W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Sebuah Kesaksian

Oleh KH. Rahmat Abdullah

Seonggok kemanusiaan terkapar. Siapa yang mengaku bertanggungjawab. Tak satupun. Bila semua pihak menghindar, biarlah saya menanggungnya, semua atau sebagiannya. Saya harus mengambil alih tanggungjawab ini, dengan kesedihan yang sungguh, seperti saya menangisinya saat pertama kali menginjakkan kaki di mata air peradaban modern, beberapa waktu yang silam. Sebegitukah puncak ketinggian yang kalian capai?.

Lelaki dan perempuan yang melakonkan kedamaian dan harmoni. Di taman-taman kota mereka bersama. Di bus dan kereta api. Begitu santun dan hangat basa-basi antar pasangan. Apa yang kau simpan di balik apartemen yang telah menjadi kotak-kotak merpati yang kering, dingin dan mati rasa. Pasangan-pasangan pemabuk yang mencari kesenangan dengan pasangan hidup lain, karena sekadar jenuh atau pembalasan dendam yang konyol atas penyelewengan cinta. Bagaimana remaja dan pemuda menghabiskan waktu di kamar asramanya yang dingin ditemani teman perempuan yang datang dari jarak lima ratus kilometer. Tak puas dengan adegan kamar, mereka masih mencuekkan publik dengan adegan syur sepanjang menanti kereta api datang.

Siapa Mau Jadi Tertuduh?

Apakah Sartre, Goethe, John Lennon, Mc Jagger, Paus Johannes Paulus, ets. mau menerima tanggungjawab ini dengan lapang hati? Ada yang melantunkan “Tuhon sudah mati”. Ada yang mengkorup sifat-sifat-Nya menjadi terbatas pada Ia yang kasih, tanpa mampu membalas, menghukum atau bertindak tegas. Para pemuja barat dan pembenci Islam yang belajar (tidak) memahami Islam dengan sangat kritis (baca; suudhan) alergi terhadap semua produk Islam yang berabad-abad telah membangun peradaban dunia. Sebaliknya, mereka menyerah kalah serta berbaik sangka, menjadi kontra-produktif menghadapi produk bumi. Mereka boleh kecewa kepada Muhammad Iqbal yang telah melayangkan peringatannya kepada bangsa-bangsa Timur. Mereka diserunya untuk tidak larut dalam kekaguman kepada bangsa Barat.

“Tempalah tembikarmu dari lempungmu sendiri.”

Tetapi, ia tak juga larut dalam kedunguan Timur yang lamban memahami. Ia tak tertarik pada basa-basi munafik Barat yang menampilkan budaya halus. Tetapi, iapun tak suka kekasaran guru Qur’an memperlakukan murid bagaikan sais bodoh mengkasari keledai. Hal yang paling tajam dari dua peradaban masa kini, ialah keberseberangan mereka. Timur memilik daya tahan yang sangat kuat dalam menghadapi bencana. Sayang daya jelajahnya lemah dan kekuatan lajunya rendah. Bagaimana Anda bersikap tentang iklan mobil yang mengunggulkan kekuatan rem dan kehebatan suspensi, namun ketika ditanya tentang kecepatan lajunya, hanya merayap 5 km perjam. Rem sekuat apa yang diperlukan mobil dengan kemampuan jelajah seperti siput? Ia cukup distop dengan membenturkannya ke trotoar.

Barat dengan segala kilau kebendaan yang menjadi tujuan tertinggi mereka telah lebih berhasil menyebarkan faham hedonik ini daripada pendukung faham langit yang mengacu pada wahyu. Begitu memukau kemajuannya dan menggiurkan produk kebendaannya. Tetapi, benih-benih kerapuhan telah tersimpan didalamnya, seperti bom waktu yang suatu saat akan meluluhkan. Ia adalah mobil pacu yang sangat cepat, namun tak punya kekuatan rem atau daya tahan. Padahal yang menyebabkan korupsi begitu subur lantaran sikap nrimo rakyatyang tak proporsional.

Para tengkulak di departemen yang mengurus layanan publik seperti haji, dengan entengnya men-taushiah jamaah untuk ikhlas dan sabar menerima segalanya, sementara hak-hak mereka dikorupsi, dirampok dan digelapkan. Tetapi mereka secara salah didoktrin untuk “Tidak berkata lucah, tidak berbuat fasik dan tidak berdebat dalam haji.” (Qs 2: 197), padahal amar maruf nahi munkar tidak masuk bagian yang dilarang.

