W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Ujian Kelayakan Pemimpin

Oleh Untung Wahono

Seorang utusan Quraisy, Utbah bin Rabi’ah, datang kepada Muhammad Rasulullah saw, berbincang panjang lebar, lalu berkata, “…Sekarang dengar baik-baik, saya hendak menawarkan kepada engkau beberapa hal yang mungkin engkau dapat menerima salah satunya. Kalau dengan dakwah yang engkau lakukan itu, ingin mendapalkan harta kekayaan, kami akan kumpulkan harta kekayaan kami untuk engkau sehingga engkau menjadi yang terkaya diantara kami. Kalau engkau menginginkan kehormatan dan kemuliaan, engkau akan kami angkat sebagai pemimpin dan kami tidak akan memutuskan persoalan apapun di luar persetujuan engkau. Kalau engkau ingin jadi raja, kami bersedia menobatkan engkau sebagai raja kami….” Peristiwa ini diriwayatkan dalam hadits hasan oleh Ibnu Ishaq dan Abu Ya’la.

Jika misi utama Rasulullah “sekedar” menjadi penguasa, baik sekara ekonomi maupun politik, menjadi pemimpin bangsa Quraisy, bahkan jadi raja, sama sekali tidak sulit. Tetapi dalam perkataan Utbah jelas terkandung syarat, yakni semua itu akan diberikan kepada Muhammad saw jika dakwah yang diserukannya memang bertujuan untuk itu semua. Dengan perkataan yang lebih sederhana, Utbah ingin menegaskan, kalau semua khutbah atas nama Allah yang disampaikan Muhammad saw ujung-ujungnya harta dan kekuasaan, maka tidak usah omong banyak, semua akan segera mereka berikan asalkan seruan tauhid atas nama wahyu dan risalah segera dihentikan.

Namun, Rasulullah saw sadar tawaran Uthbah bukan jalan menuju kepemimpinan yang diridhai Allah SWT. Apalagi, beliau adalah nabi suci yang tidak mungkin memiliki ambisi serendah itu. Ada Nabi yang menjadi menteri seperti Yusuf as dan ada yang menjadi raja seperti Sulaiman as. Tetapi mereka menduduki posisi itu dengan izzah yang tinggi dan bukan atas sebuah “proses tawar-menawar” yang merugikan misi dakwah yang mereka emban dengan penuh kemuliaan.

Oleh karena itu, Rasulullah saw tidak mau “membeli” tawaran apapun baik yang menggiurkan maupun yang membahayakan (ancaman kekerasan) dengan mengatakan, “Demi Allah, aku tidak sanggup meninggalkan apa yang telah diperintahkan Allah kepadaku. Hal itu lebih berat bagiku daripada diharuskan menyalakan api dengan sinar matahari!” (HR Thabrani)

Sebagai Konsekuensi, bukan Tujuan

Dalam ilmu politik, dikenal istilah “power tends to corrupt”, kekuasaan cenderung menyeleweng. Ini menandakan, kepemimpinan yang di dalamnya biasa terkandung makna kekuasaan, dapat membawa seorang lupa diri sehingga mengabaikan fungsi-fungsi yang harus diembannya. Maka kehancuran membayang di hadapannya. Itulah sebabnya, Rasulullah saw menyatakan, “Sungguh kepemimpinan itu akan menjadi kedudukan yang diperebutkan di antara kamu dan pada hari kiamat kelak hal itu akan menjadikan kalian penuh penyesalan.” (HR Bukhari)

Kepemimpinan bukanlah sesuatu yang menjadi tujuan dari aktivitas seorang Muslim tetapi sebuah konsekuensi dari kehidupan kebersamaan di antara manusia. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan seseorang untuk mengawasi dan melaksanakan pengaturan-pengaturan yang berlaku dalam kehidupan sosial sehingga kepemimpinan memang harus ada. Namun fungsi-fungsi pemimpin yang baik ini bisa berubah 180 derajat. Seorang pemimpin justeru menjadi perusak tatanan kehidupan masyarakatnya. Hal ini dapat dicegah bila saja kepemimpinan itu tumbuh dari proses yang wajar dan bukan terwujud dari rekayasa-rekayasa yang memanipulasi kelemahan-kelemahan orang banyak agar seseorang bisa menjadi pemimpin.

