W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Tanggung Jawab Dakwah

Ustad Drs. DH. Al-Yusni

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al Ahzab: 72)

Tugas dan tanggung jawab adalah tuntutan kehidupan yang tak bisa dielakkan. Manusia yang brilian tidak akan pernah lari darinya sekalipun ia amat melelahkan dan banyak bahkan kadang lebih banyak dari waktu yang tersedia. Malah, tanggung jawab itu sering tidak dapat dituntaskan sehingga perlu dilanjutkan oleh yang lain. Karena ia datang terus-menerus seiring berjalannya waktu. Semakin bergulir semakin banyak tugas dan tanggung jawab yang mesti dipikul. Ia muncul dan terus muncul sesuai dengan tuntutan zamannya. Terlebih lagi tanggung jawab terhadap dakwah (mas’uliyatud da’wah).

Seorang pendaki gunung pernah berujar, “Naik gunung itu amat melelahkan, berat dan capek. Akan tetapi bila sudah sampai di puncak, kita akan merasakan nikmatnya berada di puncak gunung. Namun, bila kita lengah, akan menjadi marabahaya sebab banyak jurang yang dalam yang siap menelan kita.” Ungkapan ini bila dikaitkan dengan perjalanan dakwah memiliki kemiripan.

Ketika perjalanan dakwah ini meniti jalan kemenangannya, terasa memang berat dan melelahkan. Akan tetapi, di saat mencapai cita-citanya, ada rasa senang dan sekaligus perasaan galau lantaran beratnya memikul amanah dan tanggung jawab yang jauh lebih besar lagi. Taruhannya adalah kekuatan mengemban amanah dan kepercayaan umat. Bila gagal, gelombang manusia yang berhimpun itu akan lari meninggalkan barisan dakwah ini.

Sekalipun tanggung jawab selalu datang, namun kader dakwah tidaklah boleh mengeluh dan kecewa terhadapnya. Kader harus selalu memandang bahwa tanggung jawab merupakan sesuatu yang dapat memuliakan dirinya meski ia kesulitan untuk memikulnya. Sehingga bila telah selesai menunaikan satu tanggung jawabnya, ia perlu menyiapkan diri untuk segera melaksanakan tugas barunya. Sebagaimana firman Allah SWT: “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. (QS. Al Insyirah: 7).

Hari-hari kemarin yang telah kita lalui sudah kita pergunakan untuk memperlebar jaringan dakwah. Agar umat manusia banyak berhimpun di jalan yang mulia ini. Telah banyak upaya yang kita lakukan: mulai dari diri sendiri, keluarga, tetangga hingga kalangan yang lebih luas. Dengan kerja yang berkesinambungan dalam rangka mempertahankan eksistensi dakwah ini, Allah SWT anugerahkan kasih sayang-Nya pada mereka yang aktif mengemban tugas tersebut. Tampak oleh kita banyak hati manusia yang tertarik, simpatik dan energik memberikan dukungannya pada dakwah ini.

Dari banyaknya manusia yang berhimpun dalam dakwah ini, tentu mengandung tugas dan tanggung jawab yang berat. Dan ini bagian dari manuver dakwah yang harus di-followup-i dengan selalu menjaga perluasan jaringan dakwah ini (ri’ayah munawaratud da’awiyah).

Adapun bentuk upaya menjaganya adalah:

Pertama, mentarbiyah masyarakat luas (tarbiyah jamahiriyah). Kita telah menyaksikan bahwa masyarakat memberikan dukungan yang luar biasa baik dari dukungan materi, pikiran, tenaga dan politik. Dukungan dari beragam lapisan mulai masyarakat perkotaan hingga pedesaan, masyarakat terdidik hingga yang buta huruf, dari kalangan santri yang shalih hingga anak gaul di pinggir jalan. Hal tersebut merupakan indikasi bahwa mereka pun ingin menjadi bagian dari dakwah ini. Malah ada yang merasa sudah menjadi salah satu bagian dari dakwah ini.

Realita dukungan ini harus dipandang bahwa masyarakat yang berhimpun itu mesti mendapatkan hak tarbawiyah-nya sebagaimana yang didapat para kader. Sekalipun yang telah mereka rasakan selama ini baru sebatas sentuhan awal. Tentunya, mereka pun ingin mendapatkan pembinaan yang bisa membentuk diri mereka menjadi kader sejati sesuai dengan kondisi mereka masing-masing sehingga mereka dapat bergabung lebih dalam bersama kader lainnya. Agar ia menjadi bagian dakwah yang besar ini walau hanya satu elemen kecil saja.