Ada kelompok dan peroranga nyang begitu setianya membela nilai-nilai Barat, lalu memaksakannya kepada Islam. Liberalisasi nilai-nilai, relatifisasi ajaran serta pendangkalan akidah yang kesemuanya dilancarkan atas nama rahmatan lil alamin-nya ummat, telah mengaburkan sasaran-sasaran risalah. Kalau orang selama ini telah kagum kepada keberhasilan memelihara ashalah (orisinalitas), jalaliyah (wibawa/keperkasaan) dan jamaliyah (keindahan) Islam, lalu kehilangan bukti-bukti aplikatif pada manusianya, bagaimana mungkin mereka akan jadi teladan dan panutan? Kalau ajaran kebenaran langit ini ditawarkan dengan berbagai modifikasi, interpolasi dan manipulasi oleh mereka yang dibayar untuk tugas-tugas semacam ini, apakah mereka bisa mengetuk hati si pembayar yang sejak awal telah menitipkan pesan sponsor, atau minimal memandang si pelaksana sebagai orang bayaran dan pengamen yang telah di-sangui-nya?

Bila tangan yang menadah tak akan mampu mengatakan “tidak” kepada tangan yang memberi, maka berbahagialah mereka yang mampu berkata “Ikutilah orang-orang yang tak meminta upah kepada kalian dan mereka mendapatkan petunjuk.”(QS. 36: 21).

Mereka yang telah terpesona oleh loyang yang memancarkan kilau emas dan membungkuk-bungkuk menerima sumbangan dari tangan yang memusuhi peradaban besar yang diwarisinya, hanya akan bisa membeo pada ucapan mereka. Tak ada yang baru dari celoteh mereka, selain tuduhan Islam sebagai agama kekejaman dan keterbelakangan. Hanya satu yang berbeda, yaitu dulu yang mengucapkannya para pemuka agama dan pemikir mereka, sekarang justeru oleh para pelamun di barisan. Kalau dulu muslimin akan menolak produk si kafir, atheis dan musyrik itu karena keluar dari mulut kafir, atheis dan musyrik, maka mereka mendengarnya kini dari mulut-mulut muslim yang berhasil meyakinkan kiai mereka di pedesaan, hanya dengan tetap mengenakan kopiah dan mencium tangan mereka, padahal di perkotaan mereka berucap kata-kata yang hanya bisa ditafsirkan dengan satu tafsiran: murtad.

Garam yang Rusak

Bila pohon dikenal dari buah, apa yang harus kita sembunyikan dari aib kita sendiri? Aib sendiri? Aib kita memahami ajaran kita. Aib kita mengelola dunia. Aib kita keluar dari problem hidup yang menjadi saudara kembar. Mengapa harus malu. Atau kita akan jadikan Tuhan sebagai tertuduh. Ia tak bisa dihujat, itu kepastian. Ia tak keliru, itu kelurusan nalar. Mulut dungu yang lancang itu terus saja berkata, umat harus begini dan begitu. Atau, kita jangan menzalimi minoritas di tengah kemayoritasan kita. Atau korupsi yang memalukan dari anak-anak ummat. Adakah anak-anak ummat mencopet saat ia melaksanakan shalat? Atau berzina saat melalukan puasa? Atau korupsi saat hukum Allah tegak sebagai acuan berbangsa?

Mengapa tidak katakan saja mereka korupsi, kolusi dan nepotis sebagai penganutisme atau ideologi lokal yang menjadi landasan negara atau sumber dari segala sumber hukum mereka? Apakah ada kontrak pengakuan dosa bahwa kita umat Islam teroris, hedonis dan koruptis, kolutif dan nepotis, sementara mereka anti HAM antek dan boneka asing seperti fakta-fakta tak terbantahkan?

Bush terlambat ketika menawarkan 147 juta dolar untuk perubahan kurikulum. Ia tak perlu khawatir dan susah-susah mengeluarkan uang begitu banyak. Ia tak tahu sejak akhir 70-an, mulai banyak santri yang bangga bila tak shalat, berbangga dengan segala pertanyaan yang nampaknya musykil dan membingungkan ummat padahal seharusnya mereka sendiri yang menjawab atau hidup dari guyuran LSM asing.

“Dengan garam kita awetkan (ikan) yang kita takutkan membusuk
Bagaimana bila garamnya yang menjadi busuk?”

Sumber : Tarbawi Edisi 74 Th. 5/Dzulqo’dah 1424 H/25 Desember 2003 M hal 42-43.

Republished by DPD PKS Sidoarjo