Rasulullah saw bersabda, “Jangan engkau minta kepemimpinan (al-imarah) karena sesungguhnya jika engkau menerima kepemimpinan itu atas dasar permintaan (ambisi) niscaya akan membebanimu. Jika kepemimpinan itu diberikan bukan atas dasar ambisi, maka engkau akan ditolong (dalam pelaksanaannya).” (HR An-Nasaai)

Sebuah Hasil Perjuangan

Hampir dapat dipastikan, beban berat kepemimpinan tidak akan menarik ambisi seseorang untuk menjadi pemimpin. Oleh karena itu, biasanya kepemimpinan yang diperebutkan adalah kepemimpinan yang “telah jadi” dan menjanjikan kemewahan-kemewahan duniawi bagi mereka yang akan menyelewengkan amanatnya. Namun, kepemimpinan dalam perjuangan hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang ikhlas dan semata-mata mengejar terwujudnya idealisme yang dicita-citakannya.

Muhammad saw adalah seorang suami dari seorang pedagang kaya yang bernama Khadijah ra. Tetapi, harta kekayaannya itu habis dalam perjuangan menegakkan Islam selama bertahun-tahun di kota Makkah.

Muhammad saw adalah seorang dari keturunan terhormat dan penghargaan suku Quraisy diperlihatkan dengan kepemimpinan kabilah dari paman beliau Abu Thalib. Tetapi, dengan dakwah yang dipimpinnya ia menerima berbagai celaan bahkan berbagai tindak kekerasan yang-dalam pandangan sepintas kemanusiaan-dapat menghinakan posisinya. Di Thaif, beliau dikejar-kejar oleh orang dewasa dan anak-anak dan dilempari batu hingga kepalanya berdarah-darah.

Muhammad saw juga seorang yang lembut hati, tetapi beliau harus melihat bagaimana para pengikutnya disiksa dengan bengis dan kejam bahkan sampai mereka menghembuskan nafas terakhir tanpa bisa melakukan pembelaan dan pembalasan sedikit pun, sebagaimana yang terjadi pada keluarga Ammar bin Yasir. Semua itu dijalani oleh Rasulullah saw dengan sabar dan ikhlas, pada saat orang lain mungkin sudah tak kuat menanggung beban kepemimpinan seperti itu.

Kepemimpinan yang tumbuh dari kesulitan, pengorbanan, keuletan, dan keikhlasan seperti inilah akar dari kepemimpinan ideal sesungguhnya yang lahir dari sebuah proses yang membentuk kepribadian seseorang, dan bukan hasil “karbitan” karena pengaruh kekayaan atau kedekatan keluarga atau kepentingan lainnya. Tidak sedikit calon-calon pemimpin mengalami kegagalan karena tak kuat menanggung penderitaan yang panjang dan hebatnya tantangan yang dihadapi. Bahkan tidak sedikit pula yang kemudian berbalik arah “melompat” ke pihak musuh karena tak kuat menahan tawaran “kepemimpinan” yang diajukan mereka. Mereka “pemimpin gadungan” yang tak punya visi dan misi yang hakiki sebagaimana yang diinginkan Utbah bin Rabi’ah atas Muhammad saw.

Para sahabat binaan Rasulullah saw sangat menyadari makna kepemimpinan hakiki dalam kehidupan mereka sehingga dapat menempatkan kapan mereka harus “menginginkan” suatu kepemimpinan dan kapan mereka “merasa berat” untuk menerimanya.

Suatu saat, ketika akan memberangkatkan pasukan dalam perang Khaibar, Rasulullah saw bersabda, “Sungguh aku akan memberikan bendera ini (menjadi pemimpin perang) kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan Allah akan memberikan kemenangan di tangannya.”

Umar bin Khattab ra berkata, “Sungguh aku tidak pernah mendambakan al-imarah (kepemimpinan) kecuali pada hari itu. Maka aku sengaja memberikan isyarat (dengan wajah yang penuh keinginan) demi mengharap Rasulullah saw memanggil aku untuk memberikan bendera itu.” Namun, Rasulullah saw ternyata memanggil Ali bin Abi Thalib…” (HR Muslim).

