah berabad-abad merambat, akhirnya manusia berubah dengan cepat. Itu mengagumkan-lepas dari dampak negatif yang selalu dajang menyusul puluhan tahun kemudian-sesuai dengan karakter ilmu yang selalu mempunyai daya koreksi, walaupun kadang terlambat.

Seharusnya, ia mampu melihat ke depan dan menyelesaikan kekurangannya sendiri, tidak hanya secara kumpul pengalaman, tetapi teropong jauh ke depan; analitik, sistematik dan proyektif.

Mencegat Ketertinggalan

Kebudayaan materialistik telah membuat para pakar berdecak kagum, seraya melupa-lupakan bayang-bayang darah, kerangka, dan tengkorak begitu banyak rakyat yang dikorban-kan demi ’mercusuar’ peradaban. Sebutlah tujuh keajaiban dunia, dari Piramida, Tembok Besar China sampai Borobudur. Semua adalah produk peradaban besar yang harus diakui oleh mereka yang bersedia menjustifikasi semua kedzaliman atas nama keharuman kolektif dan kebanggaan bangsa.

Berapa lama waktu yang ditunggu untuk terjadinya perubahan teknologi, modemisasi dan peradaban kebendaan di dunia Islam?

Semoga bukan karena apatisme, jika Sayyid Quthb mengesankan pesimisme tersebut dengan angka: tiga abad. Itupun jika bangsa-bangsa yang telah jauh melaju tiba-tiba menghentikan lari mereka. Lalu dakwah macam apa yang dapat kita berikan kepada bangsa-bangsa yang hanya mau mendengar dari mereka yang survive dan unggul dalam segala bidang kehidupan material?

Kita yang dalam bidang pemikiran dan keruhanian pun belum cukup punya alasan untuk memimpin. Ada yang sangat bingung dengan tantangan ini, lalu menawarkan solusi untuk membongkar-pasang habis-habisan manhaj yang sangat terpelihara ini. Mereka bagaikan penumpang kendaraan sempurna, yang karena tak tahan oleh bantingan-bantingan di atas jalan yang penuh kubangan, dengan ’pintar, kultural dan liberal’ menawarkan solusi: ’Mesinnya harus kita bongkar’. Atau lebih mengharukan lagi komentar seseorang mereka: ’Ini pasti karena kerusakan kaca spion’.

Persoalan sekarang terkait dengan mentalitas ’Apa kita mampu ?’Atau ’Apa mereka maupercaya?’

Perlukan sebuah keberanian dan keyakinan diri untuk memilih Islam sebagai solusi. Namun bagaimana cara meyakinkan si sakit untuk mau berobat dan meyakinkan yang sehat bahwa obat yang ia konsumsi itu patut dipasarkan. Ia tak boleh tampil dengan tubuh yang ringkih dan kesehatan yang mencemaskan.

Perubahan Cepat di Zaman Awal

Mereka yang mengukur keberhasilan perubahan dari sudut pandang kebendaan akan sangat kecewa. Di mana mereka bisa temukan prasasti kejayaan dakwah para rasul ? Mereka bukan kelas para ’pencipta’ keajaiban dunia seperti para kaisar yang orang tak peduli lagi apakah mereka mengukir, memanat dan membangun kegemilangan ’abadi’ di atas tulang-belulang dan gelimang darah rakyat. Mereka akan lelah untuk bisa mengiyakan pesan agung Al-Musthafa Muhammad: “Sebaik-baik kurun (generasi, abad) ialah kurunku, kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya”. Kalau ada abad-abad beriku-nya yang menjadi monumen peradaban materi, orang pun banyak mengaitkannya dengan Timur Persia atau Barat Yunani, bukan pada hasil taghyir fundamental yang mulai dicanangkan dari bukit Shafa, bahkan dari rumah Fathimah bin Khatthab dan rumah Al-Arqam bin Abi’l Arqam.

Ka’bah bangunan monumental terbesar yang menjadi saksi dan disaksikan sejarah itu kosong. Tak ada pahatan patung-patung pujaan. Tak ada altar penyembahan dewata. Ia dan Batu Hitam (Hajar Aswad) tak pernah disembah, bahkan oleh orang paling musyrik di saat kemusyrikan sangat berjaya. Tak ada kisah mobilisasi dan instruksi kerja paksa dari seorang raja yang sabdanya tak terbantah.

