W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Survei CSIS: Terbukti, Pendukung PKS Loyal

Meski tergolong partai baru namun Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ternyata memiliki massa pendukung paling loyal. Loyalitas pendukung PKS jauh mengungguli pemilih Partai Golkar, PDIP, dan PPP.

Hasil penelitian yang diungkap Center for Strategic and International Studies (CSIS) cukup mengejutkan mengingat PKS baru lahir pada era reformasi 1998. Dalam pemilu pertama 1999, PKS yang dulu masih bernama Partai Keadilan (PK) bahkan sempat tidak lolos ET sehingga harus berganti nama menjadi PKS.

Menurut CSIS, dari 3.000 responden yang disurvei pada pertengahan Mei 2008 ditemukan fakta bahwa sebanyak 75,4 persen pemilih yang pada pemilu 2004 lalu memilih PKS, menyatakan akan kembali memilih PKS pada Pemilu 2009.

Angka berbeda ditemukan ketika responden dari partai besar lain ditanya pertanyaan serupa. Hanya 61 persen pemilih Partai Golkar yang akan kembali memilih partai pimpinan Jusuf Kalla ini pada pemilu 2009. Lebih parah lagi adalah loyalitas pemilih PDIP. Tercatat hanya 55,1 persen responden yang akan memilih partai Banteng Mencereng ini.Namun loyalitas ketiga partai itu masih lebih baik ketimbang PPP, PAN, dan Partai Demokrat (PD). Ketiga partai ini memiliki basis pendukung yang relatif lebih lemah.

“Dukungan terhadap PPP dan PAN akan turun drastis karena banyak pendukungnya pindah ke PKS. Begitu juga dengan Partai Demokrat karena hanya menjadi fenomena sesaat,” ungkap CSIS.

CSIS juga menemukan sebanyak 30 persen responden belum menentukan pilihan dalam pemilu 2009. Sementara 6,1 persen respon menyatakan akan memilih partai-partai lain. “Sekitar 35 persen calon pemilih yang merupakan pemilih tahun 2004 berencana menetapkan pilihan pastinya pada hari pemungutan suara Pemilu 2009,” kata CSIS.

Hasil survei yang dilakukan Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan bahwa PDI Perjuangan, Partai Golkar, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan tiga partai teratas yang banyak dipilih responden, jika pemilu dilakukan saat ini. Ketika meluncurkan hasil survei “Perilaku Pemilih Indonesia 2008? di Gedung CSIS Jakarta, Selasa, Ketua Tim Survei dan Penelitian Lapangan CSIS, Nico Harjanto, mengatakan PDI Perjuangan masih menjadi partai yang paling populer, dengan memperoleh dukungan sebesar 20,3 persen responden, diikuti Partai Golkar dengan 18,1 persen dan PKS dengan 11,8 persen.

Partai berikutnya ditempati oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan dukungan sebesar 6,8 persen, selanjutnya Partai Demokrat sebesar 5,2 persen, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan 2,7 persen dan Partai Amanat Nasional (PAN) dengan 1,7 persen.

Dalam survei juga terungkap bahwa loyalitas pemilih PKS sangat tinggi. Sebanyak 75,4 persen pemilih yang pada Pemilu 2004 lalu memilih PKS, menyatakan akan kembali memilih PKS pada Pemilu 2009, sedangkan loyalitas pemilih Partai Golkar sebesar 61 persen, diikuti PDIP sebesar 55,1 persen.

“Dukungan terhadap PPP dan PAN akan mengalami penurunan drastis dan banyak pendukungnya yang pindah ke PKS. Begitu pula dengan Partai Demokrat yang hanya menjadi ‘fenomena sesaat’, karena loyalitas pendukungnya sangat rendah,” kata Nico, yang didampingi sejumlah pimpinan CSIS, seperti Hadi Soesastro, Rizal Sukma, dan Indra J Piliang.

Dalam survei tersebut, sebanyak 30 persen responden menyatakan belum menentukan pilihan dan sebanyak 6,1 persen lainnya lebih memilih partai-partai lain.