Adapun bentuk tanggung jawab dakwah dan kadernya pada mereka adalah melakukan tarbiyah kepada masyarakat luas atau pembinaan massal (tarbiyah jamahiriyah) dengan perlu menyesuaikan muatan dan arahannya. Apakah dengan melakukannya dalam bentuk tarbiyah regular atau secara massal dengan melaksanakan taklim rutin yang diikuti oleh sekian banyak orang.

Kedua, peningkatan kualitas kader (tarqiyah nau’iyatul jundiyah). Semakin banyak tugas maka semakin perlu meningkatkan kualitas dan kapabilitas agar dapat menunaikan amanah itu dengan sebaik-baiknya. Abul Hasan An Nadawi dalam kitab Mudzakiratu Sa’ihin fil ’Alamil Arab menyatakan bahwa sudah menjadi keharusan untuk membentuk kader-kader yang dapat meneruskan dan menjalankan tugas tanggung jawab dakwah dengan meningkatkan kemampuan kader agar bisa mengisi peluang-peluang dakwah yang amat banyak. Karena setiap gerakan dakwah betapapun kuatnya dan betapapun banyak kader-kadernya masih tetap terancam kebangkrutan.

Mengingat berlalunya waktu maka semakin bertambahnya tanggung jawab yang mesti dipikul segera sehingga menjadi sebuah aksioma bahwa kemampuan kader untuk menunaikan tanggung jawab harus diimbangi dengan peningkatan diri mereka sesuai dengan tuntutannya masing-masing. Sebagaimana kaedah dakwah: li kulli da’watin marhalatuha, wa likulli marhalatin muthallibatuha, wa lukulli muthallibatin rijaluha (etiap dakwah ada marhalahnya, setiap marhalah ada tuntutannya, dan setiap tuntutan ada orangnya yang akan mengerjakannya).

Sangatlah lumrah orang banyak memberikan berkomentar terhadap kader yang ada saat ini dengan menyatakan apa mungkin orang-orang mesjid itu mampu mengelola urusan besar (mengelola negara) ini?

Anggapan ini bermula dari aktivitas kader yang berawal dari mengelola sebatas dari satu majelis taklim ke majelis taklim lainnya, dari satu kegiatan keagamaan ke kegiatan keagamaan lainnya. Dan sekarang tanggung jawab itu melebih aktivitas sebelumnya. Tugas dan kewajiban yang bakal dipikul bebannya jauh lebih berat dari hari-hari yang kemarin. Maka, tidak bisa dielakkan bahwa kemampuan harus kader bisa memenuhi kebutuhan lapangan yang amal beragam di hari ini. Keahlian dan kecakapan mereka menjadi tahurannya untuk meraih dukungan yang lebih besar lagi.

Ketiga, penyegaran aktifitas tarbiyah (in’asy smalit tarbawiyah). Setelah beberapa saat, aktivitas tarbiyah belum berjalan optimal karena kesibukan dakwah yang begitu banyak. Dan hal ini merupakan bagian dari siklus ekspansi dakwah yang besar. Saat kesibukan kader dakwah melebihi volume kesibukannya di waktu yang lain sehingga sedikit banyak aktivitas tarbiyah yang regular mengalami sedikit gangguan. Bila hal ini dibiarkan berlarut-larut, akan berdampak pada kelambanan geliat dakwah dan gerakannya. Apalagi sudah dimafhumi bahwa tarbiyah merupakan munthalak-nya.

Seorang penyair Tunis, Ahmad Mukhtar Al Wazi, menyatakan “wain wanat waqfatuha ’ajalabal munthalaqu” (bila diamnya terlalu lama akankah ia tergugah oleh keharusanya bergerak). Maka perjalanan tarbiyah yang menjadi pijakan asasiyah mesti berjalan normal dan segar kembali melalui berbagai aktivitas tarbiyah yang reguler: seperti liqa’ pekanan rutin, mabit, tatsqif, daurah dan lain-lainnya. Oleh karena itu, mereka yang berkepentingan dalam menormalkan dan menyegarkan aktivitas tarbiyah ini harus berada pada pusat intruksional agar dapal menggerakkan dengan sesegera mungkin dan membunyikan peluitnya dengan keras. Baik mereka itu para murabbi, naqib atau mereka yang berada dalam jajaran struktural.