Tentu saja keinginan Umar Ra itu tidak didasarkan kepada hawa nafsu duniawi karena risiko yang paling mungkin ditanggung pemimpin perang pada masa lalu adalah syahid terlebih dahulu. Karena dialah yang memegang bendera komando dan berada di barisan yang paling muka berhadapan dengan hadangan dan serbuan musuh. Tetapi, sesunnguhnya syahid adalah impiannya.

Sedangkan ketika harus menerima amanah sebagai Khalifah kaum Muslimin, Umar bin Khattab Ra merasa demikian beratnya sehingga senantiasa merasa khawatir apakah ia masih pada rel yang benar atau menyimpang.

Kompetensi

Kompetensi kepemimpinan yang dibutuhkan pada saat perjuangan adalah keikhlasan, kesabaran dan kekokohan dalam menanggung ujian yang menyulitkan. Tetapi ketika perjuangan itu sendiri telah menghasilkan buah, maka selain ujian-ujian yang menyulitkan datang pula ujian-ujian yang menjanjikan kesenangan (balaaun hasanatun) sehingga pintu-pintu kemewahan dunia terbuka.

Keikhlasan untuk tetap mengharap rahmat dan surga Allah SWT. Kesabaran dalam menghadapi peluang-peluang kehidupan mewah dan penuh sanjungan. Keteguhan untuk tetap bersikap adil dalam mengendalikan kekuasaan yang demikian besar di tangan. Itulah yang dihadapi Rasulullah saw dan kelak akan diwariskan kepada para sahabat-sahabatnya.

Pada periode Madinah, tidak ada lagi siksaan-siksaan yang menghinakan kepada kaum Muslimin sebagaimana di Makkah. Tetapi perang-perang berskala besar terjadi dengan konsekuensi kekalahan dan kemenangan. Kekalahan, meskipun menyedihkan, namun disambut gembira oleh para sahabat karena kematian membawa mereka kepada cita-cita syahid fi sabilillah.

Di sisi lain, kemenangan dengan harta rampasan (ghanimah) yang melimpah-ruah adalah ujian yang tidak mudah dihadapi, terutama ketika mulai terdapat orang-orang yang masuk Islam tidak dengan pemahaman yang mendalam. Harta rampasan perang ini juga yang menyebabkan hancurnya armada kaum Muslimin pada Perang Uhud padahal saat itu kemenangan telah di ambang pintu.

Rasulullah saw sebagai seorang pemimpin yang lahir dari perjuangan dan pergerakan Islam yang panjang sangat menyadari hal ini. Sebagai pemimpin, beliau mengantisipasi kemungkinan perubahan-perubahan sikap para pengikutnya dengan memberikan contoh perilaku keteladanannya.

Umar bin Khattab Ra pernah menangis melihat badan Rasulullah saw penuh tanda-tanda bekas tikar yang ditidurinya, padahal saat itu Rasulullah saw telah menjadi pemimpin besar jazirah Arab yang disegani pihak Romawi dan Persia.

Sikap sederhana ini kemudian menurun kepada Abu Bakar Shiddiq Ra, Umar bin Khattab Ra, Utsman bin Affan Ra dan Ali bin Abi Thalib Ra ketika mereka menjabat sebagai khalifah, pemimpin tertinggi kaum Muslimin.

Sahabat-sahabat yang setia pun tidak mengubah pola kehidupannya meskipun mereka telah menjadi gubernur sebagaimana pidato Utbah bin Ghazwan, Gubernur Bashrah, di hadapan rakyatnya: “…Di masa Rasulullah dulu, kami bertujuh tidak memperoleh makanan kecuali daun-daun pepohonan sampai bibir-bibir kami merekah. Sehelai kain panas ku belah dua lalu ku buat sarung dengan Sa’ad bin Malik. Namun sekarang ini, tiada seorang di antara kami kecuali telah menjadi gubernur suatu daerah. Aku mohon perlindungan kepada Allah agar tiada rasa besar dalam hatiku karena pada dasarnya aku sangat kecil di sisi Allah SWT.” (HR Muslim)

Rasulullah saw dan para sahabatnya adalah pemimpin perjuangan dan bukan pemimpin karbitan yang kemudian menjadi pemimpin aji mumpung gadungan.

Sumber: Hidayatullah No. 03 Tahun XVI/Jumadil Awal 1424

Republished by DPD PKS Sidoarjo