“Sekitar 35 persen calon pemilih yang merupakan pemilih tahun 2004, berencana menetapkan pilihan pastinya pada hari pemungutan suara Pemilu 2009,” katanya.

Ia menambahkan, survei itu juga menemukan bahwa di kalangan pemilih pemula, Partai Golkar merupakan parpol yang paling populer, diikuti PDI Perjuangan dan PKS.

Selain itu, pengaruh “serangan fajar” seperti intimidasi dan pemberian uang saat menjelang pemilu tidak mempunyai pengaruh yang signifikan.

Hanya sebesar 12,9 persen calon pemilih yang mengaku pernah menerima sejumlah uang dan sekitar 2,5 persen calon pemilih yang mengaku mengalami intimidasi.

“Dari jumlah itu, hanya 21,4 persen dan 16,9 persen menyatakan akan memberikan suaranya kepada parpol yang memberikan uang dan melakukan intimidasi. Jadi, efektivitasnya sangat rendah,” kata Nico.

Calon presiden

Sedangkan terhadap pertanyaan calon presiden yang akan dipilih jika pemilu dilakukan saat ini, hasil survei menunjukkan bahwa Megawati Soekarnoputri masih menempati urutan teratas dengan 23,2 persen.

Urutan kedua ditempati Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan 14,7 persen, diikuti Sri Sultan HB X dengan 8,8 persen, Hidayat Nur Wahid dengan 7,9 persen, Wiranto 7,6 persen, Jusuf Kalla 4,2 persen, dan Gus Dur dengan 3,6 persen.

Sebanyak enam persen responden menjatuhkan pilihannya pada calon-calon presiden lainnya dan 24 persen responden menyatakan belum tahu akan memilih siapa.

“Menurunnya popularitas SBY sejalan dengan penilaian masyarakat yang sangat rendah terhadap kinerja pemerintahan SBY dalam isu-isu kesejahteraan rakyat,” kata Nico.

Di sisi lain, hasil survei juga menunjukkan bahwa hampir semua pendukung PDIP akan memilih Megawati pada Pilpres 2009, sementara pendukung partai-partai lainnya termasuk Golkar, akan terpecah dalam menentukan calon presidennya.

Survei atau jajak pendapat tersebut dilakukan pada pertengahan Mei 2008 terhadap 3.000 responden di 13 provinsi yang memiliki total 85 persen jumlah penduduk Indonesia dan mewakili sekitar 76 persen kursi di DPR RI.

Metode survei dilakukan dengan cara wawancara dan tatap muka. Penentuan sampel dilakukan dengan kombinasi “multi-stage purposive sampling” dan “random sampling”, dengan “margin of errors” sebesar plus minus 1,79 persen.

Menurut Nico, dalam melakukan penelitian itu pihaknya juga menerapkan cara baru ketika pertanyaan menyangkut calon presiden dan wakil presiden yang akan dipilih, dengan hanya memperlihatkan foto-foto kandidat, tanpa menyodorkan daftar nama kandidat.

Sementara itu, Direktur Eksekutif CSIS, Hadi Soesastro, mengatakan, hasil survei tersebut merupakan hasil sementara dari sejumlah survei lapangan yang sedang dan akan dilakukan CSIS, untuk mengetahui perilaku pemilih di Indonesia.

Survei serupa terhadap responden yang sama, katanya, juga akan dilakukan pada Oktober 2008 dan Februari 2009.

Survei CSIS ini dilakukan pada pertengahan Mei 2008 terhadap 3.000 responden yang tersebar di 13 provinsi yang memiliki total 85 persen jumlah penduduk Indonesia dan mewakili sekitar 76 persen kursi di DPR RI.

CSIS menggunakan metode survei wawancara dan tatap muka langsung. Untuk penentuan sampel, CSIS melakukan kombinasi multi-stage purposive sampling dan random sampling dengan margin of errors sebesar plus minus 1,79 persen.