W3vina.COM Free Wordpress Themes Joomla Templates Best Wordpress Themes Premium Wordpress Themes Top Best Wordpress Themes 2012

Wajah Lain Hamas

(Sebuah tulisan lama yang mungkin berguna menambah wawasan. Maaf, bagi yang pernah menerima tulisan ini)

Oleh: Wawan Kurniawan
Kemenangan Hamas memang mengejutkan dunia. Sampai-sampai, harian The New York Times (27/01) menyebut kemenangan itu dengan “bulan sabit telah muncul”. Bulan sabit merupakan lambang Islam yang mendunia. Selain digunakan sebagai simbol Khilafah Islam terakhir, Ustmani, bulan sabit juga digunakan sebagai lambang organisasi kemanusian Bulan Sabit Merah.

Dalam terminologi sejarah, ada dua simbol lagi yang mengimajinasikan dua komunitas besar dunia; salib untuk umat Nasrani dan Bintang David untuk Yahudi.

Saya bukan mempermasalahkan lambang dan simbol itu melainkan image yang menegasikan realita di satu sisi dan di sisi lain mengimpresikan hal yang belum tentu ada. Hal ini terjadi karena ketidakseimbangan pemberitaan dan pencitraan oleh media massa. Imbalansi itulah yang membentuk wajah sesuatu.

Berkaitan dengan Hamas, berkat media massa, ia mendapat porsi buruk dalam benak kita. Membicarakan Hamas berarti membicarakan kaitannya dengan terorisme, kekerasan, bom bunuh diri, pengacau perdamaian, dan citra-citra negatif lainnya. Serangkaian citra itu membentuk wajah “demon” Hamas yang bengis, kejam, dan haus darah

Wajah Lain
Jika lebih cermat mengamati, Hamas sebenarnya memiliki wajah lain yang menawan. Hamas adalah organisasi patriotik yang mengupayakan pembebasan tanah airnya sendiri. Hamas merupakan jaringan sosial (social welfare network) yang membangun banyak masjid, sekolah, perpustakaan, playgroup, dapur umum, klinik, panti asuhan, rumah sakit, balai latihan kerja, dan infrastuktur kemasyarakatan lainnya (Who is Hamas, BBC, 18/04/04; Hamas’ Role in the Palestinian Elections, Council on Foreign Relations, 25/10/05). Hamas juga menekankan pendidikan untuk wanita Muslim. (Artikel 18 Piagam Hamas).

Yang unik, Hamas juga mendirikan klub-klub olahraga (Hamas, Palestinian Islamic Jihad, Council on Foreign Relations, 04/10/05). Hamas lebih dipercaya oleh UNRWA (United Nations Relief and Works Agency) untuk menyalurkan dananya di 27 kantong pengungsi Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Kerjasama “Unik”
Hamas bersedia menjalin bekerjasama dengan kalangan non-Muslim. Contohnya, Hosam al-Taweel, seorang kandidat dari Hamas, yang dipastikan menjadi anggota parlemen (Jawa Pos, 31/01). “Pemilu ini mencerminkan kelahiran sebuah era baru,” kata Taweel (Reuters, 19/01/06). Taweel menjadi salah satu dari 6 orang Kristen dalam parlemen Palestina. Lima orang lainnya merupakan kandidat Fatah.

Adalah biasa jika kelompok sekuler (dalam hal ini Fatah) menjalin aliansi dengan non Muslim. Namun, bila yang melakukan itu merupakan kelompok Islam-meminjam sebutan Jawa Pos-militan radikal, baru luar biasa. Bisa dikatakan aneh.

Sebetulnya tidak aneh. Hamas adalah bagian (wing) dari Ikhwanul Muslimin (IM) Mesir (Artikel Kedua Piagam Hamas). Sedangkan IM merupakan gerakan Islam moderat meskipun sering distereotifkan garis keras oleh media massa (terutama Barat).

Sebuah laporan setebal 567 halaman dengan judul “The Muslim World after 9-11″ yang dipublikasikan oleh Rand Corporation menyebut langkah IM yang mendukung Kristen (Koptik) Mesir menjadi anggoa parlemen Mesir sebagai tindakan “yang tidak dapat dicerna” (hitherto unthinkable) oleh kelompok Islam fundamentalis lainnya. Jangankan oleh Barat yang kerap underestimate, kelompok-kelompok Islam sendiri tidak bisa mengerti langkah IM ini. Ketidak mengertian itu, kadang-kadang, berujung pada penghakiman; tidak menerima dan menuduh IM melakukan bid’ah (sesat).