Hal ini tentu menjadi antisipasi yang dini agar tidak terjadi situasi yang cenderung memburuk dengan ’mengabaikan’ iklim asasi dalam dakwah ini. Syaikh Mushtafa Mahsyur Rahimahullah, mengingatkan agar aktivitas perpolitikan ini jangan mengalahkan dan mendominasi aktivitas tarbawiyah. Ghalabatis siyasiyah at tarbawiyah.

Keempat, pengokohan interaksi pada tokoh (taqwiyah ittishalil wujahiyah). Begitu banyak para tokoh yang telah terjalin hubungan sosial kemasyarakatannya dengan dakwah ini melalui silaturahim dengan mereka atau menjadikan mereka bagian dari rekruting dakwah ini. Sudah barang tentu, mereka juga ingin bahwa hubungan itu tidak berhenti hanya karena aktivitas menggalang massa telah usai melainkan mereka sangat mengharapkan bahwa jalinan itu bisa lebih erat lagi dari waktu sebelumnya.

Islam tentu sudah mengajarkan bagaimana mensikapi para tokoh di tengah-tengah masyarakatnya dengan memuliakan mereka. Sehingga mereka pun, dapat menerima ajakan dan seruan yang ditujukan padanya karena kedudukan mereka pun dihormati dan dihargai.

Tatkala menaklukan Mekkah, Rasulullah saw mengatakan, “Siapa yang masuk ke mesjid maka aman. Dan siapa yang menutup pintu rumahnya maka ia aman dan siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan maka ia pun aman”. Pernyataan ini jelas menampakkan bahwa ajaran Islam tetap memandang bahwa para tokoh itu mempunyai kedudukan yang perlu ditempatkan secara pas dan tepat. Dan ini menjadi pelunak hati mereka untuk ikut dalam barisan dakwah ini. Karenanya, pendekatan para tokoh yang pernah dilakukan pada hari-hari kemarin harus dikokohkan kembali sehingga mereka mendukung dakwah ini secara optimal. Apalagi, bila para tokoh itu memiliki perasaan bahwa merekapun telah memberikan andil yang teramat besar dalam pemenangan dakwah ini.

Kelima, soliditas struktural (matanah tanzhimiyah). Aktivitas yang padat sering berimbas pada ketahanan struktural. Terlebih lagi, struktur yang masih sangat sederhana. Kesederhanaan fungsi dan bagan struktural kadang menciptakan aktivis berfungsi ganda atau bahkan multi fungsi sehingga banyak kamar-kamar struktur yang tak terisi apalagi terisi lengkap. Ditambah persoalan bahwa program yang sedang digerakkan bersama bertumpu pada satu program besar sehingga beberapa unsure dari struktural itu ikut berkonsentrasi pula pada kerja massal sehingga kadang yang terjadi adalah ’mengesampingkan’ tugas-tugas regulernya. Bila hal ini dibiarkan, dapat berdampak pada perjalanan struktural yang termehek-mehek.

Mengingat peran struktural untuk menjalankan agenda berikutnya yang juga besar maka ketahanan soliditas struktural
ini tidak bisa ditunda lagi. Ia perlu diperhatikan seksama agar dapat mengokohkan kader yang ada di dalamnya disertai pemberdayaan struktural dalam tugas-tugas besar berikutnya. Baik struktur pada tingkat pusat juga pada tingkatan di bawahnya. Dengan demikian, langkah-langkah struktural dapat bergerak dengan lincah dan leluasa mengemban tugas dakwah besar lainnya. Di samping pengokohan struktural juga perlu diperhatikan masalah pengembangannya. Sebab, dengan tanggung jawab yang semakin besar, dibutuhkan penopang struktural yang semakin lengkap.

Imam Mawardi, penulis Al Ahkamus Sulthaniyah, memaparkan bahwa semenjak futuhat-futuhat dakwah dicapai kaum muslimin pada masa Khalifah Umar ibnul Khaththab, berkembang pula jajaran struktur yang baru dengan segala dinamika dan urusannya yang pada masa lalu tidak ditemukan persoalan tersebut.