Apa yang mau diwariskan ummat ini sebagai kalimat keabadian (kalimatan baqiah), bila mereka tak dapat kelurusan tauhid, kemuliaan pribadi, kecemerlangan akhlaq dan kecerahan bashirah, seperti yang telah diperankan Al Khalil Ibrahim as? Haruskah menunggu tiga abad untuk mengejar peradaban material barat, dengan satelit khayalan dan pesawat mimpi, lalu menganggap mereka tidur?Ya, mereka mungkin akan segera hancur oleh NAZA, zina dan kebebasan seks, bahkan oleh perang dan perpecahan. Lalu, mana saham ummat terbaik bagi tenggelamnya kezaliman akhir zaman?

Buku Ma’alim fi Thariq mencatat tiga hal utama yang memicu dan memacu taghyir pada generasi pertama dakwah. Pertama, mereka menuntut ilmu untuk suatu action dan perubahan, bukan semata-mata koleksi ilmu. Kedua, mereka memutuskan hubungan dengan masa lalu jahiliyah dan tak ingin kembali ke masa lalu, walaupun sekejap. Ketiga, mereka tegak di hadapan Al Qur’an dengan penuh kesiapan, seperti seorang prajurit siap siaga menerima aba-aba.

Sukar membayangkan suatu perubahan dari masa lalu yang begitu berkarat, gelap dan bejad menjadi begitu cemerlang. Bayangkan dunia tanpa perubahan ini, lalu renungkan di mana dunia dapat menemukan kata ’kemanusiaan, kesamaan, hak-hak asasi, ilmu pengetahuan, masyarakat madani, keadilan, kehormatan ibu dan perempuan, damai dan perang yang beradab…, dan seterusnya?

Gen Ringkih?

Gema taghyir (perubahan) sempat bergemuruh di negeri ini di awal abad 20. Ayat yangtelah ribuan kali dibaca datang memberi pencerahan: “Sesungguhnya Allah tak akan mengubah nasib suatu bangsa sebelum bangsa itu mengubah nasib mereka sendiri.” (Qs. Ar-Ra’d: 11). Namun yang terjadi, yang penting ada perubahan dari kita, karena Tuhan hanya akan “ikut” mengubah sesudah kita mengubah nasib kita sendiri. Belum terfikir apa prioritas urutan perubahan. Bila sedangkal ini pengertian taghyir, niscaya kaum atheis semakin yakin akan atheisme mereka, karena Tuhan tak berbuat apa pun, kecuali bila kita berbuat

Semangat untuk merdeka dikobarkan dengan berjuang, bukan dengan berpangku tangan. Mungkin karena refleksi kemiskinan, keterjajahan dan ketertinggalan, fokus utama taghyir baru sebatas ’go to hell’-nya Belanda dengan membawa pulang kulit putih, rambut pirang dan mata biru mereka. Mereka pergi mewariskan begitu banyak masalah yang terlalu mahal untuk di-laundry: undang-undang, budaya, tradisi politik, mentalitas, dan lain-Iain. Tiga perempat abad telah berlalu, banyak yang berubah di bangsa ini. Adakah respon selain respon perubahan-perubahan artifisial?

Jiwa-khususnya yang ringkih-menjadi perhatian utama perubahan, karena segala perubahan permukaan hanya akan hidup sekejap. Kurun-kurun lalu memperlihatkan begitu banyak produk manusia berjiwa, berkarakter, dan berenergi besar. Mereka mengalahkan segala persoalan berat, membuat yang jauh jadi dekat, bahkan ’membuat mungkin’ segala yang selama ini mustahil.

Timur dan dunia Islam mengidap penyakit berat yang pernah diidap Bani Israil: kufur akan nikmat akal dan daya hidup. Akhirnya mereka hanya bisa menyumpahi persoalan dan bukan memecahkannya. Mereka memandang dunia dengan muram. Perubahan menjadi ’monopoli andalan’ kalangan elit dan monopoli yang tak berbagi: “…Pergilah engkau hai Musa dengan tuhanmu lalu berperanglah, kami tetap akan duduk-duduk di sini” (QS.AI Maidah;24).

Ya, setiap penyakit pasti ada obatnya, kecuali jiwa ringkih (huzalu’l ruh) yang tak pernah menginginkan perubahan’.

Sumber: Majalah Tarbawi edisi 30 Th. 3/Dzulhijiah 1422 H/15 Maret 2002 M

Dipublikasi ulang Admin DPD PKS Sidoarjo