Kekuatan yang Mengakar
Sistem pemilu parlemen Palestina menganut sistem campuran; gabungan proporsional dan distrik. Oleh karenanya, 132 kursi parlemen terdistribusi menjadi 66 kursi ditentukan berdasarkan proporsional dan 66 berdasarkan distrik. Dari 66 kursi distrik, 6 kursi harus dialokasikan untuk Kristen.

Berdasarkan perhitungan akhir Komisi Pemilihan Pusat (www.elections.ps), Hamas yang mengusung slogan “Perubahan dan Reformasi” (change and reform) mendapat 74 kursi (bukan 76) dengan komposisi 29 dari proporsional dan 45 dari distrik. Sementara, Fatah memperoleh 45 kursi dengan komposisi 28 proporsional dan 17 distrik. Dari komparasi itu, diketahui bahwa tokoh-tokoh Hamas mengakar di wilayah pemilihannya masing-masing.

Palestina terbagi menjadi 16 distrik dengan 11 distrik ada di Tepi Barat dan 5 distrik ada Jalur Gaza. Tepi Barat memiliki penduduk dua kali lipat Jalur Gaza. Tepi Barat lebih sekuler, memiliki perijinan alkohol, dan terdapat komunitas Kristen dalam jumlah besar (St. Petersburg Times, 28/01). Sementara, Jalur Gaza yang religius dikenal sebagai markas pertahanan Hamas.

Yang menarik adalah kemenangan Hamas di distrik-distrik Tepi Barat. Di Jerusalem (dengan alokasi 6 kursi), Hamas memanen 4 kursi dan Kristen mendapat 2 kursi. Di distrik paling utara, Jenin (4), Hamas berbagi dengan Fatah; sama-sama 2 kursi. Hamas mendapat 2 kursi di Tulkarm (3) dan menjadi pemenang di Tubas (1) dan Salfit (1). Hamas mendominasi Nablus (6) dengan 5 kursi dan Fatah 1 kursi. Di Ramallah & Al Birreh (5), Hamas memenangkan 4 kursi dan Fatah (Kristen) 1 kursi. Di kota kelahiran Yesus, Bethlehem (4), Hamas berbagi rata (sama 2)dengan kandidat Kristen dari Fatah. Kemenangan Fatah mutlak terjadi di Qalqiya (2) dan Jericho (1) dengan mengambil semua kursi.

Di Jalur Gaza, jangan ditanya lagi kehebatan Hamas. Hamas menyapu bersih semua kursi di distrik Hebron (9), yang merupakan distrik dengan alokasi kursi terbanyak. Demikian juga di Gaza Utara (5). Di Gaza (8), Hamas mendapat 6 (termasuk Hosam al-Taweel) dan Fatah 2. Hamas mengumpulkan 2 kursi dan Fatah 1 di Deir al-Balah (3). Di Khan Younis (5), Hamas 3 dan Fatah 2. Di distrik paling selatan, Rafah (3), Fatah menang telak.

Kemenangan Hamas dapat dirunut dari pemilu municipal (dewan kota) 2005. Dengan tema kampanye “partners in blood, partners in decision-making” (The Daily Star, 06/05/05), Hamas mulai membuktikan kekuatannya. Di Nablus, Hamas memanen 13 dari 15 kursi municipal. Di Bethlehem yang memiliki 15, dari 7 kursi yang dialokasikan untuk Muslim, 5 kursi direbut Hamas (The Daily Star, 07/05/05)

Siapa bilang kelompok Islam “radikal, militan, fundamentalis, garis keras” tidak dapat menjalin relasi dengan kelompok lain. Eksklusifitas bukan menjadi halangan untuk menjadi inklusif. Benarlah jika seorang teman saya mengatakan, “Semakin fundamentalis ke dalam maka semakin toleran ke luar.”

Dengan melihat beda jumlah suara yang tipis (sekitar 30 ribu) antara Hamas dan Fatah dalam pemilu parlemen 2006, pendulum afiliasi kelompok minoritas hendak bergerak kemana, menjadi menentukan. Dan Hamas terbukti bisa mengartukulasikan itu dengan kepentingannya sendiri. By the way, selamat menikmati kemenangan, Hamas.

*Wawan Kurniawan, Humas DPD PKS Sidoarjo. Tulisan ini merupakan opini pribadi