Itulah sebagian kecil dari tanggung jawab dakwah yang besar ini. Paling tidak, dari situ kita dapat memulai apa yang perlu kita lakukan.

Untuk merealisasikan (tahqiq) tanggung jawab yang besar ini diperlukan upaya kerja keras yang maksimal, diantaranya adalah:

Pertama, bersungguh-sungguh dan tekun (al jiddiyah wal mu’azhibah). Kesungguhan adalah modal utama untuk dapat menunaikan setiap tugas. Dan kesungguhan merupakan indikasi dari sikap yang penuh tanggung jawab. Ia pun cerminan dari keimanan dan keyakinan yang kuat akan pertemuannya dengan Sang Rabbul Izzati sehingga melahirkan perilaku siap dan sedia menunaikan suatu tugas yang diamanahkan kepadanya. Dari sinilah, akan diukur seberapa besar kesiapan dan kesediaan yang berdampak pada kepuasan masyarakat akan pelayanan dan penunaian tanggung jawab tersebut.

Bila melihat sederetan tugas-tugas tersebut di atas, kita temukan bahwa tugas tersebut betul-betul tidak sepele. Tugas dan tanggung jawab itu tidak boleh dianggap main-main. Apalagi harapan yang dimiliki banyak orang teramat tinggi. Mereka berharap bahwa kader dakwah pasti dapat memikul tugas itu dan dapat memberikan pengaruh kebaikan yang dirasakan oleh umat.

Kedua, aktivitas yang berkesinambungan (istimrariyatul amal). Karena waktu senantiasa berjalan tak kenal henti, amalpun tak boleh berhenti. Memang suatu tugas dikira sudah selesai namun ternyata masih ada setumpuk tugas lainnya yang sedang menunggu untuk diselesaikan.

Gambaran yang sering diungkapkan orang adalah bergeraknya amal ini bagai deburan ombak di lautan yang datang silih-berganti dengan deburan ombak lainnya kadang ombak besar kadang ombak kecil. Bila amal tersebut dilakukan bak ombak tadi niscaya amal datang susul-menyusul dan tidak akan pernah mati. Olah kreatifitas amal perlu digesahkan kepada seluruh lapisan kader sehingga mereka bisa menciptakan berbagai amal yang variatif.

Ketiga, kedisiplinan terhadap anhaj (indhibatul manhajiyah). Manhaj merupakan rambu perjalanan dakwah ini. Ia bagaikan denah yang menunjukan arah dan apa yang mesti dilakukan. Karena itu, setelah selesainya satu tugas perlu melihat kembali apa yang telah digariskan oleh manhaj dakwah tentang tugas-tugas kedepan. Bila terkait dengan tarbiyah, ia perlu diterapkan secara disiplin sesuai arahannya. Sebagaimana petunjuk Allah SWT kepada Nabi Yahya as: “Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak”. (QS. Maryam: 12). Tentunya, hal ini juga berlaku kepada seluruh kader untuk menerapkan tuntutan manhaj secara disiplin sehingga ia dapat menghantarkan perjalanan dakwah ini dari satu mihwar ke mihwar lainnya dengan sistematis.

Keempat, keteladanan dan arahan (al qudwah wat taujih). Komunitas suatu masyarakat kadang akan mudah terbentuk bila memiliki cermin jernih yang menjadi panutan bagi yang lain. Karena panutan bagai mercusuar yang akan mengarahkan dan juga menjadi ukuran atau kiblat mereka. Di sinilah pentingnya keteladanan antara satu dengan yang lain. Keteladanan dalam ubudiyah, ijtima’iyah, mu’amalah maupun keteladanan dalam amal siyasi. Tentu, keteladanan yang dimaksud adalah bahwa seluruh kader menjadi contoh bagi yang lain. Apalagi seluruh elemen masyarakat menjadi penilainya. Mereka tentu ingin panutannya bagai cermin jernih tanpa goresan.

Sekarang ini, persoalannya adalah siapkah kader dakwah ini memikul tanggung jawab yang amat besar itu.

“Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (Nya)dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)”. (QS. Muhammad: 38)

Wallahu ’alam bishshawab.

Sumber Majalah SAKSI No.14 Tahun VI 12 Mei 2004

Dipublikasi ulang Admin DPD PKS Sidoarjo